Mengenal 'Maanta', Tradisi Kuno Melayu Jambi

KBRN, Jambi: Tradisi 'Maanta' menjadi tradisi wajib bagi masyarakat Melayu Jambi. Tepatnya, tradisi ini dikenal oleh Warga Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun saat Hari Raya Idul Fitri tiba.

'Maanta' merupakan kegiatan mengantarkan rantang berisi sejumlah makanan ke rumah sanak saudara. Uniknya, rantang diantar, lalu, si penerima kiriman rantang pun akan membalas dengan mengisi rantang itu kembali. Lucunya juga, berbalas isi rantang itu dengan jenis makanan yang sama di ke empat tingkatannya.

Anak kecil juga menjalani tradisi turun temurun dengan membawa rantang di Jambi.(Dok.RRI.CO.ID)

Tradisi ini dianggap kuno bagi sebagian orang, namun tetap bertahan diadopsi warga setempat. Yang mana makna 'Maanta' sebetulnya jauh lebih luas dari hanya sekadar mengantarkan makanan. Tapi juga, jauh lebih dalam lagi, yakni menjaga dan mengenal silsilah keturunan, serta merajut ukhuwah Islamiyah.

Pantauan RRI.co.id di hari ketiga Lebaran, hilir mudik kendaraan roda dua masih terlihat di seputar Jalan Desa Pulau Melako, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun.

Ada juga dengan berjalan kaki. Terlihat pula minimal ada dua rantang besar yang mereka tenteng di dua tangan. Isi tingkatan rantang paling bawah adalah nasi putih, di atasnya adalah gulai ayam. Agaknya sejenis dan serasa dengan opor ayam. Lalu di atasnya lagi, ada kue basah, dan paling atas ada kue kering.

Tokoh masyarakat Desa Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, Ali Djimat. (Dok.RRI.CO.ID)

Saya juga berkesempatan berbincang dengan tokoh masyarakat desa setempat. Ali Djimat, nama beliau.

Ali Djimat berkisah, tradisi 'Maanta' merupakan tradisi turun temurun yang masih terus dilestarikan. Saking lama usia tradisi ini, bahkan diakuinya, tradisi ini dikenalnya masih di usia mampu mengingat kenangan. Saat ini, ulama terpandang berusia 66 ini mengatakan tradisi ini pun sudah ada.

Dibandingkan dulu, sekarang kata Ali Djimat tradisi ini sudah agak sedikit berkurang. Karena dianggap kuno.

"Intinyo sedekah dan silaturahim. Sejak kami lahir bendo ini sudah ado. (Intinya ini tradisi untuk bersedekah sekaligus silaturahmi. Sejak kami lahir tradisi ini sudah ada)," kata bapak tujuh anak ini memulai berkisah.

Silaturahmi dilakukan untuk selalu mengenalkan anak kepada saudara-orang tua. Baik pihak ibu, maupun pihak ayah. Tradisi ini kata Ali, sangat penting bagi masyarakat Pulau Melako dan Desa lainnya di Bathin VIII.

Terkait susunan isi rantang, kata Ali memang juga sudah ada sejak turun temurun. Namun, dia kurang mengetahui atau tidak tahu persis mengapa harus menu gulai ayam. Mungkin katanya, karena hampir setiap rumah masyarakat dulu itu rata-rata memelihara ayam.

Salah satu menu di "Maanta'.(Dok.RRI.CO.ID)

"Bawo tingkat. Iko nenek, iko paman, jadi memperkenalkan sanak saudaro. Saling kenal mengenal, saling hubung menghubungi. Kini dianggap kuno. Padahal dak, itu lah sebaiknyo dikerjokan. Halal Bihalal. (Bawa rantang. Ini nenek, ini paman, jadi memperkenalkan sanak saudara. saling mengenal, saling menghubungi. Sekarang dianggap kuno, padahal tentu tradisi ini adalah hal yang baik, halal bihalal)," ujar pria yang biasa disapa Haji Abul ini dan mengatakan "Maanta' dilakukan usai menjalankan Salat Ied.

Tidak hanya 'Maanta' tradisi lain yang terus dilestarikan, adalah makan bersama di langgar atau musala. Dimana makanan dibawa oleh para ibu-ibu dari rumah, berupa dua piring nasi dengan dua potong ayam. Ayam yang dibawa merupakan potongan ayam yang paling besar. Rata-rata adalah pada bagian paha.

Sebelum makan, para ulama setempat memimpin pembacaaan juz 30 Alquran yang diikuti para jamaah, serta menutup dengan doa. Pembacaan juz 30 tersebut merupakan cara mengkhatamkan Alquran setelah satu bulan setiap malam sepanjang Bulan Ramadhan. Langgar tersebut terus dihiasi tadarusan, dan tidak sedikit anak-anak ikut dari sekitar desa.

"Kalau kato orang tuo, Melanjo Nenek Moyang. Jadi ado ziarah kubu, sedekah dzikir untuk orang tuo dulu yang meninggal. (Kata orang tua dulu, ini bersedekah pada nenek moyang. Dilakukan dnegan cara ziarah kubur, sedekah dzikir untuk orang yang sudah meninggal." jelas Haji Abul.

Haji Abul mengatakan, di zaman saat ini tradisi 'Maanta' memang agak berkurang, namun ia berharap tidak akan pernah hilang dan terkikis oleh zaman.

"Kalau dulu, 'Maanta' dak akan selesai samapai seminggu. Kalau kini tigo hari lah selesai. (Kalau dulu 'Maanta' baru selesai satu minggu. Kalau saat sekarang, tiga hari sudah selesai," ungkapnya.

Penulis melihat, meski saat ini hiruk pikuk pandemi COVID-19 begitu hebat, namun kearifan lokal masyarakat Pulau Melako masih dijaga. Meski demikian, tentu hal itu tidak terlepas dari daerah itu merupakan daerah dengan zona yang masih hijau pandemi. Jika tidak, tentulah masyarakat akan mengerti jika banyak kegiatan dalam tradisi leluhur mereka. Setidaknya, harus ditunda untuk sementara. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00