Seorang Nenek Hibahkan Benda Pusaka ke Dinarpusda Banyumas

KBRN, Purwokerto : Sejumlah benda pusaka kuno dihibahkan seorang nenek kepada Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Banyumas.

Rasiti, pemilik benda pusaka tersebut menyerahkan benda kuno berupa tasbih, tombak, keris, guci dan naskah kuno.

Saat dihubungi RRI pagi ini, Kamis (26/11/2020), Kepala Bidang Perpustakaan Dinarpusda Banyumas, Susetya Dwiningsih mengatakan pihaknya belum dapat menerjemahkan isi dari naskah kuno tersebut.

“Nanti kami akan koordinasi dengan beberapa lembaga yang menerjemahkan naskah kuno tersebut. Tidak menutup kemungkinan nanti kami akan menggandeng beberapa akademi untuk bisa turut mencermati itu,” katanya.

Jika dilihat dari bahan yang digunakan, diperkirakan naskah tersebut telah berusia sekitar 200 tahun.

Wanita yang akrab disapa Ning tersebut menceritakan penyerahan benda-benda kuno itu berawal dari kunjungannya bersama dengan Dinarpusda Provinsi Jawa Tengah untuk mencari barang-barang peninggalan untuk diterjemahkan. Mereka mengunjungi beberapa tempat, salah satunya adalah kediaman Rasiti.

Rasiti lalu berdiskusi bersama pihak keluarganya yang menghasilkan keputusan untuk menghibahkan benda-benda pusaka tersebut.

“Surat tertanggal 5 Maret 2020. Namun karena Covid-19 jadinya terputus lama. Sebenarnya sudah lama ingin diserahkan,” jelas Ning.

Dalam proses penyerahan benda kuno tersebut Ning mengaku sangat berhati-hati. Hal tersebut dilakukan karena sebelumnya pernah terjadi beberapa kasus yang berkaitan dengan hibah benda-benda bersejarah.

“Kemarin ada cerita juga naskah kuno yang dibawa orang ternyata bukan dari dinas. Dilacak tidak ketemu. Masyarakatpun akhirnya takut juga,” ujarnya.

Untuk itu Ning meminta masyarakat yang memiliki benda-benda bersejarah untuk berhati-hati apabila hendak menghibahkan benda tersebut.

Terpisah, Sejarawan dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Prof. Sugeng Riyadi mengungkapkan memang ada beberapa benda bersejarah yang masih berada di tangan masyarakat, termasuk naskah kuno.

“Misalnya di Pasir Kulon, kemudian di Desa Kediri juga ada, di Kalibening, di Dawuhan juga masih ada. Jadi banyak orang yang menyimpan, hanya pemerintah terlambat memberi perhatian. Makanya banyak naskah-naskahnya yang sudah rusak,” katanya.

Ia juga membenarkan adanya beberapa pihak yang mengatasnamakan pemerintah untuk meminta benda-benda bersejarah dari masyarakat untuk dijual.

“Seringkali banyak orang memakai atas nama lembaga, nanti kalau diserahkan belum tentu orang itu jujur. Seringkali oleh orang itu malah dijual kepada orang asing,” ujar Prof Sugeng.

Ia mencontohkan peristiwa tersebut pernah terjadi di Kabupaten Cilacap.

“Juru kuncinya kena tipu, mengaku orang Dikbud Cilacap tetapi setelah ditelusuri ternyata bukan. Sampai hari ini manuskripnya hilang tidak diketahui dimana rimbanya,” lanjutnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut masyarakat pemilik benda bersejarah diminta lebih kritis apabila ada seseorang yang mengaku dari lembaga pemerintah dan meminta benda bersejarah miliknya.

Prof Sugeng juga menyarankan agar pemerintah secara aktif menginventarisir semua benda bersejarah yang masih di tangan masyarakat.

Jika misalkan sang pemilik masih keberatan untuk menghibahkan, pemerintah dapat memotret atau memfotokopi benda bersejarah tersebut sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan masih tersimpan dokumentasi dari pusaka kuno tersebut. (YN)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00