Potensi Garam Digalakkan Guna Angkat Perekonomian Rakyat

KBRN, Purwokerto : Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki laut yang luas. Berdasarkan fakta tersebut, seharusnya bukanlah hal yang sulit untuk dapat mencukupi kebutuhan garam nasional.

Nyatanya saat ini produksi garam nasional hanya sekitar tiga juta ton per tahun. Jumlah tersebut dinilai masih kurang mengingat kebutuhan garam nasional per tahunnya mencapai lima juta ton.

“Kekurangan dua juta ton tersebut mengharuskan Indonesia mendatangkan garam dari negara lain,” kata Pengusaha Garam Rakyat, Beni Suharsono, S.E., MM dalam dialog di Studio Pro 1 RRI Purwokerto, Kamis (17/9/2020).

Beni menyebut garam sebagai komoditas yang sangat menguntungkan dibandingkan  komoditas lainnya. Dengan meningkatkan produksi garam dapat mengurangi kebutuhan impor karena stok garam nasional meningkat.

“Potensinya suatu saat bisa ekspor. Kami upayakan meningkatkan sisi produktivitas maupun kualitas. Kami sudah menemukan teknologi untuk bisa bersaing dengan garam impor,” lanjutnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut khususnya dalam bidang pemasaran, Beni mengaku telah menjalin kerjasama dengan tiga pabrik besar sekaligus.

“Pabriknya ada di tiga kota, yakni Pati, Sampang dan Cirebon. Harapannya stok garam nasional bisa tercukupi,” tambahnya.

Lebih lanjut Beni mengharapkan kerjasama dari pemerintah untuk dapat menentukan batas harga minimal garam agar kesejahteraan para petambak garam dapat terlindungi.

Sementara itu, salah seorang pelaku usaha garam asal Kebumen, Puji Santoso mengungkapkan, saat ini para petambak garam di wilayahnya tengah bersemangat dalam memproduksi garam.

Bahkan tidak sedikit pemilik tambak udang yang akhirnya beralih dan memulai usaha tambak garam.

“Rata-rata beralih dari tambak udang ke garam karena resikonya kecil,” ujarnya.

Puji menyebut, tempatnya memproduksi garam saat ini telah dilaunching sebagai “Kampung Garam”.

Turut hadir dalam dialog yang bertemakan “Tata Niaga Garam Berbasis Perekonomian Rakyat” tersebut Dewan Pengawas LPP RRI, Hasto Kuncoro. Menurutnya, ceruk pasar industri garam di Indonesia masih sangat luas. Untuk itu, Ia memiliki program untuk mendorong para angkasawan-angkasawati RRI yang menjelang purna untuk dapat memulai bisnis garam.

“Walaupun sudah mau purna tapi harus tetap punya semangat. Kenapa tidak bagi teman-teman yang mau purna dibekali dengan jiwa wirausaha,” terangnya.

Hasto menyebut manfaat garam tidak hanya untuk kebutuhan konsumsi atau bumbu dapur saja. Ada berbagai jenis garam yang tiap jenisnya memiliki manfaat tersendiri.

“Ada garam kesehatan, garam kecantikan dan sebagainya. Garam juga bisa membantu pemerintah guna mencegah virus corona. Upaya pencegahannya cukup berkumur menggunakan garam yang idcampur air hangat,” tutup Hasto. (YN)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00