Rentang Kisah Wartoyo: Preman, Teroris, Pembina Napiter

wartoyo sedang memperbaiki sepeda motor matic

KBRN, Brebes : Kabut mulai menyelimuti kawasan Kaligua Kabupaten Brebes Jawa Tengah, Wartoyo alias Toyo, alias Abu Toyo alias Preman sedang memperbaiki sepeda motor matik yang berada di bengkel  TM Motor. Tepat berada di samping rumahnya, yang berlokasi di Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan Brebes, atau sekitar 500 meter dari pintu masuk perkebunan teh Kaligua. 

Dengan mempergunakan jaket warna hijau, Wartoyo mengotak- atik mesin motor  metik,  agar bisa digunakan oleh pemiliknya. Sudah tujuh tahun terakhir, Wartoyo membuka bengkel motor dengan penghasilan rata- rata sehari Rp200 ribu. 

Membuka bengkel motor, dilakukan oleh Wartoyo selepas keluar dari Lapas Kelas 1 Kesambi Cirebon Jabar, akibat dirinya terlibat jaringan teroris Jamaah Anshorut Tauhid ( JAT). Kasus Racun Kemayoran, yakni berencana meracuni anggota Polisi di Polsek Kemayoran Jakarta pertengahan Juni 2011. 

Wartoyo yang ketika itu, masih bekerja sebagai sopir mobil ekspedisi. Karena sering keluar masuk perkantoran, untuk mengantarkan barang. Sehingga dalam jaringan teroris Wartoyo bertugas sebagai surveyor, untuk melaksanakan aksi yang disebut oleh jaringan Racun Kemayoran merupakan perbuatan “ amaliyah”. 

“ Saya ini sopir mobil barang, saya juga punya kemampuan otak- atik mesin kendaraan. Sehingga dalam kelompok saya bertugas jadi surveyor, kata orang saya juga pinter berkomunikasi. Sehingga saat survai sasaran tidak curiga,” kata Wartoyo.

Sejumlah kantor Polisi ( Polsek- Polres)  dan Pos Polisi di sekitar Jabodetabek didatangi oleh Wartoyo, diantaranya  Polsek Glodok, Pos Polisi Ketapang, Polsek Kemayoran. 

Hasil dari survai didapati kesimpulan, kantor Polisi yang menjadi sasaran untuk “ amaliyah” yakni Polsek Kemayoran dengan cara meracun makanan yang biasa dimakan oleh personil Kepolisian di Polsek tersebut. 

Beruntung Polisi bisa berhasil menggagalkan aksi mereka di detik- detik akhir menjelang aksi. Satu persatu- satu jaringan Racun Kemayoran ditangkap oleh Polisi, termasuk  Wartoyo. Densus 88 Anti Teror kemudian berhasil menangkap , Santhanam sebagi pimpin aksi. 

Wartoyo kemudian menjalani proses penahanan mulai dari Markas Brimob Kelapa Dua Depok, sempat juga dipindahkan ke Polda Metro Jaya.  

Masa Lalu Wartoyo

Wartoyo kelahiran  Kota Tegal Jawa  Tengah 1977 menjelaskan sebelum dirinya terjun ke jaringan teroris, merupakan anak yang nakal atau lebih dikenal sebagai preman bahkan  sejak usia remaja di kampung halamanya Tegal. Akibat kenakalanya pula, Wartoyo hanya lulus SMP, meski orang tua sempat menyekolahkan ke salah STM di Kota Tegal. 

Selepas drop out  dari STM yang ada di Tegal, ayah dari tiga anak ini, kemudian merantau ke Jakarta. Di perantuan ini kenakalanya semakin menjadi, bahkan sudah masuk dalam ketegori kriminal sedang- berat. Berurusan dengan Kepolisian sudah biasa dialami oleh Wartoyo. 

Pada tahun 2002 Wartoyo menikahi seorang janda beranak satu, warga Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan Brebes. Satu tahun menikah Wartoyo mulai bertaubat dari kenakalan dan perbuatan yang selama ini dijalani di jalanan Ibu Kota. Kehidupanya mulai tertata, dan mencari pekerjaan guna menghidupi istri dan anak tirinya. 

Pada tahun 2006  Wartoyo mulai mengikuti sejumlah kelompok diskuskusi keagamaan, yang berada di wilayah Jabodetabek. Di acara ini, dirinya mengenal sejumlah guru dan teman. Wartoyo mengaku pernah belajar kepada Abu Bakar Bakar Baasyir, dan Aman Abdulrahman. 

Dari kelompok diskusi ini pandangan Wartoyo mulai keras, mengangap kelompok lain di luar kelompoknya sesat. Sehingga harus diperanggi, termasuk kepada Kepolisian yang dianggap sebagai musuh utama di Indonesia. 

Wartoyo Jalani Hukuman

Setelah menjalani persidangan Wartoyo divonis 4 tahun penjara di Lapas Kelas 1 Kesambi Cirebon, di Lapas ini pandangan Wartoyo masih keras dan radikal. Hingga suatu malam dirinya lapar, kemudian mengetok- ngetok tembok penjara untuk berkomunikasi dengan penghuni tetangga sel. Tujuannya Wartoyo meminta makanan, dan rokok. 

Tetangga sel tersebut memberikan mi  instan sebanyak lima bungkus, satu bungkus rokok dan korek api. Esok hari Wartoyo penasaraan, dengan sosok yang memberi mi instan. Setelah sel dibuka untuk kegiatan pagi hari, terlihatlah penghuni sel tetangga yang semalam memberikan Wartoyo mi instan, yang merupakan  WNI keturunan. 

Mulai dari peristiwa tersebut,  sadar bahwa kebaikan bisa datang dari siapapun, sehingga mulai menyadari adanya potensi bahwa orang lain benar tidak hanya kelompoknya saja. 

