Jazuli Juwaini: Puasa Tingkatkan Soliditas Bangsa

Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini (Foto/rri.co.id/Charlie Reinhard)

KBRN, Jakarta: Radio Republik Indonesia (RRI) Progama 3 menggelar bincang khusus bersama Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI, Jazuli Juwaini pada Kamis (29/4/2021).

Dalam bincang khusus itu mengangkat tema Ramadan sebagai Momentum Menguatkan Soliditas Kebangsaan. Jazuli sebagai narasumber utama mengatakan solat bukan hanya sekedar gerakan rukuk dan sujud tetapi itu adalah gerakan ritualnya ibadah. 

Selain itu, solat juga harus membuat orang itu komitmen kepada dirinya dan tuhannya. Begitu pula dengan haji dan juga puasa. 

Menurut Jazuli, Ramadan dalam konteks memperkokoh kebangsaan itu adalah bagian dari target-target ibadah, agar ibadah-ibadah ritual yang dilakukan dalam masyarakat islam itu tidak hanya selesai pada titik ritualnya, tetapi juga harus memiliki implikasi dan dampak yang besar secara sosial bahkan dalam menata hidup masyarakat dan bangsa.

Menurut Jazuli Adanya kesamaan rasa tersebut dapat membuat solid dan kokoh setiap negara. Terutama jika adanya kesamaan rasa yakni rasa tanggung jawab, rasa solidaritas, rasa memiliki, serta rasa kebersamaan.

"Perasaan itulah yang seharusnya menyatukan umat manusia secara global dan menyatukan kita rakyat Indonesia secara Nasional," kata Jazuli.

Jazuli pun mengingatkan justru kita harus membuka Tabir lebih lebar. Kita harus membuka ruang pemahaman lebih luas dari sekedar ini adalah ibadadah ritual. Meskipun yang kita sampaikan ini merupakan bagian dari hikmah dibalik ibadah ritual.   

"Ibadah ritualnya tidak bisa diganti. Jadi kita perlu tahu apa hikmah dibalik itu semua maka itu perlu dikaji dan nantinya diimplementasikan di dalam kehidupan," pungkasnya. .  

"Dalam waktu yang sama ibadah-ibadah ini juga menjadi lapangan latihan  dari hakekat dan hikmat dibalik ibadah-ibadah ritual itu secara implementatif," sambungnya.

Jazuli juga menjelaskan perihal bulan Ramadan memiliki tiga tahap yakni 10 hari pertama, 10 hari kedua, dan 10 hari ketiga. 

Menurut anggota Komisi I DPR RI itu, ditiap penghujung Ramadan seharusnya setiap orang itu harus semakin baik. Apalagi di pertengahan adanya Nuzulul Quran yang dimaksud diturunkannya alquran.  

"Bagi umat islam alquran merupakan pedoman dalam langkah kehidupan dan petunjuk. Dan juga membedakan mana yang salah dan benar," tuturnya.

Untuk itu, ia berharap agar peringatan Nuzulul Quran ini bukan hanya sekedar ceremony tetapi nilai-nilai yang ada didalam Alquran itu coba diimplementasikan dalam hidup.

"Berharapnya di Nuzulul Quran ini bukan hanya ceremony tetapi ada nilai yang diimplementasikan di dalam kehidupan kita, baik bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," pungkasnya. 

Tak hanya itu, dalam Ramadan juga adanya Zakat Fitrah. Menururnya, Zakat Fitrah telah mengajarkan pemerataan secara proposional tentang distribusi ekonomi. 

"Tidak boleh satu keluarga ini bahagia tetapi keluarga disebelahnya menderita pada ujung bulan Ramadan, maka dari iyu diusulkan zakat fitrah," jelasnya.    Sementara zakat yang diutamakan yakni zakat MAL, yang diprioritaskan yang memiliki hubungan kerabat jangan kita kasih zakat ke orang lain tetapi kerabat terdekat kelaparan.

"Jadi kalau kita mempunyai kerabat yang kebetulan memiliki kekurangan dari sisi materi, dia berhak menerima zakat dari kita tapi kalau kita memiliki kelapngan rezeki," tuturnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00