Kisah Abu Ayyub Al-Anshri, Generasi Pertama Anshar

Ilustrasi (foto:istimewa)

KBRN, Jakarta: Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Malik bin an-Najjar merupakan nama dari Abu Ayyub atau lebih dikenal dengan nama Kun-Yahya.

Abu Ayyub termasuk seorang sahabat anshar yang pertama kali memeluk Islam. Ia juga merupakan anak dari seorang wannita bernama Hind binti Said bin Amr berasal dari Bani al-Harits bin al-Khazraj.

Abu Ayyub memeluk Islam sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan dia turut serta dalam perjanjian Aqobah. Sebuah janji setia untuk melindungi Nabi kalau beliau datang ke Kota Madinah.

Selain itu, Abu Ayyub meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung. Atau melalui sahabat Ubay bin Ka’ab. Sementara sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits darinya adalah al-Barra bin Azib, Zaid bin Khalid, al-Miqdam bin Ma’di Karib, Ibnu Abbas, Jabir bin Samurah, Anas bin Malik, dll.

Salah satu bukti bahwa dia adalah generasi pertama anshar yang memeluk Islam adalah ke-ikutsertaannya dalam Baitul Aqobah. Ia juga turut serta dalam Perang Badar dan perang-perang setelahnya.

Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama tiba di Kota Madinah, beliau belum memiliki tempat tinggal. Dan di rumah Abu Ayyub-lah Nabi tinggal. Hingga pembangunan rumah dan masjidnya rampung diselesaikan.

Dirangkum dari KisahMuslim.com, Abdullah bin Abbas menceritakan, “Abu Bakar keluar di tengah siang yang panasnya sangat terik. Kemudian ia melihat Umar. 

Umar berkata, ‘Abu Bakar, apa yang membuatmu keluar rumah di waktu seperti ini’? Abu Bakar menjawab, ‘Yang membuatku keluar adalah perut yang sangat lapar’. 

Umar mengatakan, ‘Demi Allah, aku juga. Tidak ada alasan selain itu yang membuatku keluar’.

Saat keduanya sedang ngobrol, keluar juga Rasulullah menemui mereka berdua. Beliau berkata, ‘Apa yang membuat kalian keluar di waktu seperti ini’? Keduanya menjawab, ‘Demi Allah, tidak ada yang membuat kami keluar kecuali perut kami terasa sangat lapar’. 

Nabi berkata, ‘Demi Allah, aku juga. Tidak ada alasan selain itu yang membuatku keluar. Ayo berangkat bersamuku’. Lalu ketiganya menuju rumah Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu.

Dan sudah menjadi kebiasaan Abu Ayyub menyediakan makanan untuk Rasulullah setiap harinya. Setelah itu baru ia menyediakan makanan untuk keluarganya. 

Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakar dan Umar sampai di depan pintu rumah Abu Ayyub, Ummu Ayyub keluar menemui mereka. Ia berkata, “Marhaban wahai Nabi Allah dan yang bersama Anda.” 

Rasulullah berkata, “Mana Abu Ayyub”? Abu Ayyub pun mendengar suara Nabi. Saat itu ia sedang bekerja di kebun kurma di dekat rumahnya. Ia segera datang dan berkata, “Marhaban wahai Nabi Allah dan yang bersama Anda.” Ia melanjutkan, “Wahai Rasulullah, ini bukan waktu biasa Anda datang.” Nabi menjawab, “Benar.”

Kemudian Abu Ayyub pergi menuju kebunnya. Ia potong satu tandan kurma kering, basah, dan yang ranum. Ia berkata, “Makanlah ini, Rasulullah. Aku akan menyembelih hewan juga untukmu.” Rasulullah menanggapi, “Jangan semeblih hewan yang memiliki susu.” 

Ia pun menghindangkan makanan kepada Rasulullah. Rasulullah mengambil potongan daging kambing dan menyelipkannya pada roti. Beliau berkata, “Abu Ayyub, tolong segera antarkan ini menuju Fatimah. Karena sudah beberapa hari dia tidak mencicip makanan seperti ini.”

Saat mereka selesai makan dan merasa kenyang. Nabi berkata, “Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan kurma yang ranum.” Meneteslah air mata beliau. Lalu melanjutkan, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanga-Nya. Ini adalah kenikmatan yang kalian akan ditanya nanti pada hari kiamat.”

