Mengenal Kereta Jenazah Banyumas, Simbol Akulturasi Selama Ratusan Tahun

Kereta Jenazah Banyumas

KBRN, Info Masyarakat : Puluhan orang berkumpul di depan Klenteng Hok Tek Bio Banyumas, namun penglihatan kami, terpaku dengan benda yang ada ditengah kerumunan itu, yakni sebuah kereta yang terparkir didepan area Klenteng.

Kami perlahan menghampirinya, layaknya kereta-kereta kerajaan pada umumnya, kereta ini memiliki bentuk atau design yang sangat vintage, dan kental akan nuansa kolonial. Mungkin kita juga sempat menyaksikanya di serial horror Film Vampir China yang sering kita saksikan.

Struktur kereta itu, didominasi oleh kayu. Namun dalam batin kami terheran, selama 200 tahun, kayu itu tak hancur ditelan zaman. Bahkan menurut kami, ini adalah kayu yang sempurna karena tak terdapat luka sedikitpun pada kayu itu.

Bagian Belakang Kereta

Benar saja, pengelola yayasan Tee Gie Hwe yang memiliki kereta itu Sobita Nanda menjelaskan, Kereta tersebut terbuat dari kayu Jati Hitam, yang kini sudah jarang ditemukan. Sebagai tambahan informasi, kayu jenis ini dizaman dulu, juga sering digunakan untuk bahan kerangka pesawat terbang, pada waktu itu.

“Bahan yang digunakan ini menggunakan kayu Jati Hitam, kini sudah jarang ditemukan, kayu ini sangat kuat sehingga masih kokoh sampai sekarang” terangnya.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, fungsi dari kereta itu merupakan ambulance-nya masyarakat Banyumas pada waktu itu. Karena, masyarakat Banyumas menggunakan kereta ini, untuk mengantar jenazah kerabat mereka, hingga sampai dipemakaman.

Meski dikelola oleh orang-orang Tionghoa, namun dirinya menuturkan, kereta ini menyatukan antara orang Pribumi dan Tionghoa waktu itu, meski berurusan dengan kematian, namun nyatanya kematian ini dapat mempersatukan 2 etnis tersebut. Mereka bahu-membahu satu sama lain dalam urusan kematian.

“Ini memiliki historical yang cukup tinggi, kenapa? Pasalnya dulu kereta ini menjadi symbol akulturasi antar 2 etnis yakni Tionghoa dan Pribumi” jelasnya.

Dulunya, orang yang meninggal di Banyumas akan dibawa menggunakan ambulance tradisional tersebut. Ambulance ini, bertenaga manusia dan setidaknya ada 7 sampai 9 orang, yang harus menarik kereta tersebut untuk sampai ke pemakaman.

Disinilah, proses akulturasi itu terjadi, terjadi perpaduan adat dan budaya dalam satu visi yang bertujuan untuk mengantarkan jenazah, untuk sampai ke tempat peristirahatanya yang terakhir.

Kemudi Kereta Jenazah​​​​

Sobita menambahkan, pria yang kini juga aktif di Klenteng Hok Tek Bio ini menjelaskan system kemudi dari kereta kuno tersebut. Sistem kemudi itu layaknya mobil dimana roda depan menjadi sentral untuk menggerakan kereta, apakah kereta tersebut akan bergerak ke kiri dan ke kanan.

Namun karena penemuan system kemudi seperti stir pada waktu itu  mungkin belum fenomenal, sehingga tuas dan stir belum ditemukan pada kereta itu. Butuh tenaga ekstra memang dalam mengemudikan kereta itu, Kami menyaksikanya langsung dimana 7 hingga 9 orang, tergopoh-gopoh saat memindahkan kereta itu dari Klenteng Hok Tek Bio ke area kantor Kecamatan Banyumas.

“Kemudi dari kereta ini menggunakan tuas besi yang panjangnya kurang lebih 2 meter, itu dimasukan dalam pipa roda depan, untuk memudahkan dalam berbelok” tambahnya.

Terlebih, saat memasuki area Kecamatan yang relative sempit, orang-orang yang mendorong kereta itu, harus mengangkat bagian belakang kereta untuk dapat berbelok ke area Taman Sari. Meski tergopoh-gopoh namun orang-orang yang terlibat dalam proses pemindahan itu cukup membangkitkan semangat gotong royong, dimana ada yang menjadi komando, dan ada yang menggerakan dengan tenaganya.

Spirit Gotong Royong

Spirit gotong royong sangat tercermin pada prosesi pemindahan itu, nampaknya terbayang di pikiran kita, kurang lebih spirit seperti ini yang membuat akulturasi kedua etnis yakni Tionghoa – Pribumi bersatu padu dalam prosesi pemakaman terjadi ratusan tahun yang lalu.

Kini Kereta yang penuh dengan cerita tersebut, sudah berada di area Kantor Kecamatan. Kereta ini nantinya, akan digunakan untuk menarik wisatawan yang ingin menyaksikan benda bersejarah yang telah berjasa kepada masayrakat Banyumas selama berabad-abad. (ARI)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar