Tinggal Cerita, Tradisi Arak-arakan Sapi Terimbas Corona

Warga Musuk Boyolali menggelar sedekah ketupat untuk merayakan Lebaran Ketupat. Foto Dok Tahun lalu.
Sapi milik warga Musuk Boyolali diarak keliling kampung.
Sapi warga yang berukuran besar itu juga menjadi tontonan masyarakat.

KBRN, Boyolali: Tradisi arak-arakan sapi dalam merayakan Syawalan di Kabupaten Boyolali rutin digelar setiap tahun. Tradisi di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, itu telah menjadi turun temurun, bahkan menjadi event budaya dalam menyambut Lebaran Ketupat seminggu setelah Idul Fitri. 

Sayangnya, event budaya tersebut ditiadakan sehingga hanya tinggal cerita untuk tahun ini, dengan alasan menghindari kerumunan massa yang dapat berpotensi meningkatkan penyebaran pandemi virus corona (Covid-19).

"Karena sekarang sedang ada wabah COVID-19, kita ikuti instruksi Pemerintah untuk menghindari kerumunan. Maka tradisi arak-arakan sapi dalam Syawalan ditiadakan dulu," kata Ketua RW 04 Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali, Hadi Sutarno dalam keterangannya pada rri.co.id, Jumat (28/5/2020).

Hadi mengatakan, tradisi angon sapi (menggembala sapi) selalu dilakukan warga Dukuh Mlambong, Rejosari, dan Gedongsari, Desa Sruni. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sekali, digelar di akhir perayaan Lebaran atau di H + 7 Lebaran. 

Tahun ini sedianya dilaksanakan pada, Minggu (31/5/2020). Bertepatan dengan kupatan atau syawalan. Maka oleh masyarakat setempat juga kerap disebut bakdo kupat dan bakdo sapi.

Biasanya, lanjut Hadi, ratusan hewan ternak berupa sapi milik warga setempat dikeluarkan dari kandang, untuk diarak keliling kampung. Sapi yang diarak pun tentunya dibersihkan dahulu dari kotoran, karena dipertontonkan kepada masyarakat.

Sebelum mengarak sapi, warga setempat terlebih dulu menggelar kenduri menggunakan ketupat berikut sayur dan lauknya.

Meskipun ditiadakan, ujar Hadi, namun dipersilahkan jika ada masyarakat ingin mengeluarkan hewan ternaknya secara pribadi.

"Ini kan tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang dan terkait dengan kepercayaan warga, jika ada warga yang secara pribadi ingin angon sapinya keliling kampung, monggo. Yang penting tidak berkerumun, hindari kerumunan," katanya. 

"Berdasarkan kepercayaan warga ketika membawa hewan ternaknya keliling kampung, dalam tradisi syawalan atau bakdo kupat, karena pada hari itu, Kanjeng Nabi Sulaiman memeriksa hewan-hewan ternak milik warga. Sehingga warga pun mengeluarkan sapinya dari kandang dan dibawa keliling kampung," tandasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00