Saat kondisi damai, Abu Ayyub adalah seorang petani kurma. Namun saat jihad berkumandang, ia tampil menjadi prajurit hebat. Seorang pemberani. 

Sampai dikatakan tak satu pun perang yang dilakoni umat Islam di masa Rasulullah ada yang ia tinggalkan. Demikian juga setelah wafatnya Rasulullah. 

Pasukan perang terakhir yang ia ikuti adalah pasukan besar yang disiapkan Muawiyah bin Abu Sufyan menuju Konstantinopel. Saat itu pasukan di bawah komando putra Muawiyah, Yazid. Dan Abu Ayyub tak muda lagi. 

Usianya sudah memasuki 80 tahun. Namun semangat juangnya tak luntur gara-gara usia. Di tengah perjalanan, Abu Ayyub sakit. Akhirnya ia wafat sebelum perang berkecamuk. 

Bahkan, wasiat terakhir yang ia sampaikan adalah untuk terus beperang dan membawa serta jenazahnya. Ia minta dimakamkan di pagar benteng Konstantinopel. Wasiatnya pun dikabulkan.

Hijrah dari Mekah menuju Madinah bukanlah perjalanan mudah. Rasulullah harus memulainya dengan berjalan membelakangi arah Madinah. Bersembunyi dan mengendap. Kurang lebih 10 hari, Nabi mengarungi lautan padang pasir. Siangnya sangat terik. Malamnya sangat gelap. Menempuh rute yang bukan jalur biasanya. Karena menghindari sergapan kafir Quraisy.

Sementara di Madinah, orang-orang anshar dan mereka yang lebih dulu sampai tengah menanti. Mereka berdiri bershaf-shaf mulai dari pagi. Berjalan kaki atau di atas tunggangan. 

Dada mereka dipenuhi semangat dan cinta. Wajah-wajah mereka dironai rindu dan cemas. Leher-leher mereka berdesakan dengan leher jenang onta tunggangan mereka. Siap menyambut utusan Allah yang mulia.

Setiap melewati perkampungan ini, para penghuninya memegangi tali kekang onta. Dan menghalangi jalannya agar berhenti. Mereka sangat-sangat berharap onta itu berhenti dan Nabi bisa tinggal bersama mereka. Sambil tersenyum dan berterima kasih, Nabi mengulangi ucapannya, “Biarkan saja onta ini berjalan. 

Sesungguhnya dia tengah diperintah (di tempat mana harus berhenti).” Beliau berdoa, “Ya Allah pilihkan (tempat berhenti) untukku. Ya Allah pilihkan untukku.” Saat tiba di perkampungan Bani Malik bin an-Najjar, onta itu pun berhenti. Kemudian ia berdiri lagi dan memutari daerah itu. Kemudian berhenti di tempat pertamanya tadi. Nabi pun tinggal di sana.

Terpilihlah rumah sahabat Abu Ayyub menjadi tempat tinggal muhajir (orang yang hijrah) yang paling mulia. Rumahnya menjadi tempat tinggal pertama Rasulullah di Madinah. Rumahnya yang terpilih dari sekian banyak orang yang sangat menginginkan agar Rasulullah tinggal bersama mereka.

Al-Walid bin Said menceritakan, “Pada tahun 55 H, Muawiyah bin Abu Sufyan beperang di darat dan lautan. Hingga mereka keluar dari daerah Teluk. mereka bertempur dengan Romawi di pintu bentengnya. Setelah itu mereka kembali.

Saat Abu Ayyub tengah sakit, Yazid datang menjenguknya. Ia bertanya, “Apakah ada yang Anda inginkan, Abu Ayyub”? Abu Ayyub menjawab, “Sampaikan salam dariku kepada pasukan kaum muslimin. 

Katakan pada mereka, ‘Abu Ayyub berwasiat kepada kalian untuk mencapai jarak terdekat dengan pasukan musuh. Dan membawa serta dirinya bersama mereka. Lalu memakamnya di pagar benteng Konstantinopel.”

Al-Waqidi mengatakan, “Abu Ayyub wafat pada tahun 52 H. Dan Yazid mengimami shalat jenazahnya. Ia dimakamkan di kaki benteng Konstantinopel. Sampai berita padaku bawah orang Romawi mencari-cari makamnya untuk membongkarnya.”

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00