• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Teras Narang: Pemindahan Ibu Kota Harus Perhatikan Sosiologi dan Antropologi

19 November
01:26 2019
4 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Memindahkan Ibu Kota Negara/Pemerintahan dari Betawi (Jakarta) ke Borneo (Kalimantan), tidak semudah pada saat menyusun jadwal dari kapan memulai dan selesainya semua pembangunan infrastruktur pendukung.

Pertanyaan sederhana, tambahnya, apakah perpindahan Ibu Kota Negara/Pemerintahan itu hanya berbicara membangun gedung dan memindahkan orang-orang yang akan mengisi gedung tersebut?

“Menurut saya, tidak semudah itu,” ujar Ketua Komite I DPD RI, Agustin Teras Narang di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/11/19). 

Lebih lanjut, Kepala Pusat Kajian Otonomi Daerah Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini menjelaskan, banyak hal yang perlu dilihat dan diperhatikan, terutama tentang kondisi sosiologi dan antropologi di wilayah calon Ibu Kota Negara yang baru. 

“Sosiologi bicara tentang bagaimana perilaku sosial antara individu dengan individu, individu dengan kolompok, dan kelompok dengan kelompok. Sementara itu, Antropologi tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya,” urainya.

“Apa yang perlu diperhatikan dan bagaimana mempersiapkan itu semua. Apakah kita sudah punya orang yang mumpuni, sosok yang memahami dan memiliki konsep serta strategi sistematis serta terstruktur? Bagaimana dan kapan secara masif strategi itu bisa dilaksanakan?” tambahnya.

Menurut mantan Gubernur Kalimantan Tengah dua periode ini, pertanyaan yang ia sampaikan diatas, harus dijawab oleh semua pihak, tidak hanya pemerintah saja. Teras pun mengajak masyarakat di Pulau Kalimantan, untuk terlibat aktif mempersiapkan diri dan strategi dalam menghadapi pemindahan Ibu Kota Negara/Pemerintahan ke Provinsi Kalimantan Timur. 

Bagaimana pun,  provinsi lain di Kalimantan, Kalteng, Kalsel, Kalbar dan Kaltara,nantinya akan menjadi daerah penyangga jika pemindahan Ibu Kota Negara/Pemerintahan itu nantinya direalisasikan. 

“Jangan sampai, masyarakat di Pulau Kalimantan  hanya menjadi penonton. Lebih buruk lagi menjadi “minoritas baru” yang terpinggirkan dari tanah kelahirannya sendiri,” terangnya.

Keterlibatan, semangat gotong royong dan strategis bersama menyiapkan Sumber Daya Manusia Unggul, sambung dia perlu didorong dalam menyambut peluang dan tantangan dibalik rencana pemindahan ibukota tersebut.

“Janganlah menyederhanakan permasalahan kepindahan Ibu Kota Negara/Pemerintahan ini. Lihat dan tinjaulah dari semua segi. Kita ingin mengukir sejarah yang indah dan menyejukan. Bukan untuk sesaat, tetapi untuk selamanya bagi generasi yang akan datang,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dari Jakarta ke Kalimantan Timur masih jadi wacana. Hingga saat ini, pemerintah masih terus menggodok rencana tersebut dengan sejumlah kajian lapangan.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00