Bajigur Jajanan Langka, Sekali Muncul Diserbu Pembeli

Bajigur, minuman dari santan dan gula merah, jajanan rakyat lintas generasi yang mulai langka di Jakarta (RRI/Miechell)

KBRN, Jakarta: Bayangkan ketika kamu berjalan di padang gurun dan menemukan oase. Serasa bagai menemukan surga. 

Begitu pula saat berjalan sore hari, lantas tanpa sengaja melihat tukang bajigur mangkal di pinggir jalan sepi di bawah pepohonan rindang. Rasanya itu seperti menemukan benda favorit yang lama hilang.

Gerobak Bajigur Pak Jun (RRI/Miechell)

Bajigur adalah minuman sekaligus jajanan rakyat yang sangat populer di tahun 1970 sampai 1990-an. Tapi sekarang langka bagaikan mobil tua Chevrolet tahun 1969.

Tanpa sengaja, kami berpapasan dengan Pak Jun, tukang bajigur di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT), Jakarta. 

Berperawakan dewasa dengan wajah baby face, Pak Jun baru satu tahun jualan bajigur. Dia tinggal di daerah Cipinang Bali, jakarta Timur.

Pagi hari, dia mulai mendorong gerobak bajigur miliknya ke arah Pondok Bambu. Hari beranjak siang hingga sore, ia menuju kawasan Banjir Kanal Timur dan memilih mangkal di bawah pohon rindang.

Kemudian petang hingga malam hari, ia berdagang di daerah Buaran. Setelah dirasa cukup mendapat omset, barulah ia pulang ke rumahnya.

Jika memetakan rute dagang Pak Jun, sama saja dengan dari Monas, jalan kaki menuju Stasiun Kota, kemudian berputar lewat Pangeran Jayakarta menuju Golden Truly Jalan Gunung Sahari Raya, dan terakhir kembali lagi ke Monas. 

Begitulah kira-kira rute yang ditempuh Pak Jun setiap hari bersama gerobak bajigur miliknya kala mengais rejeki.

"Tinggal di Cipinang Bali. Pagi (dagang) di Pondok Bambu, siang di BKT, sore ke Buaran, baru pulang malam. Saya keluar dari rumah jam sembilan pagi," tutur Pak Jun kepada RRI di kawasan Kampung Cilungup, pinggir Banjir Kanal Timur, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (04/07/2020).

Satu gelas bajigur yang terbuat dari santan dan gula merah dijual Pak Jun seharga Rp5.000. Menurutnya, di wilayah Jatinegara ada satu lagi tukang bajigur, tapi sudah menjual satu gelas seharga Rp10.000.

Pak Jun, Pedagang Bajigur (RRI/Miechell)

"Saya mah satu gelas lima ribu rupiah saja. Gak usah untung gede, yang penting lancar. Ini buat sendiri, bukan ambil di orang lain," katanya menambahkan.

Selain bajigur, ia juga menjual jajanan rakyat seperti ubi rebus, singkong rebus, talas rebus, pisang kukus, dan timus.

Sudah satu tahun ia berjualan bajigur, banyak sekali suka dukanya. Terutama saat Jakarta terkena wabah Corona pertama kali. Omsetnya anjlok banget, menurut Pak Jun.

Jajanan pendamping Bajigur, yakni singkong, ubi, timur, dan pisang kukus (RRI/Miechell)

"Lagi pandemi, anjlok banget. Modal saya saja tidak kembali," ujarnya singkat.

Tapi ada satu hal yang menarik dari Pak Jun. Dengan penderitaan yang dirasakannya saat wabah menerjang Jakarta, ia tidak patah semangat. Asa tetap terjaga. Karena menurutnya, semua yang terjadi adalah nikmat yang harus disyukuri.

"Lagi laku habis ya Alhamdulillah. Kalau lagi sepi, ya jangan mengeluh. Itu saja kalau saya, mah," imbuhnya dengan sangat santai dan tenang sekali.

Pembeli mulai mengerumuni gerobak bajigur Pak Jun (RRI/Miechell)

Tiba-tiba, satu persatu datang pembeli. Pak Jun nampak sibuk melayani.

"Bajigur segelas Rp5 ribu. Singkong Rp2.000 satu bijinya, timur dua biji Rp5 ribu. Pisang juga sama, dua biji Rp5 ribu," ujarnya kepada setiap pembeli dengan ramah.

Seorang anak muda bernama Wahyu nampak antusias membeli bajigur.

"Mantap bajigur. Ini langka nih. Soalnya jarang ada yang jual," kata Wahyu sambil tersenyum penuh semangat.

Bajigur dagangan Pak Jun, dijaga kehangatannya menggunakan bara api dari batok kelapa (RRI/Miechell)

Pak Jun membagikan salah satu tips menghangatkan bajigur dagangannya. Dia menunjukkan dandang kemudian memperlihatkan bara api yang digunakannya. 

"Saya gak pakai kompor gas, tapi itu pakai bara dari batok kelapa, lebih awet api dan panasnya," ucapnya.

Total empat orang yang datang berbelanja saat itu. Dan Pak Jun nampak tersenyum lebar.

"Duh, dari tadi sepi banget. Waktu di wawancara, tiba-tiba ramai. Terima kasih ya," kata dia sambil terus melepas senyum.

Semoga laku terus bajigur dagangannya ya Pak Jun. Tetaplah bersyukur, dan jaga kesehatan saat pandemi seperti sekarang. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00