Kisah Masyithah, si Penyisir Rambut Anak Fir'aun

Ilustrasi (foto:istimewa)

KBRN, Jakarta: Masyithah dalam kisah Nabi Muhammad SAW merupakan seorang penyisir rambut keluarga Firaun beserta anak-anaknya.

Pada malam saat Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan isra’ ditemani oleh Jibril, beliau mencium aroma yang wangi. Nabi bertanya, “Wahai Jibril , aroma wangi apa ini?” 

Jibril menjawab, “Ini adalah aroma Masyithah,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Bagaimana ceritanya?” Kemudian Jibril mengisahkan kepada Nabi, 

Pada suatu hari, tatkala Masyithah sedang menyisir rambut salah satu anak perempuan Fir’aun, tiba-tiba sisirnya jatuh dari tangannya. Dengan seketika dia berkata, “Bismillah (dengan nama Allah).”

Sang Putri bertanya, “Ayahanda?” 

“Tidak! Tetapi Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah,” jawab Masyithah tegas. 

Putri berkata, “Saya akan laporkan kepada ayahanda.” Dia menyahut, “Silakan.”

Fir’aun lantas memanggilnya seraya bertanya, “Wahai fulanah, apakah ada Tuhan selian diriku?”

Jawabnya, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”

Firaun dikenal sebagai penguasa Mesir kuno yang amat kejam. Jika ada orang di sekitarnya yang melenceng dengan kepercayaan, tidak butuh pikir panjang, dia menghabisi nyawa dengan cara yang tidak wajar.

Misalnya saja kisah Masyithah yang dipanggang oleh Firaun gara-gara ketahuan mengakui adanya Tuhan selain Firaun.

Mendengar jawaban itu Fir’aun menjadi berang, lalu memerintahkan anak buahnya agar memanaskan patung sapi hingga meleleh, kemudian menyuruh agar tukang sisir itu beserta anak-anaknya dilemparkan ke dalamnya.

Masyithah berkata, “Sebelum saya meninggal, saya memohon kepadamu satu permohonan.”

“Apa permohonanmu?” tanya Fir’aun.

Dia menjawab, “Saya mohon agar tuan nanti mengumpulkan tulangku dan tulang anak-anakku dalam satu kafan, lalu tuan kuburkan kami.”

Fir’aun berkata, “Itu adalah hal yang sangat mudah.”

Akhirnya, anak-anaknya dilemparkan satu persatu di hadapannya hingga tiba giliran anak bayi yang masih disusuinya. Seakan-akan sang ibu terlambat disebabkan rasa iba terhadap bayinya. Seketika itu bayinya dapat berbicara, ‘Wahai Ibu, masuklah! Sesungguhnya siksaan di dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.”

Ibnu Abbas mengatakan, “Ada empat bayi yang dapat berbicara, yaitu Isa bin Maryam, Shahib Juraij, saksi Yusuf, dan anak Masyithah (tukang sisir) Fir’aun.” (Buy) 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00