Moderasi Beragama Murni Dilahirkan Puslitbang Bimas Agama

KBRN, Purwokerto: Moderasi beragama murni dilahirkan dari Kantor Puslitbang Bimas Agama, hal itu diungkapkan oleh Kasubag TU Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Rizki Riyadu Topik STh MA dalam acara Seminar Nasional dalam rangka Pra Muktamar Muhammadiyah Ke-48 Tahun 2022 bekerjasama dengan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI . 

Acara yang bertajuk "Moderasi Beragama dalam Perspektif Dakwah" itu digelar di Aula AK Anshori Gedung Rektorat Lt 3 Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jum’at (1/7/2022).

Menurutnya, tepat di tahun 2019 para peneliti Puslitbang Bimas Agama dan di back up oleh perwakilan semua ormas Islam yang ada di Indonesia, bahkan ormas lintas agama menggagas moderasi beragama

“Muhammadiyah bagi kami menjadi penting, karena kita sudah sehati. Kami Kementrian Agama yang menggagas tentnang nilai-nilai moderasi beragama tidak akan bisa sukses apabila kita tidak di back up oleh ormas keagamaan besar yang ada di Indonesia. Karena itu, wajib ada Muhammadiyah dan NU,” jelasnya. 

Menurutnya, moderasi beragama itu adalah apa yang sehari-hari sudah dilakukan di masyarakat. Saat kita mau menghargai orang yang berbeda dengan kita, saat kita patuh kepada peraturan yang ada. Saat kita menghargai budaya yang berbeda, dan saat kita tidak suka dengan kekerasan, itulah moderasi beragama. 

“Alhamdulillah saat ini moderasi beragama bisa diapresiasi. Kita lahirkan moderasi tahun 2019 dan hingga saat ini lahirnya itu melahirkan pro kontra, dan itu suatu yang wajar. Dari kelompok NU, Muhammadiyah gencar mengkampanyekan, tapi ada sedikt kelompok yang menganggap bahwa moderasi beragama ini jangan-jangan Gerakan dari Islam liberal,” katanya. 

Anggapan moderasi Agama adalah gerakan Islam liberal, menurut Rizki, ini kemudian yang harus diluruskan. Itu mungkin karetna ketidak pahaman, belum masifnya kampanyekan nilai-nilai moderasi beragama pada masyarakat umum. 

“Alhamdulillah dengan sepirit yang terwujud dalam moderasi beragama, hingga hari ini kantor kami sudah menghadirkan lima Bahasa. Yakni, bahas Inggris, Arab, Tiongkok, Jerman, dan Indonesia,” jelasnya.  

Dijelaskan, tahun ini akan menambah tiga Bahasa lagi, pertama Bahasa Jepang, kedua Bahasa Belanda, dan ketiga Bahasa Prancis. 

“Lahirnya buku moderasi beragama Bahasa asing ini diapresiasi oleh Dubes Amerika dan Dubes Uni Eropa, serta mendapat respon positif dari negara-negara Islam. Karena yang kita tawarkan lebih kepada kemanusiaan, humanisme, keagamaan, yang menolak kekerasan. Itu adalah moderasi beragama,” pungkasnya. (tgr/spj)

BACA JUGA: Bersama Litbang Kementrian Agama, FAI UMP Gelar Seminar Pra Muktamar Muhadiyah ke 48 “Moderasi Beragama Dalam Perpesktif Dakwah

BACA JUGA: UM Purwokerto Bersama PTMA Se Indonesia, Siap Sukseskan Muktamar Muhammadiyah & Aisyiyah Ke 48

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar