IPO Start Up, Information Gap dan Keterbukaan Informasi Publik

Source : freepik

KBRN, Purwokerto : Pandemi Covid-19 mulai merebak sejak awal tahun 2020. Ini artinya sudah satu setengah tahun pandemi Covid-19 menemani kehidupan manusia. Di tengah pandemi investor tetap melirik start up di Indonesia

Start up adalah perusahaan baru yang sedang dikembangkan atau belum lama beroperasi atau biasa disebut perusahaan rintisan. “Beberapa pemain start up di Indonesia di antaranya Gojek, Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, dan lain-lain,” ungkap Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum.

Perusahaan start up/rintisan yang menawarkan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini menjadi perdebatan sendiri mulai dari kalangan investor hingga pengamat. IPO (Initial Public Offering) adalah perusahaan yang pertama kali akan menjual saham perdana di bursa saham kepada umum (publik).

Perusahaan teknologi di Indonesia yang akan melakukan penawaran saham perdana (IPO) antara lain Gojek, Tokopedia, dan Traveloka. Einstein berharap, jika dana publik dapat diraih perusahaan teknologi, semoga ada pengembangan usaha dan akan membuka lapangan kerja baru.

Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed angkatan 1980 Rudi Sutanto,SE.MBA.  yang sudah berpengalaman selama 15 tahun sebagai Investment Banking pada perusahaan Sekuritas di Indonesia memaparkan "Bursa" telah memasuki era baru dengan beberapa perusahaan start up  (listing) dengan kapitalisasi mencengangkan, dan dari sisi pelaku pasar (investor) memiliki tren baru yang menantang.

Start Up dengan strategi "growth hacking" (peretasan pertumbuhan, dalam arti positif) merupakan kegiatan yang fokus di dalam bidang pemasaran melalui pertumbuhan perusahaan. (peningkatan skala ekonomi).

Rudi Sutanto,SE.MBA.

Model bisnis pada "perusahaan konservatif", membentuk jaringan selama bertahun-tahun , mulai dari rantai pasokan, distribusi, pemasaran hingga menjangkau konsumen akhir. Tetapi "Unicorn" (kategori start up dengan kapitalisasi mencapai US$ 1 miliar atau Rp 14,4 triliun), melangkahinya dalam sekejap .

Start up memiliki mesin virtual, learning machine, costumer profiling, payment gateway, dan berbagai aplikasi lainnya, yang berdiri di atas  infrastruktur cloud services yang berbasis internet, akan mempermudah layanan dan akses. 

Bagaimana tidak (?)  "It’s accessible from any devices", apabila dibayangkan perusahaan memiliki file dinamis, dengan akses perangkat tak terbatas termasuk laptop, tablet, PC, smartphone, artinya karyawan dapat bekerja darimana saja, customer bisa mengakses 24 jam dan  perusahaan tidak perlu memiliki server sendiri (on premise) , tidak perlu kantor yang luas, "investasi gaya minimalis."

Tim Start Up yang terdiri dari pemasar, pemograman-enjiner, dan manajer produk, bekerja  secara terintegrasi, dengan keterampilan lintas disiplin (digital). Berkemampuan untuk menguji ide-ide, fokus meningkatkan pelayanan (customer satisfaction) , mereplikasi , memodifikasi dan menskalakan, uji simulasi, sebelum di lakukan investasi riil.

Tidak hanya, model bisnis yang berbeda, cara melakukan "valuasi juga berbeda".

Virtualisasi menciptakan basis pelanggan, dapat digambarkan melalui Gross Merchandise Volume (GMV).

GMV pada perusahaan ritel e-commerce berarti : harga jual rata-rata per barang yang dibebankan kepada pelanggan, dikalikan dengan jumlah barang yang terjual. Misalnya, jika menjual 10 buku seharga Rp1.000,- GMV: adalah Rp10.000. Ini juga dianggap sebagai "pendapatan kotor", startup hanya intermediary.

"Start up" harus mampu memberikan "informasi yang terintegrasi (officially)" secara jelas.

Berapa potensi ritel -marketplace, besarnya GMV, posisi mobile GMV (prosentasenya terhadap GMV), berapa buyer yang terdaftar, maupun active buyers, berapa rata-rata transaksi per buyer. Penjelasan cost acquisition customer (c.a.c), targetnya?, berapa besar alokasi modal kerja (penggunaan dana IPO)  untuk customer acquisition ? dan seterusnya.

“GMV berbeda dengan "penjualan bersih", karena GMV tidak memasukkan biaya pengembalian produk,” terang Rudi.

Yang sangat materiel adalah "biaya pamasaran", program antara lain cash burn, biaya akuisisi customer , mitra penjual, voucher, cash back, channel pembayaran, iklan termasuk konten. Anggarannya luar biasa, yang harus disiram terus, ibarat tanpa fresh money, maka growth hacking menjadi layu, customer bisa berpindah.

Perusahaan E-Commerce yang saat ini sedang memasuki tahap IPO. Di tahun 2018 melakukan “tambahan modal baru“ senilai +/- Rp4,1 triliun,  sudah tergerus “cash burn” dan kondisi masih rugi, dengan pengakuan memiliki pelanggan 104 juta orang? berencana meraup dana IPO sebesar +/- Rp21 triliun , kapitalisasinya diperkirakan mencapai +/- "Rp85 triliun" bagaimana valuasi nya, termasuk memperkirakan potensi ke depan (?).

Informasi tentang Start up masih simpang siur, dan sulit untuk “divalidasi” (bagaimana tolok ukur masa depan ?), kondisi ini dapat menciptakan “ketidak pastian valuasi”. Padahal “fair value” dapat dihitung, mencerminkan indikasi masa depan, menyusun model bisnis yang relevan, tetapi informasinya belum lengkap, laporan keuangan Audit tidak cukup (it’s in the past).

Sehingga dapat menciptakan polemik publik:

● Start up beda cara valuasinya,

● Fundamentalis berpendapat: perusahaan masih Rugi

"Yang mana Informasi untuk menghitung valuasi masa depan?".

Artinya : terjadi  “information gap “banyak yang belum diungkapkan (secara officially)”, padahal saham : “merupakan satuan nilai yang mencerminkan komponen finansial yang berfokus pada kepemilikan suatu perusahaan, dan investor memegang risiko”.

“Dengan berbagai pertimbangan, maka keputusan investasi harus memiliki pedoman  yang bijaksana,” kata Rudi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00