Guru Sejarah Banjarnegara Protes Dengan Draft Kurikulum Baru

KBRN, Banjarnegara : Beredarnya draft rancangan kurikulum baru, dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Di dalamnya akan menjadikan mata pelajaran sejarah, bukan lagi sebagai pelajaran wajib di SMA.

Namun sebagai mata pelajaran pilihan dan bahkan di SMK akan dihilangkan sama sekali atau dilebur dengan IPS mendapat reaksi keras. 

Salah satunya dari elemen guru sejarah Kabupaten Banjarnegara. 

Ketua MGMP Sejarah SMA Kabupaten Banjarnegara Heni Purwono menyatakan, kalau draft itu menjadi kebijakan yang diterapkan.

Maka hal itu sangat mencederai upaya pendidikan karakter, yang saat ini justru sedang digalakan. 

Menurutnya, justru dengan sejarahlah karakter siswa akan terbentuk. 

"Dengan pendekatan apa lagi selain sejarah untuk membentuk karakter nasionalisme siswa? Kita menjadi NKRI yang utuh hingga saat ini, karena ada ikatan dan pemahaman sejarah. Para pemangku kebijakan mustinya memperhatikan hal itu" tegas Heni di Banjarengara Jumat (18/9/2020).

Sekretaris Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Banjarnegara itu juga menyebut, jika Kemdikbud membuat kebijkan yang salah garuk jika menghilangkan pelajaran sejarah. 

"Selama ini kan yang dikeluhkan dari pendidikan kita nilai PISA kita rendah. Solusinya saya kira salah kalau dengan menghilangkan atau mengurangi pelajaran sejarah. Kalau mau meningkat, ya perbaiki kualitas pembelajaran, khususnya yang terkait PISA itu. Karena sejak Kurikulum 2013 kan sudah dicoba, hasilnya belum ada kemajuan berarti. Solusinya bukan dengan menepikan mata pelajaran sejarah. Itu seperti gatal di kepala, tapi pantat yang digaruk, tidak nyambung" tandasnya.

Sementara itu sejarawan Universitas Airlangga Surabaya, yang juga Dewan Pakar AGSI Banjarnegara Purnawan Basundoro menilai, posisi sejarah sebagai pelajaran pilihan atau bahkan dihilangkan sama sekali di sekolah akan sangat berbahaya.

Karena identitas bangsa akan luruh dan tidak dikenal oleh anak muda. 

"Saya pikir mata pelajaran sejarah sangat penting untuk generasi muda kita saat ini" ujar Purnawan.

Protes keras terhadap isu tersebut diwujudkan dengan gerakan di dunia maya oleh AGSI berupa petisi pada change.org dengan alamat: http://chng.it/6tMdrrXr, yang sampai saat ini tercatat telah ditandatangani tidak kurang dari 9 ribu orang.( HP).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00