Ini Kata Ahli Geologi Unsoed Terkait Gempa Banten

KBRN, Purwokerto : Gempa beberapa kali mengguncang Banten dalam kurun waktu 3 hari. Potensi terjadinya gempa selalu ada, untuk itu masyarakat diminta untuk dapat selalu siap dan siaga ketika terjadi bencana.

“Selanjutnya pengetahuan masyarakat akan mitigasi kebencanaan juga harus diperkuat,” ungkap Ir.Alief Einstein,M.Hum. usai bincang-bincang dengan Dosen Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik Unsoed Dr.Ir.Asmoro Widagdo,ST.,MT.,IPP.

Ahli Kegempaan Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsoed Dr.Ir.Asmoro Widagdo,ST.,MT.,IPP. memaparkan bahwa gempa berskala 6,6 yang terjadi pada 14 Januari 2022 lalu bukanlah hal yang mengejutkan terjadi di selatan Banten.

Area ini memang merupakan kawasan dengan tektonik yang sangat komplek. Menurut Asmoro yang juga anggota Pusat Mitigasi Bencana Unsoed, setidaknya terdapat 3 (tiga) sumber patahan yang dapat dikenali :

Pertama, patahan-patahan naik hasil penunjaman lempeng Samudera Hindia di bawah Banten menciptakan ancaman gempa besar yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Tidak seperti di bagian timur dan barat area ini, zona akresi patahan naik bawah laut ini sangat dekat dengan Banten tanpa di pisahkan oleh cekungan depan busur kepulauan (fore-arc basin), menjadikan gempa dangkal terjadi sangat dekat dengan Banten.

Kedua, jalur patahan mikro-kontinen Jawa Barat dan mikro kontinen Banten di laut sebelah baratdaya Pelabuhan Ratu menjadi ancaman gempa bawah laut hingga darat.

Ketiga, di sebelah barat terdapat ujung patahan Sumatra yang membentuk zona patahan turun di Selat Sunda menciptakan ancaman gempa dan tsunami tersendiri.

Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Asmoro menjelaskan bahwa melihat kemungkinan skala gempa dan konstelasi patahannya, ketiga jalur patahan ini memberikan kemungkinan akan terjadinya pembentukan tsunami.

“Pada area ini juga menjadi poros perputaran Pulau Jawa dengan arah berlawanan jarum jam, dimana Sumatra dan Jawa pada mulanya berada pada arah kelurusan yang sama yakni berarah baratlaut hingga sekarang terjadi pembelokan di area ini,” katanya.

Kemunculan volkanik bawah laut menambah kompleksitas ancaman gempa dan tsunami di kawasan ini.  Kombinasi aktifnya patahan-patahan dan vulkanik pada masa lampau diyakini sebagai penyebab pisahnya Pulau Jawa dan Sumatra. (YN)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar