• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Opini

Pers Versus Korporasi Media Digital

9 February
15:34 2020
0 Votes (0)

Hari Pers Nasional (HPN) 2020 diperingati di Banjarbaru Kalimantan Selatan. Presiden Jokowi hadir dalam puncak peringatan HPN pada Sabtu, (8/2/2020). Momentum HPN tahun ini menjadi sarana refleksi pers tanah air terhadap eksistensinya. Sejumlah tantangan harus dihadapi oleh institusi dan insan pers di tengah serbuan media digital dan hantaman media sosial. Pers juga harus berhadapan dengan perubahan pola konsumsi informasi dan pilihan media digital oleh masyarakat.

Peran pers tak bisa dianggap remeh. Pers telah menjadi salah satu pilar demokrasi. Dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang demokratis sangat membutuhkan peran pers. Namun tak sembarang pers. Pers yang mendukung demokratisasi adalah pers yang profesional. Pers yang mampu menjadi rujukan masyarakat dalam mencari informasi yang benar di tengah banjir informasi saat ini.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah banyak hal, termasuk munculnya internet, media sosial (medsos), dan beragam platform media digital. Ini adalah tantangan yang sangat serius harus dihadapi oleh pers nasional. Kalau dulu pers bisa sangat eksis dan menjadi rujukan banyak masyarakat, sementara saat ini tak sedikit orang yang berpaling dari pers ke media digital.

Serbuan Platform Digital

Pers dalam pengertian media cetak atau pers dalam arti media elektronik selama ini berwujud media massa cetak seperti koran, majalah, buletin, radio, dan televisi. Pers dalam pengertian ini biasa disebut media arus utama (mainstream media). Pers dalam konteks ini saat ini harus menghadapi serbuan menjamurnya media digital dan medsos. Serbuan media yang berbasis internet ini telah membuat pers harus menyesuaikan diri.

Era perubahan (disruption) yang dipicu lahirnya media baru (new media) berwujud internet telah merubah banyak hal. Pers termasuk yang harus berubah di era perubahan ini. Perubahan yang terjadi akan mengancam daya hidup pers kalau era perubahan ini tak mampu disikapi insan pers dengan cerdas. Kehadiran media digital yang jumlahnya sangat masif dan serbuan medsos telah memalingkan banyak masyarakat menjauh meninggalkan pers.

Informasi dan berita sekarang bukan lagi dominasi pers. Semua orang kini bisa menjadi produsen informasi. Melalui berbagai platform medsos para pengguna medsos bisa mengunggah beragam informasi yang sering tak jelas kebenarannya. Berita bohong, hoaks, dan ujaran kebencian banyak muncul melalui medsos. Sementara tak sedikit orang yang belum mampu memilih dan memilah mana informasi yang benar dan yang abal-abal.

Kondisi ini semakin diperburuk karena banyak masyarakat yang justru mempercayai informasi di medsos ketimbang di media massa arus utama. Bahkan sekarang tak sedikit orang yang justru menjadikan medsos sebagai sumber rujukan informasi yang utama. Banyak orang tak lagi mau membaca koran, mendengar radio, dan menonton televisi dalam mencari informasi. Media massa konvensional telah kalah cepat dengan laju informasi yang menyebar lewat media digital dan medsos.

Sejatinya yang tepat menyampaikan berita dan informasi adalah pers melalui para wartawan. Produk berita dan informasi yang disajikan insan pers tentu sudah melalui standar jurnalisme yang ketat. Namun saat ini produk pers berupa berita dan informasi bisa dibuat oleh siapa saja, terutama para pengguna medsos melalui beragam akun medsosnya. Karena tanpa melalui proses yang ketat seperti layaknya produk insan pers, maka akurasi informasinya patut dipertanyakan.

Pada situasi seperti ini, idealnya pers muncul sebagai penjernih informasi dari beragam hoaks dan berita bohong yang semakin membingungkan masyarakat. Pers idealnya menjadi rujukan sebagai pelurus informasi dari beredarnya informasi yang keliru. Namun upaya pers ini juga menghadapi sejumlah kesulitan karena aksesibilitas masyarakat pada beragam produk pers arus utama sangat rendah.  

Dalam sambutan HPN tahun ini, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa pemerintah segera menyiapkan regulasi untuk memproteksi dunia pers dari serbuan platform digital. Ekonomi sistem media massa harus dilindungi supaya masyarakat mendapat konten berita yang baik. Sementara itu, media konvensional dituntut mampu beradaptasi dengan cepat di era digital saat ini.

Melawan Korporasi Media Digital

Era disrupsi saat ini telah memunculkan bisnis korporasi media. Raksasa platform media seperti GoogleFacebook, dan sejumlah media baru yang lain telah menyerbu masyarakat dan menggeser kelangsungan hidup pers nasional. Google dan beragam medsos memang bukan perusahaan media, namun melalui internet dan laman-laman medsos tersebut memasilitasi orang untuk mengunggah dan mengunduh beragam berita dan informasi.

Korporasi media digital ini juga telah mengambil kue iklan yang sebelumnya menjadi jatah media massa konvensional. Beragam platform digital telah menggeser pola pemasang iklan yang sebelumnya pada media arus utama kini banyak yang berpindah ke online. Banyak berkurangnya iklan yang ke media massa konvensional sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup media konvensional. 

Negara juga banyak dirugikan oleh fenomena iklan digital ini karena iklan yang muncul lewat Google dan sejumlah laman medsos tak dikenai pajak. Situasi yang merugikan kelangsungan hidup industri pers nasional perlu campur tangan pemerintah. Untuk itu rencana pemerintah yang bakal menyiapkan regulasi untuk memproteksi dan menjaga kelangsungan hidup pers nasional perlu direalisasikan.

Maraknya bisnis korporasi media digital merupakan tantangan pers dari sisi bisnis. Dari segi konten informasi juga menjadi tantangan yang tak kalah serius. Tak sedikit konten informasi yang beredar lewat Google dan medsos yang berupa propaganda asing. Keadaan ini bisa sangat membahayakan bagi stabilitas dan keamanan negara. Untuk itu pers nasional harus menjadi benteng dari kemungkinan buruk dari merebaknya konten propaganda asing.

Dari sejumlah tangangan yang harus dihadapi pers nasional menuntut perubahan dan kepedulian sejumlah pihak. Mengingat begitu pentingnya peran pers, maka pemerintah hendaknya turut menjaga keberlangsungan pers nasional. Bagi insan pers sendiri juga dituntut mampu mengembangkan inovasi baru baik dari segi manejemen pengelolaan medianya juga konten informasinya. Kerja insan pers yang profesional juga menjadi tuntutan yang harus dijawab oleh insan pers tanah air.

Sejumlah tantangan di era disrupsi saat ini semoga mampu dilalui industri dan insan pers nasional. Semua pihak sangat berharap peran pers sebagai media pendukung demokratisasi. Semoga pers tanah air tetap mampu bertahan hidup di tengah hantaman media digital global. Pers nasional harus tetap eksis, mengembang fungsi idealnya sebagai media penyebar informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial masyarakat. Selamat HPN 2020!

Oleh: Sugeng Winarno

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

00:00:00 / 00:00:00