Monumen Poedjadi Djaring Bandajoeda, Mengenang Pertempuran Pejuang Melawan Belanda di Gunung Lurah

KBRN, Banyumas : Abdul Basir  yang kini berusia 87 tahun warga RT 8 RW 1 Desa Gunung Lurah Senin ( 15/8/2022) masih mengingatkan dengan betul peristiwa pertempuran antara pasukan Belanda dengan Pejuang Kemerdekaan yang tergabung Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR)   dipimpin oleh Perwira Poedjadi Djaring Bandajoeda . Senin Wage di tahun 1948 dirinya pada waktu berusia sekitar 13 tahun, sedang berada di rumah. 

Tiba- tiba kakak perempuanya, yang pada saat itu sedang di sawah yang berada di Dusun Bandayuda, melihat ke bawah ada pasukan Belanda sedang menyebarang  Sungai Prukut dari Cilongok. Selanjutnya kakak perempuan Abdul Basir, melaporkan OPR yang saat itu berada di Gunung Luruh Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. 

Mendapatkan laporan dari warga, selanjutnya pasukan Poedjadi bersiap membuat jebakan, pasukan OPR yang berjumlah ratusan orang di sebar di tiga titik membuat barisan tapal kuda. Sehingga mudah melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda. 

Menurut Abdul Basir dirinya mulai mendengarkan suara tembakan sekutar jam 8 pagi, selanjutnya terdengar tembakan beruntun dari kedua belah pihak. Menjelang siang dirinya, bersama dengan sejumlah orang warga Gunung Lurah membantu pasukan OPR mulai dari memberikan makanan hingga membawakan peluru yang dari markas OPR di dalam Desa Gunung Luruah ke lokasi pertempuran. 

“ Saya melihat banyak sekali tentara Belanda itu pada mati, sekitar dua kompi habis semua. Hanya ada beberapa pasukan Belanda yang masih hidup, dia yang membawa yang mati untuk di bawa ke Marskas Belanda yang berada di Dusun Karangandul Desa Babakan Kecamatan Karanglewas. Kalau tentara Indonesia hanya satu yang terluka pada bagian kali yang terluka,” kata Abdul Basir. 

Sementara itu Kepala Dusun II Desa Gunung Lurah Suyanto Azhari mengatakan, pertempuran ini terjadi karena pada Agresi Belanda ke-II wilayah kota Purwokerto dikuwasai oleh Belanda. Sehingga pejuang kemerdekaan bertahan di pingir hutan wilayah Banyumas, seperti Gunung Lurah. 

Pasukan Belanda secara rutin melakukan patroli, sehingga dilakukan penghadangan oleh pasukan yang dipimpin oleh Poedjadi. Perang berlangsung dari Pagi- Sore hari, setelah Magrib tiba- tiba wilayah Gunung Lurah ditembak peluru canon sehingga sejumlah warga terluka dan meninggal dunia.

“ Kata bapak saya warga Gunung Lurah sebenarnya nga pada takut ketika, ada pertempuran. Namun pada saat magrib tiba- tiba ada Canon yang ditembakan dari Purwokerto ke Gunung Lurah, sehingga mengakibatkan warga meninggal,” kata Suyanto.

Lanjut Suyanto setelah menang pasukan Poedjadi membuat monument sederhana, di lokasi pertempuran berupa Bambu Runcing. Selanjutnya saat Poedjadi menjadi Bupati Banyumas, dibuat monument berupa tuggu dengan tinggi sekitar 3 meter yang berada di lokasi pertempuran atau pintu masuk Desa Gunung Lurah.

“ Monument ini menjadi penanda agar generasi penerus di Gunung Lurah tahu, bagaiman beratnya mempertahankan kemerdekaan. Biasanya kalau 17 Agustus ada sejumlah organisasi yang melakukan perenungan di tunggu tersebut,” kata Suyanto. (RA). 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar