Kisah Fatimah Sosok Pengganti Ibu Bagi Nabi Muhammad   

Ilustrasi (foto:istimewa)

KBRN, Jakarta: Fatimah binti Asad radhiallahu ‘anha merupakan seseorang yang paling di sanjung oleh Nabi Muhammad SAW selama hidupnya.

Hal tersebut dikarenakan Fatimah sudah dianggap sebagai sosok pengganti Ibunya yang telah meninggal di usianya ke enam tahun. Fatimah sendiri juga merupakan istri dari Abu Thalib yang merupakan paman dari Nabi Muhammad SAW. 

Fatimah binti Asad adalah seorang sahabat perempuan yang saat wafat dikafani dengan pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah seorang wanita dengan ketakwaan dan keimanan yang kuat. 

Nama dan nasabnya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf al-Qurasyiyyah al-Hasyimiyyah. Ia adalah ibu dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu (Ibnul Atsir: Asadul Ghabah, 7/212). Ibu dari Fatimah adalah Hubba binti Haram bin Rawahah. Juga seorang wanita Quraisy (Ibnu Qutaibah: al-Ma’arif, 1/203).

Fatimah tumbuh besar di masa jahiliyah, di Kota Mekah (az-Zarkali: al-A’lam, 5/130). Ia menikah dengan Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf. 

Dari keduanya lahirlah Ali bin Abu Thalib dan saudara-saudaranya. Yaitu: Thalib, Aqil, Ja’far, Jumanah, Ummu Hani’. Semuanya memeluk Islam (Ibnu Qutaibah: al-Ma’arif, 1/203).

Kedudukan lainnya yang dimiliki oleh Fatimah binti Asad adalah wanita Bani Hasyim pertama yang memiliki putra seorang khalifah. Kemudian disusul oleh Fatimah binti Rasulullah. 

Yang putranya, Hasan bin Ali, juga menjadi seorang khalifah. Lalu Zubaidah, istri Harun al-Rasyid, ibu dari khalifah Abbasiah, al-Amin (Ibnul Atsir: Asadul Ghabah, 7/212). Merekalah wanita-wanita ahlul bait nabi yang melahirkan khalifah. 

Fatimah memeluk Islam di Mekah setelah wafatnya suaminya, Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Kemudian ia bersama anak-anaknya hijrah ke Madinah (Ibnul Atsir: Asadul Ghabah, 3/130). Ia juga seorang periwayat hadits. Ada 40 hadits yang ia riwayatkan dari Nabi Muhammad SAW (Umar Ridha Kahhalah: A’lamun Nisa Fi ‘Alamil Arabi wal Islam, 4/33).

Tidak hanya mengandalkan sisi kekerabatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fatimah juga berusaha menjadi pribadi yang baik. Ia adalah seorang wanita shalihah dan bagus agamanya. 

Di antara bentuk kedekatan Nabi dengannya adalah Nabi sering mengunjunginya dan tidur siang di rumahnya (Ibnu Hajar: al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, 8/269).

Fatimah wafat sekitar tahun kelima hijrah (Ibnu Asakir: Tarikh Dimasyq, 9/41). Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, tatkala Fatimah Ummu Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anha wafat, Rasulullah SAW melepas bajunya dan memakaikannya pada bibinya itu. 

Nabilah yang membaringkan sang bibi di makamnya. Ketika kuburnya sudah ditimbun, orang-orang bertanya:

“Hai Rasulullah, kami lihat Anda melakukan sesuatu yang tidak Anda lakukan kepada orang lain.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku pakaikan untuknya bajuku agar ia memakai pakaian dari surga. Aku masuk ke dalam pembaringannya di kuburnya agar ringan untuknya sempitnya kubur. Sesungguhnya dia adalah makhluk Allah yang paling berbuat baik kepadaku setelah Abu Thalib.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (6935) 7/87).

Dari Anas bin Malik radahillahu ‘anhu, ia berkata, “Tatkala Fatimah bin Asad bin Hasyim Ummu Ali radhiallahu ‘anhuma wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya. Beliau duduk di sisi kepalanya. Beliau bersabda,

رحِمَكِ اللهُ يَا أُمِّي، كُنْتِ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي؛ تَجُوعِينَ وَتُشْبِعِينِي ،وَتَعْرَيْنَ وَتُكْسِينِي وَتَمْنَعِينَ نَفْسَكِ طَيِّبًا وَتُطْعِمِينِي تُرِيدِينَ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ وَالدَّارَ الآخِرَةَ

“Semoga Allah merahmatimu hai ibuku. Engkau adalah sosok seorang ibu setelah ibu kandungku. Engkau merasakan lapar untuk membuatku kenyang. Engkau tak berpakaian (baru pen.) agar aku memiliki pakaian. Engkau tahan dirimu dari sesuatu yang baik untuk memberiku makanan. Semua itu kau lakukan berharap wajah Allah dan negeri akhirat.”

Kemudian beliau perintahkan agar dimandikan tiga kali. Tatkala telah tersedia air yang sudah dicampuri dengan kapur barus, Nabi tuangkan air tersebut dengan tangannya. 

Kemudian beliau buka bajunya dan dikafankan kepada bibinya. Setelah itu dilapiskan di atasnya kain burdah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin al-Khattab, dan seorang budak laki-laki yang hitam untuk menggalikan makamnya.

Saat kedalaman tanah telah mencapai batas tertentu, Rasulullah sendiri yang menggalikan untuknya. Setelah cukup, Nabi turun ke liang kuburnya dan meletakkan sang bibi di pembaringannya. Beliau berdoa:

“Ya Allah Yang Maha menghidupkan dan mematikan. Dialah Allah Yang Maha hidup tidak mengalami kematian. Ampunilah ibuku, Fatimah binti Asad. Bimbinglah dia dalam hujahnya (menjawab pertanyaan kubur pen.). Lapangkanlah untuknya liang kuburnya dengan hak nabimu dan para nabi sebelumku. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang.”

Beliau menshalatkan bibinya dengan empat kali takbir. Dan memasukkanya ke liang lahad bersama Abbas dan Abu Bakar ash-Shiddiq (Diriwayatkan oleh al-Haitsami dalam Mujma’ az-Zawaid, 9/259. 

Dalam hadits ini terdapat Ruh bin Shalah. Seorang yang ditsiqatkan oleh Ibnu Hibban. Namun terdapat kedha’ifan padanya. Sementara perwai lainnya adalah rijal yang shahih. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath 12/351 (871), dan Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya, 3/121). (imr)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00