Kisah Sahabat Nabi Abu Mas'ud Al-Badri

Ilustrasi (foto:istimewa)

KBRN, Jakarta: Uqbah bin Amr bin Tsa’labah, Kun-yahnya Abu Mas’ud al-Badri atau lebih dikenal dengan nama Kunyah merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW.

Gelaran al-Badri adalah gelar terhormat, karena diperuntukkan bagi mereka yang turut serta dalam Perang Badr. Walaupun tidak menyandang status sebagai peserta Perang Badr, Abu Mas’ud punya keutamaan yang tidak kalah hebat. 

Ia turut hadir di Perjanjian Aqobah II. Ia orang termuda yang hadir di sana. Tidak serta dalam Perang Badr, Abu Mas’ud tidak ketinggalan di Perang Uhud dan perang-perang lainnya.

Abu Wa-il menceritakan, “Abu Musa al-Asy’ari dan Abu Mas’ud al-Badr datang menemui Ammar. Ammar telah membuat orang-orang lari dari agama. Keduanya berkata, ‘Sejak engkau memeluk Islam, kami tidak pernah melihat sesuatu yang lebih kami benci daripada sikapmu yang tergesa-gesa dalam permasalahan ini’. 

Ammar menjawab, ‘Sejak kalian berdua memeluk Islam, aku tak pernah melihat sesuatu yang lebih kubenci daripada sikap kalian yang terlalu santai menyikapi hal ini’. Kemudian Ammar memberi pakaian kepada keduanya. Lalu mereka keluar untuk shalat Jumat.

Para sahabat memiliki perbedaan ijtihad dalam menyikapi sesuatu. Perbedaan dalam permasalahan yang furu’ seperti ini terjadi di tengah mereka. Namun mereka tetap berbaik hati. Dikritik pun mereka tetap memberi hadiah.

Hammam bin al-Harits berkata, “Hudzaifah shalat mengimami kami. Ia shalat di tempat yang tinggi. Dan sujud di tempat tersebut. Lalu Abu Mas’ud al-Badri menariknya. Hudzaifah menurutinya. Saat selesai shalat, Abu Mas’ud berkata, ‘Bukankah kita dilarang melakukan ini’? Hudzaifah menjawab, ‘Kau juga telah melihat kalau aku menurutimu’.”

Menunjukkan sikap para sahabat yang cepat sekali kembali pada kebenaran. Menerima nasihat. Dan tidak merasa malu dan gengsi ketika dinasihati. Walaupun di hadapan orang banyak.

Dari ‘Atha dari Salim Abu Abdulah dari ‘Uqbah bin ‘Amr (Abu Mas’ud al-Badri) dia berkata; “Maukah kalian aku ajari cara shalat yang pernah kulihat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”? Kami menjawab, “Tentu.” Lalu ia berdiri. 

Ketika hendak ruku’, ia letakkan kedua telapak tangannya pada dua lututnya dengan merenggangkan jari-jarinya di kedua lututnya. la renggangkan kedua sikunya menjauh dari kedua sisi perutnya. Kemudian mengangkat kepalanya, dan berdiri lagi hingga lurus semuanya. 

Kemudian ia sujud, lalu merenggangkan kedua sikunya menjauh dari kedua sisi perutnya. Lalu ia duduk hingga tenang, kemudian sujud lagi hingga tenang. la melakukan semua itu dalam empat rakaat, kemudian berkata, “Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dan begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat bersama kami.” [HR. An-Nasai 1027].

Basyir bin Amr berkata, “Kami berkata pada Abu Mas’ud, ‘Berilah nasihat’? Ia berkata, ‘Tetaplah menjaga persatuan. Karena Allah tidak akan mempersatukan umat ini di atas kesesatan. Lakukan itu hingga orang yang baik beristirahat (diwafatkan) atau istirahat dari orang fajir (orang fajirnya yang mati).”

Sejarawan berbeda pendapat tentang tahun wafatnya Abu Mas’ud. Ada yang mengatakan tahun 40 H. Dan ada juga yang berpedapat setelah tahun 40 H. Karena Abu Mas’ud sempat menjumpai kepemimpin al-Mughirah bin Syu’bah di Kufah. Dan itu terjadi setelah tahun 40 H. Ada yang berpendapat ia wafat di Kufah. Ada pula yang menyatakan di Madinah. (Buy)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00