546 Mamalia Laut Berkeliaran Masuk Perairan Indonesia

KBRN, Jakarta : Sebanyak 546 individu mamalia laut muncul atau masuk di Kawasan Perairan Nasional (KKPN) di Perairan Indonesia Timur, berdasarkan laporan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang.

Kemunculan mamalia laut tersebut diproleh berdasarkan hasil monitoring di tiga KKPN, yaitu Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu, Suaka Alam Perairan (SAP) Raja Ampat, dan Taman Wisata Perairan (TWP) Padaido.

"Dari hasil monitoring setidaknya ada 6 jenis mamalia laut yang ditemukan, yaitu Spinner Dolphin, Spotted Dolphin, Bottlenose Dolphin, Risso's Dolphin, Melon Headed Whale, dan Pilot Whale," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Aryo Hanggono dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2020).

Aryo menjelaskan, selama ini monitoring mamalia laut dilakukan untuk mengetahui sebaran dan pola migrasi mamalia laut yang dapat digunakan sebagai acuan dalam meningkatkan strategi pengelolaan KKPN.

Terlebih, berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dua lokasi yang masuk ke dalam wilayah kerja BPKKN Kupang yaitu Laut Sawu dan Laut Banda, memiliki konektivitas berupa jalur atau koridor migrasi beberapa jenis paus.

"Seperti paus biru (Balaenoptera Musculus) dan paus sperma (Physeter macrocephalus)," terangnya.

Dikatakan, mamalia laut memiliki peran penting dalam ekosistem perairan sehingga pemerintah menetapkannya sebagai biota laut yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Selain itu, lanjutnya, Undang-Undang No.31 Tahun 2004 jo UU No. 45 Tahun 2009 tentang Peeikanan juga mengatur tentang konservasi kawasan maupun jenis ikan yang dilindungi.

"Dari aspek regulasi dan tatanan kebijakan sudah cukup komprehensif tinggal bagaimana aset dan kekayaan alam yang bernilai bioekologis, ekonomi dan sosial budaya ini dapat dilindungi, dilestarikan dan memberikan manfaat bagi masyarakat di wilayah pesisir," pungkasnya.

Sementara itu Kepala BKKPN Kupang Ikram M Sangadji menjelaskan, monitoring mamalia laut dilakukan secara periodik (2 kali sehun) dengan melakukan pencatatan waktu, koordinat, jenis, jumlah individu, pola dan arah pergerakan, serta perilaku saat terjadi kemunculan.

Dari data tersebut akan didapat perkiraan lokasi habitat dan alur migrasi mamalia laut sebagai upaya mitigasi dari ancaman terhadap kelestarian mamalia laut dan perlindungan habitatnya akibat aktivitas penangkapan ikan, budidaya laut, pelayaran dan kegiatan lainnya. 

Karenanya, ujar Ikram, mamalia laut seperti paus, lumba-lumba, dan dugong merupakan jenis yang memiliki peran penting dalam ekosistem perairan. 

"Sebagai aset dan kekayaan alam yang bernilai bioekologis, ekonomi dan sosial budaya, mamalia laut harus  dilindungi dan dilestarikan agar dapat dimanfaatkan secara tidak langsung (non estraktif) bagi masyarakat di wilayah pesisir," ungkap Ikram," ujarnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00