Perang Jeruk, Festival Seru Khas Italia

Festival Perang Jeruk di Italia (Dok. Istimewa)

KBRN, Jakarta: Kalau Spanyol punya festival La Tomatina atau perang tomat terbesar di dunia, Italia juga punya festival yang tak kalah menarik. Festival tersebut ialah Battaglia Delle Arance atau Perang Jeruk.  

Dilansir dari Atlas Obscura, perang yang juga dikenal dengan nama Battaglia Delle Arance atau Carnevale d'Ivrea ini adalah salah satu tradisi tertua yang masih dilakukan hingga saat ini.

Tradisi yang sudah dilakukan sejak abad ke-12 ini biasanya dilakukan di bulan Februari setiap tahunnya di Kota Ivrea, 

Ratusan orang berpartisipasi dalam acara yang digelar selama tiga hari tersebut. Mereka akan saling serang dengan melempar jeruk. Hal itu dilakukan dengan suka cita, tanpa ada rasa kesal antara peserta.  Lebih dari satu juta jeruk dari Italia selatan dan Sisilia digunakan dalam festival ini.  

Tidak ada yang tahu pasti asal-usul tradisi tersebut. Namun, dahulunya terjadi perang saudara antara masyarakat Ivrea dengan Pasukan Kerajaan Napoleon. 

Perang tersebut dipicu oleh peristiwa pemerkosaan gadis muda bernama Mugnaia oleh salah atu aparat pemerintah. Tragisnya, Mugnaia membalas dendam dengan memenggal kepala pemerkosanya.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, orang-orang pun mengadakan festival ini dengan mengganti anak panah dengan buah jeruk. 

Pelempar jeruk yang berperan sebagai masyarakat yang melakukan pemberontakan dengan menggunakan pakaian tradisional yang berwarna-warni, beberapa peserta juga menghias wajah mereka.  

Sementara pemeran tokoh kerajaan menaiki kereta kuda. Kereta kuda tersebut berkeliling kota sambil mengangkut jeruk dan beberapa orang yang menggunakan pakaian tempur kerajaan lengkap dengan helm.   

Festival ini pun menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Bagi mereka yang ingin menonton dari jarak dekat, akan menggunakan pelindung kepala khusus sebagai tanda bahwa mereka adalah penonton. 

Selama peperangan berlangsung tak sedikit dari mereka yang harus menahan rasa sakit dan memar akibat terkena lemparan jeruk tersebut. Meski demikian, tidak ada rasa dendam di antara para peserta setelah perang usai.  

Setelah perang tersebut, festival biasanya ditutup dengan makan besar.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00