Janjang Ampek Puluah Kota Bukittinggi Ikon Pelaku UMKM Batu Akik yang Mendunia

KBRN, Bukitinggi : “Di ateh Janjang Ampek Puluah rami urang maasah cincin, naik bendi di Surau Gonjong…” itulah bagian lirik lagu Sumarak Bukittinggi diciptakan oleh salah seorang musisi minang Imran Boer, mencermati lagu itu keberadaan Janjang Ampek Puluah di kota Bukittinggi sudah begitu familiar hingga ke seantero dunia.

Janjang Ampek Puluah dibangun pada tahun 1908 ketika Pemerintahan Hindia Belanda menghubungkan setiap pasar di daerah ini menggunakan janjang untuk penataan pasar.  Sebenarnya janjang tersebut memiliki lebih 40 anak tangga  terbagi dalam beberapa bagian, jumlah anak tangga  keseluruhan dari paling bawah di trotoar jalan pemuda hingga ke paling atas  adalah 100 anak tangga. Angka 40 menunjukkan jumlah anak tangga yang terdapat pada bagian atas. Terkait janjang ampek puluah tersebut, dalam perkembangannya tidak terlepas dengan aktivitas para pelaku UMKM pengrajin dan penjual batu akik.

Firdaus, warga Tangah Sawah kota Bukittinggi mengatakan dirinya sudah 12 tahun menjalani profesi penjual dan pengrajin batu akik diatas janjang ampek puluah. Menurutnya,  daya beli masyarakat terhadap batu akik ini dipengaruhi minat atau hobi, pasalnya pasca viral di tahun silam  penjualan batu akik mengalami penurunan. Namun, Firdaus mencatat pembeli produk usahanya dilatarbelakangi oleh para pencinta batu akik, pelanggan setiannya. Mengenai lokasi yang ditempati itu, dirinya ingin kelangsungan para pelaku batu akik tetap dipertahankan oleh pemerintah, dikarenakan jika batu akik dipindahkan ke lokasi lain maka ciri khas janjang ampek puluh akan hilang.

Kalau bisa kami satu kelompok, tidak dipisah, satu di depan, satu di belakang, satu tetap di sini, jadi kalau bisa tetap bertahan disini semuanya, iya di janjang ampek puluah ini lah kami berusaha, tetap berlokasi di sini, saling menyambung, ditata baik," ujarnya kepada RRI, Minggu (12/1/2020).

Syafril Nadar yang juga pelaku UMKM batu akik menyebutkan dirinya masih bertahan dengan usaha yang sudah lebih 20 tahun ditekuni itu, walaupun keluh kesahnya disampaikan bahwa turunnya cukup signifikan daya beli masyarakat terhadap batu akik, tidak seperti ketika booming  di tahun lalu. Sama halnya dengan Firdaus, Syafril sendiri masih tetap bertahan berjualan di atas janjang ampek puluh. Lebih jauh dikatakan, dirinya ingin pemerintah daerah mempertahankan keseharian pelaku batu akik di lokasi tersebut.

“Kalau dapat kami kompak semuanya, ditata juga bersama seperti dulu, iya tidak bisa menentukannya, terkadang jual beli Rp 200 ribu, Rp 300 ribu, tertinggi Rp 500 ribu rupiah,” ucapnya.

Dua suara publik itu, ditanggapi positif oleh pemerintah kota Bukittinggi, ditempat terpisah Walikota Ramlan Nurmatias menyatakan bahwa ia meminta agar semuanya tetap mempertahankan kearifan lokal yang ada di daerah ini, seperti halnya di atas janjang ampek puluah ramai orang mengasah batu akik. Tetapi, tetap harus memperhatikan regulasi yang diberlakukan terkait penataan demi terwujud kerapian dan kenyamanan bagi seluruh pihak yang datang berwisata ke Bukittinggi.

“Yang namanya itu (berjualan di janjang ampek puluah) silahkan saja, boleh lah itu kan ciri khas kita, tapi tetap patuhi aturan," katanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00