Tradisi Luk-Culuk Sambut Malam Lailatul Qodar

Tradisi Luk-Culuk, Di Desa Langkap, Burneh, Bangkalan (Foto: Miftah)

KBRN, Bangkalan: Memasuki malam 21 Ramadan 1441 H, warga Desa Langkap, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, dari anak usia dini hingga remaja menggelar tradisi luk-culuk yang telah menjadi tradisi turun-temurun dalam meyambut malam Lailatul Qadar, Rabu (13/5/2020).

Culuk berasal dari bahasa Madura jika di Indonesiakan adalah obor, pelaksanaan tradisi luk-culuk dilakukan setelah sholat Magrib, setelah siang harinya mereka disibukkan dengan membuat culuk yang sebagian besar terbuat dari bambu dan pelepah pepaya.

Setelah berbuka puasa dan melaksanakan sholat Magrib, mereka menyalakan obor dengan berkeliling kampung dan bertemu dengan peserta dari kampung lain sambari meneriakkan luk-culuk dengan mengacung-acungkan obor yang di bawanya dan sesekali mereka membakar petasan.

Suara yel-yel luk-culuk dari para peserta mulai bergemuruh dari sejumlah kampung yang ada di Desa Langkap, mereka saling bertemu untuk menandakan dan mengingatkan kepada warga sekitar saat untuk menyambut malam seribu malam yaitu malam Lailatul Qodar.

Menjelang adzan Isyak dikumandangkan mereka kembali ke kampungnya masing-masing untuk bersiap menuju ke masjid dan mushalla terdekat, melaksanakan sholat isyak dilajutkan sholat tarawih dan tadarus.

Salah serorang tokoh masyarakat desa Langkap, Moh Amin mengatakan, tradisi luk-culuk telah ada sejak dirinya kecil dan tetap dilestarikan setiap tahunnya hingga menjadi warisan tradisi pada anak cucunya.

“Tradisi ini bertujuan untuk mengigatkan warga sekitar sudah tiba saatnya menjemput malam lailatul qodar malam seribu malam dengan memperbanyak ibadah dan dan iktikaf di Masjid serta memperbanyak sedakah,” ungkapnya.

Warga lainnya Shohibul mengatakan, dirinya bersama teman-teman sekampung tidak pernah melewatkan momen tradisi luk-culuk tersebut, selain bertujuan mempertahankan tradisi turun-temurun juga sebagai sarana silaturahmi.

“Biasanya jarang bertemu dengan teman di kampung tetangga, dengan adanya tradisi ini bisa bertemu juga sebagi sarana hiburan bersama temen-temen di kampung dan semoga tradisi ini tetap lestari meskipun zaman sekarang sudah serba modern,” ujarnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00