Tradisi Kamomose, Ajang Cari Jodoh Remaja Lakudo

Tradisi Kamomose Warga Lakudo, Kabupaten Buton Tengah, Sultra (Foto :Defrianto Neke/Kompas)

KBRN, Lakudo: Bulan syawal menjadi bulan yang selalu dinantikan warga Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Bagi warga Lakudo selain sebagai ungkapan kemenangan atas ibadah ramadhan, bulan syawal ini juga dimanfaatkan para muda-mudi sebagai ajang mencari jodoh.

Ya, itulah salah satu tradisi masyarakat Lakudo. Setiap tahun setelah Idul Fitiri selalu dimeriahkan dengan tradisi cari jodoh yang dalam bahasa setempat disebut Kamomose.

Kamomose berasal dari kata “Komomo” yang berarti bunga yang hampir mekar, dan kata “Poose-ose” yang artinya berjejer secara teratur.

Sehingga Kamomose diartikan sebuah tradisi dimana para gadis yang menginjak usia remaja duduk berjajar untuk kemudian dikenalkan kepada para pemuda.

“Gadis-gadis yang sudah remaja itu akan dikenakan pakaian adat (pakaian Kamoose) kemudian mereka duduk berjejer, biasanya bisa 20-30 orang. Setelah itu para pemuda datang dan mencari-cari siapa yang menarik perhatiannya,” kata Camat Lakudo Usman saat dikonfirmasi RRI, Kamis (28/5/2020).

Jika pemuda tertarik dengan seorang gadis, ia akan melemparkan kacang tepat mengenai lilin yang telah tertancap di dalam dalam sebuah loyang yang tepat diletakan di samping tempat duduk sang gadis.

Selain kacang, biasanya pemuda juga dapat melemparkan uang, minuman dingin, atau benda berhaga lainnya.

Warga percaya bahwa pemuda yang berhasil memadamkan lilin tersebut adalah jodohnya.

“Kalau sang pemuda telah menemukan gadis pujaannya dan ingin melanjutkannya ke tahap yang lebih serius, maka dia harus bertemu orang tua gadis itu dan mengutarakan tujuannya. Biasanya akan dilanjutkan dengan pertunangan atau perjodohan,” tambahnya.

Acara kamomose ini telah menjadi agenda tahunan. Biasanya tradisi ini dimulai di hari ke Dua lebaran Idul Fitri dan berakhir pada hari ke Tujuh. Lokasi pelaksanaannya pun ditempatkan ditanah lapang atau di halaman rumah warga yang memiliki hajatan.

Sayangnya tahun ini acara cari jodoh ini ditiadakan karena pandemic Covid-19.

“Untuk tahun ini kayaknya tidak ada karena Corona,” tandasnya.

Usman mengatakan tradisi kamomose ini sengaja digelar usai lebaran karena saat itu banyak perantau yang mudik. Sehingga selain merayakan kemenangan dan bersilaturahmi juga sekaligus diberikan kesempatan untuk mencari pasangan hidup.

Namun disisi lain Usman mengakui jika tradisi kamomose yang terselenggara saat ini sudah mengalami pergeseran dari tradisi yang dilakukan orang tua terdahulu.

Evan salah seorang warga Lakudo mengatakan dengan adanya acara tradisi Kamomose ini selain mengeratkan tali silaturahmi antar warga juga meningkatkan gairah perekonomian warga sekitar, karena banyaknya pengunjung selama pelaksanaan Kamomoose itu.

Evan berharap pandemic ini dapat segera berlalu sehingga acara tahunan ini dapat kembali terselenggara.

(Tradisi Kamomose Warga Lakudo, Kabupaten Buton Tengah, Sultra-Foto :Defrianto Neke/Kompas)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00