ACT Purwokerto Adakan Program Bantuan Beaguru Guru Prasejahtera

KBRN Purwokerto: Profesi termulia dimuka bumi salah satunya adalah guru, dari pengabdian mereka banyak lahir cendekiawan-cendekiawan cemerlang ternama dan meningkatnya kehidupan masyarakat dari bertambahnya wawasan pengetahuan yang diberikan. 

Namun banyak kehidupan guru yang masih dalam lingkup prasejahtera, berpenghasilan kecil dibanding kebutuhan hidup yang ditanggungnya hal demikianlah menjadi refleksi bagi semua kalangan untuk Pendidikan Indonesia. 

Hari ini Jum’at (6/12/2019) Aksi Cepat Tanggap Purwokerto akan menyerahterimakan bantuan beaguru dari program Sahabat Guru Indonesia. Melalui program Sahabat Guru Indonesia, para guru prasejahtera di sekitaran wilayah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen,- red) akan menerima beaguru untuk menunjang ekonomi mereka.

Tri Ageng Santoso selaku Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap  (ACT) Purwokerto mengatakan Program Sahabat Guru Indonesia  akan memberikan tunjangan kepada guru-guru dengan keterbatasan ekonomi di sekitaran wilayah Barlingmascakeb, terlebih mereka yang masih berpenghasilan rendah dan tidak menentu. 

Diharapkan semoga program ini dapat menyemangati para guru dan pendidikan sekitaran Barlingmascakeb bisa menjadi lebih baik.

“Para guru yang sudah kami data adalah para guru yang kehidupannya masih dilingkup rasejahtera, dimana penghasilan mereka masih sangat minim untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sekeluarga. Program Sahabat Guru Indonesia ini adalah sebuah apresiasi yang diberikan untuk para pahlawan tanpa tanda jasa yang mengabdikan diri bertahun-tahun mengajar mencerdaskan anak-anak bangsa,” ujarnya.

Menjadi guru berpenghasilan rendah dialami oleh Herni Widiawati (38) salah satu pengajar di TK Diponegoro 1 selama 11 tahun dengan penghasilan Rp. 350.000 per bulan. 

Dan itu baru naik beberapa bulan yang lalu. Sang suami yang berprofesi sebagai tukang vermak pakaian di Pasar Pon, dengan penghasilan tidak menentu. Dan masih  menempati rumah nenek dari suaminya. 

Selain mengajar di TK Diponegoro 1 sebagai penghasilan tambahan Herni juga usaha online shop berupa baju muslim namun itubelum cukup  untuk menutupi kekurangan kebutuhan sehari harinya.

Keadaan demikian juga dirasakan oleh  Puji Setyarini (49) asal Cilongok Banyumas , sudah mengabdi selama 26 tahun di TK Diponegoro 99, sudah 5 tahun menderita sakit ginjal yang mengharuskan cuci darah 2 kali seminggu dengan biaya BPJS.

Sementara suami mencari nafkah dengan berjualan makanan kecil yang dititipkan ke warung-warung. 

Ada pula sang pendidik mulia bernama  Triani, yang sudah mengajar di SDN 1 Pekaja selama 10 Tahun dengan honor yang hanya Rp 600.000 perbulan. Menjadi orang tua untuk ke 3 orang anak-anaknya, seorang diri beliau mengurus dan menafkahi anaknya. 

Hal yang sungguh luarbiasa bagi seorang guru dan seorang ibu tanpa tidak pernah mengeluh.

Demikian halnya gambaran kehidupan yang dijalani oleh Durrotun Nasikhah (50) 28 tahun mengajar TK Diponegoro 37 Cilongok Banyumas, dengan penghasilan kurang dari 500ribu perbulannya harus diusahakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Sujada Abdul Malik Staff Program ACT Purwokerto mengatakan adanya progam Sahabat Guru Indonesia ini para guru prasejahtera akan menerima bantuan biaya untuk menunjang ekonomi mereka. Adapun kriteria guru yang menerima manfaat dari program ini adalah mereka yang berpenghasilan di bawah Rp1 juta (termasuk guru honorer dan guru tahfiz), berasal dari wilayah prasejahtera, dan memiliki dedikasi mengajar yang tinggi untuk siswa-siswanya.

“Untuk gelombang pertama ACT Purwokerto akan menyalurkan bea guru kepada 20 orang pendidik, dan akan berlanjut nanti pada gelombang berikutnya. 

Total ada 1000 guru se Indonesia yang menerima beaguru tersebut,” pungkas Sujada. (spj)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00