Kisah Zubair bin Awwam, Sang Pengawal Rasulullah

Foto: (Dok. Ist)

KBRN, Jakarta: Zubair yang dimaksud Rasulullah adalah Zubair bin Awwam. Beliau adalah salah seorang sahabat yang mulia dan tidak pernah menduduki jabatan politik.

Zubair adalah tentara sejati. Beliau wafat pada saat pecah konflik di tubuh ummat Islam.

Zubair ditikam saat sedang salat oleh seorang muslim pendukung Khalifah Ali bin Abu Thalib.

Kala itu, saat terjadi perselisihan antara sahabat, dua orang ahli surga dan termasuk orang yang dijamin masuk surga, yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam berada di pihak yang berseberangan dengan Ali bin Abi Thalib.

Kedua orang sahabat Nabi ini, bertolak dari Makkah menuju Bashrah di Irak untuk menuntut ditegakkannya hukum atas para pembunuh Usman. Peristiwa itu terjadi para tahun 36 H, puncaknya, terjadi Perang Jamal.

Berlinang air mata Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu melihat sekedup ibunda Aisyah berada di tengah medan perang, lalu ia berteriak kepada Thalhah, “Wahai Thalhah, apakah engkau datang untuk memerangi pengatinnya Rasulullah, sementara istrimu aman berada di rumah?”

Lalu Thalhah pun terperanjat dengan ucapan tersebut. Ia berlari dari medan fitnah, namun sebuah anak panah lepas dari busurnya dan tepat menyasar urat kakinya. Karena pendarahan dari luka tersebut, setelah beberapa waktu, Thalhah radhiallahu ‘anhu pun wafat.

Ali juga mengingatkan Zubair, “Wahai Zubair, aku memanggilmu atas nama Allah. Tidakkah engkau ingat, suatu hari di mana engkau lalui bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat itu kita berada di suatu tempat, Rasulullah bertanya kepadamu, ‘Wahai Zubair, apakah engkau mencintai Ali?’ 

Kau jawab, ‘Bagaimana bisa aku tidak mencintai anak dari pamanku (baik dari pihak ayah ataupun ibu) dan dia seagama denganku’.

Beliau melanjutkan sabdanya, ‘Demi Allah wahai Zubair, sungguh engkau akan memeranginya dan saat itu engkau berada di pihak yang keliru’.”

Zubair mengatakan, ‘Aku ingat sekarang, dan aku hilaf dari pesan beliau itu. Demi Allah, aku tidak akan memerangimu.” Setelah pergi dari perang fitnah itu, akhirnya saat sedang salat, Zubair wafat dibunuh Amr bin Jurmuz.

Si pembunuh itu pergi kepada Khalifah Ali, dengan maksud melaporkan tindakannya terhadap Zubair, dengan dugaan bahwa kabar itu akan membuat beliau bersenang hati, apalagi sambil menanggalkan pedang-pedang Zubair yang telah dirampasnya setelah melakukan kejahatan tersebut .

Tetapi Ali berteriak demi mengetahui bahwa di muka pintu ada pembunuh Zubair yang minta izin masuk dan memerintahkan orang untuk mengusirnya. "Sampaikan berita kepada pembunuh putera ibu Shafiah itu, bahwa untuknya telah disediakan api neraka!" ujar Khalifah Ali.

Dan ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Sayidina Ali oleh beberapa sahabatnya, ia mencium dan lama sekali ia menangis kemudian katanya: "Demi Allah, pedang ini sudah banyak berjasa, digunakan oleh pemiliknya untuk melindungi Rasulullah dari marabahaya.”

Ali lalu berkata, "Selamat dan bahagia bagi Zubair dalam kematian sesudah mencapai kejayaan hidupnya! Selamat, kemudian selamat kita ucapkan kepada pembela Rasulullah! 

Rombongan Pertama Masuk Islam

Zubair termasuk dalam rombongan pertama yang masuk Islam, karena ia adalah dari golongan tujuh orang yang mula-mula menyatakan keislamannya. 

Kala itu usianya masih belasan tahun. Ada yang bilang 12 tahun, tapi ada pula yang menyebut 15 tahun, saat beliau masuk Islam. Dan begitulah ia telah diberi petunjuk, nur dan kebaikan selagi masih remaja.

Diriwayatkan dari al-Laits dari Abu al-Aswad dari ‘Urwah bahwa ketika Rasulullah saw keluar rumah untuk berdakwah di sekitar Makkah, ada seorang anak muda menenteng pedang di tangannya. Masyarakat Makkah pun terheran-heran seraya mengatakan, “Ada anak remaja yang memegang pedang (al-ghulam ma’ahu al-sayf)!”

Untuk meredakan kegaduhan, Rasulullah segera bergegas menemui anak itu, seraya bertanya, “Apa yang sedang kau lakukan wahai Zubair?”

“Aku datang untuk memukul dengan pedangku ini siapa pun yang menyakitimu wahai Rasul!” jawab Zubair.

Kisah lainnya menyebut, pada saat kaum muslimin di Makkah masih sedikit, mereka selalu bersembunyi-sembunyi di rumah Arqam. Pada suatu hari tiba-tiba tersebar berita bahwa Rasulullah terbunuh.

Seketika itu, Zubair menghunus pedang dan mengacungkannya. Ia mondar mandir di jalan-jalan kota Makkah laksana tiupan angin kencang. la mula-mula pergi meneliti berita tersebut dengan bertekad andainya berita itu benar, maka niscaya pedangnya akan menebas semua pundak orang Quraisy, sehingga ia mengalahkan mereka, atau mereka menewaskan-nya.

Di suatu tempat ketinggian kota Makkah, Rasulullah bertemu Zubair dan bertanya apa yang ia lakukan. Zubair menyampaikan berita tersebut, maka Rasulullah mendoakan kebaikan baginya serta keampuhan bagi pedangnya.

Zubair bin Awwam memang terkenal sebagai sosok yang pemberani dan dijuluki dengan orang pertama yang menghunuskan pedang di jalan Allah SWT (awwalu man salla sayfahu fi sabiilillah).

Meskipun masih terbilang remaja, keberanian Zubair bin Awwam ditopang oleh tubuhnya yang tinggi besar.

Menurut kitab Siyar A’lam al-Nubala digambarkan bahwa ketika Zubair bin Awwam menunggang kuda, maka kakinya bisa menyentuh tanah. Dalam kitab yang sama, dideskripsikan bahwa pribadi Zubair bin Awwam selalu wangi dan rapi dengan jenggot tipis menghiasi dagunya.

Ia salah seorang dari enam ahli syura, yang memusyawarahkan pengganti khalifah Umar bin Khattab. Ini merupakan pengakuan terhadap keilmuan dan kematangannya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00