Mahasiswi di Kebumen Sulap Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos

KBRN, Kebumen: Kebijakan Stay At Home yang digaungkan pemerintah sebagai salah satu upaya mencegah mata rantai persebaran Covid-19, membuat volume sampah rumah tangga meningkat. Keberadaan sampah ini memantik ide seorang mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) asal Kebumen untuk membuat alat pengolah sampah dari bahan yang bisa didapatkan di sekitar.

Adalah Nashri Maulidah, mahasiswi asal desa Karangtanjung, Alian Kebumen yang berinisiatif mengembangkan Komposter Aerob sederhana berbahan dasar ember bekas cat/bahan kimia dan pipa paralon.

"Dengan menggunakan komposter aerob sederhana, sampah organik yang berasal dari dapur maupun lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk kompos yang bermanfaat bagi lingkungan," jelas Nashri disela-sela membimbing pemuda desanya membuat komposter, Sabtu (4/7/2020).

Komposter aerob sendiri merupakan tempat untuk mengolah sampah yang terbuat dari tong plastik yang dilengkapi paralon yang telah dilubangi sebagai jalan udara masuk untuk mempercepat proses pengomposan. Pengomposan secara aerob menghasilkan CO², H²O, unsur hara, dan sebagian humus yang sangat baik untuk kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman.

"Saya melihat banyak sampah di lingkungan sekitar saya maupun di dapur saya yang menumpuk begitu saja. Oleh karena itu saya berinisiatif mengembangkan alat pengolah sampah sederhana yang bisa dibuat dan digunakan di setiap rumah warga tanpa harus jauh keluar rumah." lanjut Nashri.

Dalam pengembangan komposter ini, Nashri yang saat ini tengah menempuh Kuliah Kerja Nyata ini dibantu oleh bapak dan pamannya sendiri yang berprofesi sebagai buruh harian lepas. Bersama remaja dukuh Sokaprayan yang saat itu sedang libur sekolah karena pandemi covid-19, Nashri memberdayakan mereka untuk membantunya dalam pembuatan kompos organik secara aerob.

"KKN kali ini memang terbilang berbeda dari KKN pada umumnya. Adanya masa pandemi covid-19 ini kami harus KKN secara mandiri di daerah tempat asal kami. Ini peluang untuk saya bisa memberdayakan remaja di daerah saya. Daripada menghabiskan waktu untuk bermain gawai, saya ajak mereka ikut andil dalam pengolahan sampah di rumah masing-masing" kata Nashri lagi.

Ketua RT setempat, Baderi, mengapresiasi program kerja dari mahasiswa UNS ini. Pihaknya berharap kegiatan pelatihan pembuatan kompos ini dapat diajarkan tidak hanya kepada remaja melainkan juga kepada masyarakat Sokaprayan lainnya. Sehingga masyarakat paham dan peduli terhadap pengolahan sampah yang ada di lingkungan sekitar serta dapat diterapkan di lingkungan rumah masing-masing. 

 "Adanya program kerja dari mbak Nashri ini menambah kemajuan di masyarakat sini. Seperti dengan adanya kegiatan pembuatan kompos aerob sederhana ini, dapat meningkatkan pengetahuan remaja terhadap pengolahan kompos”. ungkap pria yang akrab disapa Lik Bad ini.

Melalui alat yang dikembangkan mahasiswi bimbingan dosen Budi Legowo ini, semua sampah dari dapur, kecuali sampah berbahan plastik, bisa dijadikan bahan komposing. Proses pembuatan kompos ini juga terbilang sederhana. Bahan kompos yang telah disiapkan dicacah terlebih dahulu kemudian dimasukkan ke dalam komposter yang telah dibuat. Agar pembusukan berlangsung lebih cepat dan berjalan optimal diperlukan bantuan bakteri yang berasal dari cairan yang dibuat dari campuran EM4, larutan gula dan air (cairan mol). Setelah 25-35 hari sampah tersebut akan berubah warna menjadi kehitaman pertanda kompos yang siap digunakan untuk menyuburkan tanah dan mempercepat pertumbuhan tanaman.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00