Semangat Menggapai Asa-Cita-cita Dalam Kegelapan

Sekolah SLB A Beringin Bhakti (Yuli/RRI)
Salah seorang pendidik netra di SLB A Beringin Bhakti (Yuli/RRI)
Suasana makan sahur anak - anak difabel di SLB A Beringin Bhakti (Yuli/RR)

KBRN, Cirebon: Menimba ilmu bisa dilakukan siapa saja, termasuk bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Meski hidup dalam kegelapan tidak mematahkan semangat Indra Rukmana seorang guru netra di Kabupaten Cirebon ini  mendidik murid-muridnya.

Sudah 11 tahun Indra Rukmana menjadi tuna netra. Usianya kini 26 tahun. Meski keterbatasan penglihatan yang ia alami bukanlah tuna netra total , tak ingin menyerah dalam takdir, Indra begitu sapaan akrabnya mencoba bangkit. Ia memilih untuk berkarya dengan menjadi guru Bahasa Indonesia, Seni Budaya dan TIK  di SLB A Beringin Bhakti.

Keteguhan meniti jenjang pendidikan hingga perguruan tinggi menjadi dasar motivasinya untuk bisa menjalani kehidupan.

”Yang pertama pendidikan sebagai modal manusia untuk berubah menuju lebih baik lagi. Dan yang kedua ingin merubah pola pikir yang pertama diri pribadi dan yang kedua merubah pola pikir untuk bisa bagaimana caranya mengaktualisasikan ditengah kehidupan masyarakat,” ungkapnya kepada RRI Senin (10/5/2021).

Di tempat Asrama Yayasan Beringin Bhakti inilah Indra bersama murid-murid yang netra merajut mimpi. Pemuda dengan ragam prestasi bidang akademik, seni dan olahraga ditingkat Jawa Barat , merasakan bahagia ketika apa yang ada dalam dirinya bisa memberi manfaat untuk orang lain.

”Kalau kebahagiaan secara pribadi mungkin iya. Tapi memang masih  ada yang kurang, yang kurangnya tentu Indra masih belum maksimal dalam mengaktualisasikan diri yang ada didalam Indra pribadi. Tentu masih banyak cita-cita yang masih Indra raih untuk kedepan agar kehidupan ini tidak cuma bahagia untuk diri pribadi tapi bagaimana kebahagiaan itu bisa disampaikan kepada teman-teman sekitar juga orang lain,” ujarnya.

Mendapatkan kepercayaan mengajar pada tahun 2017 lalu, menjadi tantangan tersendiri yang harus Indra taklukkan. Apalagi tanggung jawab mendidik murid-murid netra. Aulia Rahmania misalnya. Bagi Aulia, sosok Pak Guru Indra adalah orang yang humanis dan memberi model pembelajaran yang bisa dipahami muridnya.

”Pas pertama baru kenal itu orangnya baik, mudah bergaul terus orangnya ramah juga, eeh cair ngga apa ya, ee kalau guru kan kadang-kadang ada yang kalau serius itu serius banget. Tapi kalau Pak Indra biar pun suka serius banget gitu dtengah-tengah itu pasti ada aja kayak diselipin hal-hal yang biar yang ngga tegang gitu. Mudah dipahami karena beliau suka membuat perumpamaan - perumpamaan yang biar kita itu nangkap tentang pelajaran itu,” katanya.

Sejak bergabung dengan Yayasan Beringin Bhakti tahun 2010, Indra menjadi salah satu sosok pemuda yang diandalkan. Bekal pendidikan tinggi dan berorganisasi adalah nilai tambah bagi Indra. Setidaknya itu diungkapkan Salah seorang pengurus Yayasan Beringin Bhakti Hajah Erna.

”Bunda memang sudah lama di Yayasan Beringin Bhakti ini sudah puluhan tahun loh. Jadi memang tau seperti apa Indra itu dari mulai kecil, sampai dengan sekarang. Seorang yang rajin dan tidak pernah putus asa. Dia ingin kalau dirinya ini harus berguna harus bermanfaat, hingga dia belajar belajar belajar belajar seperti itu. Setelah lulus SMA tetep dia keinginan saya harus kuliah. Apapun anak-anak yang inginkan kami mensupportnya. Akhirnya Indra ini kuliah di Uninus Bandung. Saya bersyukur sekali Indra ini memang kuliah ke Bandung dari panti ke kampus dari kampus ke panti lagi, Alhamdulillah selamat bertahun-tahun hanya berbekal tongkal saja. Banyak yang menolong dijalan. Hingga akhirnya tahun kemarin ini dinyatakan lulus Indra ini sebagai sarjana,” jelasnya.

Kondisi netra bukan berarti hidup harus berakhir dengan kesedihan dan kegalauan, melainkan ada upaya membangun kembali kepercayaan diri dan semangat hidup. Satu tekad yang terus dipegang Indra Rukmana yaitu masyarakat bisa memahami disabilitas sepenuhnya tanpa membelaskasihani namun lebih kepada memberi kesempatan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00