Jual Sapi Demi Operasional Hotel

Spot-spot foto yang dibangun pelaku pariwisata untuk menarik wisatawan datang berkunjung ke Lakey.
Salah satu spot foto dengan latar belakang sunset yang dimiliki Lakey.

KBRN, Dompu : Selain sektor jasa dan sektor perdagangan, yang paling menderita saat wabah Pandemi Covid-19 adalah sektor pariwisata. Penutupan akses negara-negara untuk berkunjung membuat industri pariwisata di Pantai Lakey, Kecamatan Hu'u, Dompu, Nusa Tenggara Barat, juga terpuruk. Beberapa hotel di obyek wisata yang terkenal dengan ombaknya ini tutup dan sebagian lagi tetap buka, meski dalam tiga bulan terakhir tak satu pun tamu datang.

M Ali, salah satu pemilik hotel di Lakey, mengaku untuk bertahan hidup dan membiayai operasional hotelnya di tengah-tengah pandemi terpaksa harus menjual sapinya.

"Mau gimana lagi, kami harus tetap bayar listrik. Biaya-biaya perawatan hotel ini tidak sedikit," katanya, Minggu (5/7/2020).

Tatanan Kehidupan Baru ini, menjadi angin segar bagi pelaku pariwisata di Lakey. Meski wisatawan manca negara belum diijinkan berkunjung ke Indonesia oleh negaranya, namun wisatawan lokal mulai banyak yang berkunjung. Beberapa inovasi untuk menggaet kunjung wisatawa lokal ini, dilakukan M Ali, untuk bisa membangkitkan geliat ekonomi di Kawasan Lakey.

"Kami membuka spot-spot cantik di pinggir pantai untuk menarik kunjungan wisatawan. Kondisi seperti ini, kami hanya berharap wisatawan lokal," tambahnya.

M Ali meyakinkan, bahwa harga-harga makanan di hotelnya tidaklah mahal seperti gambaran masyarakat selama ini. Tidak hanya itu, untuk menginap juga, tidaklah semahal yang dibayangkan banyak orang. Dihotelnya, harga menginap semalam hanya di bandrol antara Rp400 hingga Rp500 ribu per malam dengan fasilitas layaknya hotel bintang. 

M Ali yang merupakan pemilik hotel Rock Poll ini, untuk menarik kunjungan wisatawan lokal, tiap sepekan sekali akan menggelar live musik di depan hotelnya yang langsung berhadapan dengan Spot Nangas, yang merupakan salah satu spot berselancar yang dimiliki Lakey.

Pembuatan spot berupa bar dan live musik ini, selain untuk mempercantik Lakey demi meningkatkan kunjungan, juga meminimalkan wisatawan lokal yang kerap datang dan membuat Lakey kotor dengan sisa-sisa makanan yang dibawah dari rumah.

"Untuk hal ini, kami berharap ada regulasi dari pemerintah daerah agar sepanjang bibir pantai Lakey, tidak ada orang bakar-bakar ikan atau ayam, sehingga membuat kotor Lakey," pintanya.

Pelaku Pariwisata di Lakey, lanjut Ali, sejak pandemi Covid mewabah hingga masa Tatanan Kehidupan Baru ini,  tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan menyiapkan tempat cuci tangan, menerapkan physical distancing dan mewajibkan pengunjung menggunakan masker.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00