Selanjutnya timbul, kesadaraan menghormati perbedaan termasuk perbedaan pikiran atau aliran dalam keagamaan. 

Membuka Lembaran Baru

Selepas menjalani masa hukuman pada tahun 2018 Wartoyo kembali kampung halaman istrinya, dengan modal pinjaman kakak iparnya sebesar Rp5 juta. Wartoyo membuka bengkel sepeda motor tepat di sebelah rumahnya di Desa Pandansari, atau sekitar Kaligua Brebes. Usaha bengkelnya mulai berkembang, dengan pendapatan rata- rata setiap hari Rp200 ribu- Rp300 ribu.

Satu tahun menjalani usaha bengkel motor, dirinya sering mendapatkan kunjungan dari Badan Nasional Penangulangan Terorisme (BNPT). Petugas BNPT ini memberikan pemahamaan mengenai ajaran agama yang benar, selain itu Wartoyo juga mendapatkan pelatihan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat mengenai NKRI, menghormati perbedaan dan lainya. 

Merasa bersalah dan ingin menebus kesalahan, sehingga Wartoyo sering mengunjungi  Napi Teroris ( Napiter) yang sedang menjalani masa hukuman. Tujuanya mengajak mereka kembali ke masyarakat, dengan membuka lembaran baru. 

Sejumlah Lapas di wilayah Jawa Tengah bagian barat termasuk Lapas yang ada di Pulau Nusakambangan Cilacap, disambangi oleh Wartoyo untuk menemui Napiter yang akan segera bebas. Tujuan untuk mengajak mereka kembali ke pangkuan NKRI, dan membuat usaha bersama.

“ Jadi ada beberapa ciri kalau Napiter ini, mau kita ajak untuk kembali ke masyarakat. Tidak lagi melakukan aksinya lagi, satu yang paling jelas mereka mau mempergunakan hak- haknya selama dipenjara. Selain itu mereka tidak mengkafirkan selain kelompoknya, pokoknya nga ngeyel,” terang Wartoyo.

Tidak semua Napiter yang akan bebas, atau mereka yang sudah bebas dengan mudah diajak Wartoyo kembali ke NKRI. Dirinya juga kerap mendapatkan cacian, ancamaan pembunuhan dari kelompok atau Napiter yang belum sadar. 

Bahkan beberapa kali Wartoyo, diludahi dari Napiter yang pemahamaan masih keras dan tidak mau kembali ke masyarakat. Namun dengan sabar dirinya, tetap mendekati. Sebab Wartoyo juga pernah melakukan hal serupa kepada petugas BNPT yang menemuinya, saat masih mendekam di Lapas Kelas 1 Kesambi Cirebon.

“ Saya pernah meludahi petugas BNPT, saat mereka mendekati saya. Jadi kalau saya diludahi yah saya senyum saja. Karena mereka belum sadar, persis seperti saya dulu,” jelas Wartoyo. 

Upaya menemui Napiter yang akan bebas, mendapatkan dukungan oleh BNPT, dan juga Kepolisian khususnya Mabes Polri. Selanjutnya Wartoyo mendirikan Paguyuban Podomoro ( Mari Kesini) pada tahun 2019 untuk mewadahi kegiatan mantan Napiter.

Hingga  akhir Agustus 2021, Wartoyo sudah  bisa mengajak  12 mantan Napiter kembali ke NKRI, selain itu mereka juga diajak untuk membuka sejumlah bidang usaha.

“ Napiter kalau sudah keluar dari Penjara mereka ini kasihan, mereka dimusihi oleh tetangganya, rumah tangganya hancur dan lainya sebagianya. Kalau masyarakat terus mengucilkan maka mereka bisa kembali lagi, makanya perlu ada usaha atau pekerjaan bagi mantan Napiter,” ungkap Wartoto di saat ditemui oleh RRI di bengkelnya beberapa waktu lalu. 

BNPT memberikan sejumlah permodalaan, bagi mantan Napiter yang baru keluar dari Lapas.  Sejumlah mantan  Napiter mendapat modal untuk membuka usaha, seperti rumah makan, penjualan daging ayam dan lainya,

Termasuk paguyuban Podomoro, yang sedang membuat usaha wisata atas bantuan berbagai pihak termasuk BNPT. Tujuan memberikan nafkah kepada mantan Napiter, dan memberikan kegiatan positif agar mereka tidak terjerat pada jaringanya.  

Tetangga Wartoyo

Tetanngga Wartoyo yang berada di Kaligua sudah mengenal Wartoyo sebagai mantan teroris, mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sebab selain Wartoyo telah berubah, sikap keseharian Wartoyo juga disenangi oleh masyarakat sekitar Kaligua.

Seperti yang diungkapkan oleh tetanggaWartoyo bernama Suryati, yang  merasa dengan keberadaan Wartoyo dilingkungnya menambah semarak. Sebab selain mudah bergaul, Wartoyo menyantuni sejumlah janda ataupun anak yatim. 

“ Warga di sini sudah pada tahu, Mas Wartoyo dulunya kaya apa. Tapi di sini Mas Wartoyo suka kerja bakti, bantu- bantu, bahkan juga menyantuni janda dan orang miskin. Orangnya juga suka cengengesan, jadi nga ada serem- seramnya,” ungkap Suryati. 

Selain mengajak Napiter untuk kembali ke NKRI, sebagian waktunya Wartoyo mengisi sejumlah seminar, diskusi dan lainya dengan berbagai kalangan, mulai dari pelajar, Mahasiswa hingga ASN. Agar mereka tidak terjerat jaringan teroris, yang menjual angin surga namun menghalalkan darah saudaranya. (RA). 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00