Kisah Keturunan Nabi Muhammad SAW Mulai Buyut 

Ilustrasi (foto:istimewa)

KBRN, Jakarta: Nabi Muhammad memang  merupakan sosok yang komplit, menarik penampilannya, fasih tutur katanya, mulia pergaulannya, lembut tabiatnya, tak pernah berdusta dan memiliki garis keturunan mulia. 

Sehingga pengakuannya sebagai Nabi tidak dituduh untuk cari tenar. Karena keluarganya sudah terkenal dengan keutamaan. 

Bukan untuk panjat sosial, karena kedudukan sosialnya sudah tinggi sejak buyut-buyutnya. Tidk ada celah bagi orang-orang untuk menolak apa yang ia sampaikan kecuali kesombongan.

Diketahui Nabi Muhammad SAW memiliki silsilah nasab mulia. Ayah, kakek, buyut, dan terus ke atas, masing-masing adalah tokoh dan pemuka di zamannya. 

Mereka semua menduduki tempat mulia di masyarakat Arab, mereka dikenal dengan kebijaksanaan, keberanian, kepemimpinan, kedermawanan, dan se-abrek keutamaan lain. Berikut ini profil singkat dari kakek dan buyut Nabi Muhammad SAW.

Mulai dari Ma’ad yang merupakan seorang keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam yang ahli dalam pertempuran. Tidak satu pun perang yang ia ikuti, kecuali membawa kemenangan. 

Tidak pernah ia merasakan kekalahan, karena besarnya pengaruhnya dan kuatnya ketokohannya, ia sampai dikuniahi Abul Arab (bapaknya Arab).

Yang kedua Nizar yang merupakan seorang yang paling tampan di zamannya. Tak hanya modal ganteng saja, ia juga seorang yang paling menonjol kecerdasannya.

Ketiga mudhar (مُضَر) maknanya madhir (مَاضِر) artinya yang orang yang memberikan bahaya, ia juga dikenal dengan ketampanannya. Setiap orang yang melihatnya pasti jatuh hati padanya. 

Mudhar adalah orang pertama yang menunggang unta sambil bernyanyi. Karena ia pemilik suara emas. Nyanyiannya bertujuan memberi semangat si onta yang sedang menempuh perjalanan di safar yang panjang. Di antara ucapan hikmah yang diriwayatkan darinya adalah 

“Sebaik-baik kebaikan adalah yang disegerakan. Persiapkan diri kalian menghadapi rintangannya. Dan alihkan dari hal-hal yang merusaknya. Karena pembatas antara kebaikan dan kerusakan hanyalah kesabaran.”

Keempat Illyas, bagi masyarakat Arab, kedudukan Ilyas seperti kedudukan Lukman al-Hakim. Seorang bijak yang dikisahkan dalam Alquran. Di antara ucapannya adalah “Siapa yang menanam kebaikan, ia akan memanen kebhagiaan. Siapa yang menanam keburukan, ia akan panen penyesalan.”

Kelima Fihr dialah yang disebut Quraisy dan nenek moyang orang-orang Quraisy. Keturunan Nabi Ismail yang berada di atas Fihr, disebut Kinani (keturunan Kinanah). 

Sedangkan keturunan beliau yang lahir setelah Fihr disebut Quraisy. Semua kabilah-kabilah Quraisy, nasabnya bertemu pada dirinya. Fihr adalah seorang yang mulia lagi dermawan. Ia tidak menunggu orang datang untuk meminta kepadanya.

Keenam Ka’ab merupakan kakek keenam Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Ka’ab pernah mengumpulkan kaumnya di Hari Arubah dan hari yang penuh rahmat. 

Yaitu hari Jumat. Ia menyebut-nyebut tentang akan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berikan kabar pada kaumnya kalau nabi tersebut dari keturunannya. Tak lupa ia perintahkan agar kaumnya mengikuti nabi tersebut.

Ketujuh Murrah adalah kakek keenam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kakek keenam juga dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Pada dirinya pula nasab Imam Malik rahimahullah bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedelapan Kilab, nama sebenarnya adalah Hakim, ada juga yang mengatakan Urwah. Namun ia dilaqobi dengan Kilab (yang artinya anjing) karena sering berburu dengan menggunakan anjing. 

Kilab merupakan kakek ketiga dari Ibu Nabi, Aminah binti Wahb. Pada Kilab-lah nasab ayah dan ibu Nabi Muhammad bertemu. Dialah yang menamai bulan-bulan Arab seperti yang kita kenal sekarang. Membuat pengaturan bulan menunjukkan kecerdasan, kemudian dijadikan rujukan masyarakat Arab setelahnya menunjukkan kedudukan dan pengaruhnya yang kuat.

Kesembilan Qushay dilahirkan pada tahun 400 M, nama aslinya adalah Zaid. Ia digelari Mujammi’ (pemersatu) karena berhasil menyatukan kabilah-kabilah Quraisy di Mekah. 

Sebelumnya, kabilah ini tinggal terpisah-pisah. Mereka membentuk koloni-koloni kecil di puncak-puncak bukit. Kekuatan mereka pudar.

Kesepuluh Abdu Manaf, nama aslinya adalah al-Mughirah. Ia adalah seorang yang rupawan. Orang-orang Quraisy menyebutnya dengan al-Fayyadh (melimpah) karena kedermawanannya yang luar biasa.

Ia juga merupakan kakek keempat dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Dan kakek kesembilan dari Imam asy-Syafi’I rahimahullah.

Kesebelas Abdu Manaf, nama aslinya adalah al-Mughirah. Ia adalah seorang yang rupawan. Orang-orang Quraisy menyebutnya dengan al-Fayyadh (melimpah) karena kedermawanannya yang luar biasa. 

Dia juga merupakan kakek keempat dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Dan kakek kesembilan dari Imam asy-Syafi’I rahimahullah.

Kedua Belas Hasyim, namanya adalah Amr bin Abdu Manaf. Disebut Amr karena tingginya kedudukannya. Di antara anak keturunan Abdu Manaf, Hasyim-lah yang dimuliakan oleh kaumnya dengan pemuliaan setara dengan ayahnya.

Yang terakhir Abdul Muthalib, ia adalah satu-satunya putra Hasyim. Ibunnya bernama Salma binti Zaid an-Najjariyah. 

Sebenarnya, Abdul Muthalib bukanlah nama aslinya, namanya adalah Syaibah al-Hamd artinya uban. Karena saat dilahirkan ada rambut putih di kepala Abdul Muthalib. 

Dinamakan al-Hamd (pujian) karena diharapkan ia menjadi orang yang terpuji di tengah kaumnya. 

Dua belas orang kakek Nabi Muhammad SAW adalah orang-orang mulia, orang-orang berjasa pada bangsa dan masyarakatnya. Belum lagi kalau kita turut sertakan Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim, semakin mulia nasab beliau. 

Saat ini, apabila ada satu orang dari bagian keluarga berjasa, maka masyarakat satu bangsa akan menghargai keturunannya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00