• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Tanggap Bencana

BNPB : Buruknya Drainase Pemicu Sebagian Besar Bencana Banjir Januari-Februari 2020

29 February
13:52 2020

KBRN, Jakarta : Deputi Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Bernadus Wisnu Widjaja menyatakan, untuk mengantisipasi datangnya banjir perlu adanya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dengan merutinkan kembali kegiatan kerja bakti, khususnya membersihkan drainase. 

Hal tersebut merujuk pada kajian lapangan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada kejadian banjir beberapa waktu lalu, dimana banjir pada 23 Februari 2020 lalu terjadi di 83 titik. 

Dari sejumlah titik tersebut, 85,54 persen atau 71 titik disebabkan karena drainase, sedangkan sisanya sistem sungai. Kemudian Pada 24 Februari 2020, banjir terjadi di 76 titik, dengan rincian karena drainase 65 persen atau 30 titik, sisanya sistem sungai. 

"Menggiatkan kembali program kerja bakti di lingkungan masing-masing dengan membersihkan drainase, selokan, saluran air dan sungai di sekitar kita, menghindari buang sampah ke sungai yang dapat menyumbat aliran air," kata Wisnu melalui pernyataan resmi bersama Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB, Agus Wibowo, yang diterima RRI, Sabtu (29/2/2020).

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, BNPB mencatat lebih dari 600 bencana terjadi sepanjang awal tahun hingga Februari 2020. Data BNPB pada kurun waktu 1 Januari 2020 – 27 Februari 2020 ini menyebutkan kejadian tersebut mengakibatkan korban jiwa 123 orang dan hilang 2 orang, sedangkan lebih dari 1,4 juta jiwa mengungsi.  

BACA JUGA: BNPB : Januari-Februari 2020 Indonesia 652 Bencana, Korban Jiwa 123 Orang

Sejumlah korban jiwa tadi diakibatkan bencana hidrometeorologi yang persentasenya 99,85 persen, seperti banjir, angin puting beliung dan tanah longsor. Bencana ini masih mendominasi hingga pada bulan ini. Korban jiwa akibat banjir berjumlah 102 orang, longsor 16, dan puting beliung 4 orang. 

"Pada periode ini bencana yang terkait dengan iklim dan cuaca memberikan dampak yang luar biasa, tidak hanya korban jiwa tetapi kerugian materiil," demikian diungkapkan Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB, Agus Wibowo, melalui pernyataan resminya, Sabtu (29/2/2020).

Kerugian materiil kategori pemukiman, BNPB merilis rumah rusak dengan tingkat berbeda karena banjir sebagai berikut: rusak berat (RB) berjumlah 2.013 unit, rusak sedang (RS) 1.148, dan rusak ringan (RR) 2.512, sedangkan angin puting beliung rumah RB 514, RS 620 dan RR 4.428. Di samping itu, bencana longsor merusak rumah RB 52 unit, RS 26 dan RR 200.

Rincian jumlah kejadian bencana sepanjang Januari hingga Februari 2020 sebagai berikut: banjir 255 kejadian, puting beliung 202, tanah longsor 133, kebakaran hutan dan lahan 58, gempa bumi 1, kekeringan 1 dan gelombang pasang 1.

Sementara itu, Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin mengatakan curah hujan tinggi masih terjadi hingga awal Maret di berbagai daerah di Indonesia dan masyarakat diharapkan waspada akan potensi kejadian banjir.

"Awal Maret diprediksi intensitas hujan ada di menengah hingga tinggi. Daerah yang terkena ialah Sumatera bagian selatan, sebagian besar wilayah Jawa, Sulawesi bagian tengah dan sebagian wilayah Papua cukup tinggi potensi hujannya. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai akan terjadinya banjir,” ucap Miming saat konferensi pers bersama di Graha BNPB, Jakarta Timur, Jumat (28/2/2020). (Foto: Ant/Saptono)

00:00:00 / 00:00:00