Para Seniman Tradisional Beraksi di 'Kangen Manggung'

KBRN, Purbalingga:  Pementasan wayang jemblung dengan ki dalang Sutarko membawa cerita Tumbal Jagad mengawali pementasan daring seniman kangen manggung.

Kegiatan diawaki Dewan Kesenian Purbalingga (DKP) ini bertujuan mewadahi para seniman yang memang lama tidak mendapatkan panggung akibat pandemi Covid-19.

Kegiatan dipusatkan di lapangan tenis belakang pendopo Dipokusumo, dipentaskan tanpa kehadiran penonton. Penonton hanya diperkenankan melihat melalui daring live streaming cannel youtube Dewan Kesenian Purbalingga dan Dinkominfo Purbalingga.

Kegiatan Kangen Manggung berlangsung selama tiga hari ke depan, dibuka bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, Sabtu (16/5/2020).

Dalam sambutannya, Tiwi mengatakan, sangat mengapresiasi pentas daring yang digagas Dewan Kesenian Purbalingga.

"Pendemi Covid-19 mempunyai dampak yang luar biasa, termasuk berdampak pada para seniman lokal Purbalingga," kata Tiwi.

Dikatakan, semenjak munculnya pandemi Covid-19 secara otomatis para seniman tidak berkesempatan untuk pentas, akibat adanya himbauan mengurangi kerumunan massa dan menjaga jarak atau physical distancing.

Kendati begitu, Tiwi mengharapkan, para seniman lokal tetap semangat menciptakan karya-karya besar bagi Purbalingga.

“Kita ingin menyemangati para seniman-seniman lokal Purbalingga, tetap semangat untuk terus menghasilkan karya-karya besar bagi Kabupaten Purbalingga,” ujarnya.

Usai memberikan sambutan, Tiwi menyempatkan, bernyanyi lagu religi bareng Henda Nomi Band dengan judul “Dengan Menyebut Nama Allah”.

Sementara itu, Ketua DKP Bowo Leksono dalam laporan pembukaan mengatakan, peristiwa budaya kangen manggung merupakan sebuah kerinduan para seniman semenjak terkendala menampilkan karya akibat Covid-19 melanda, meskipun sebenarnya tetap berkarya di rumah dan saling bertemu meski melalui grup di aplikasi whatapps.

“Sebenarnya para seniman tetep berkarya meskipun di rumah dan direkam sendiri dengan HP, terus dikirim ke grup WA. sehingga sebenarnya para seniman tetap bertemu meski secara virtual dengan HP dan saling berbagi karya,” kata Bowo.

Bowo mengungkapkan, masalah seniman bukan hanya persoalan fisik mencari hidup, namun lebih pada psikologi. Seniman boleh dikatakan mati ketika telah tidak berkarya meskipun fisiknya masih hidup.

“Kita juga membuka donasi untuk disalurkan bagi kawan-kawan seniman yang terdampak Covid dan tidak bisa obah atau gerak,” kata Bowo yang juga pegiat film pendek Purbalingga ini.

Untuk diketahui, kegiatan kangen manggung juga diselenggarakan dalam rangka mengumpulkan donasi, selanjutnya diberikan pada seniman lokal daerah setempat.

Secara urutan pentas hari pertama kegiatan tersebut diawali penampilan Dalang Jemblung dengan lakon Tumbal Jagad dibawakan Ki Dalang Sutarko, dilanjutkan tari Kiprah Glimpang oleh sanggar tari Citra Budaya, solo organ Martin, atraksi melukis oleh Cune, sajian musik mulut Perwira BeatBox, kentongan Kingsan, dan diakhiri band akustik Pelangi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00