• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

NGO HAM Aceh Somasi Google Soal Terjemahan yang Mengandung Unsur Rasis

22 October
16:23 2019
0 Votes (0)

KBRN, Banda Aceh : Dalam dua pekan terakhir, publik Aceh dihebohkan dengan tampilan pada Google terjemahaan atau Google translet yang dinilai mengandung unsur sara dan menghina rakyat Aceh.

Dalam tampilan tersebut, terlihat jika diterjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa atau Melayu, keluar arti yang dianggap mengandung unsur penghinaan terhadap Aceh.

Menyikapi permasalahan ini, Koalisi NGO HAM Aceh bersama para advokat melayangkan surat somasi kepada Google. Sebelumnya persoalan ini juga telah dilaporkan oleh masyarakat Aceh dengan melayangkan surat keberatan kepada Google namun laporan tersebut belum ada tindak lanjut oleh Google.

“Fitur terjemahan Google dinilai mengandung unsur rasial, penyebaran kebencian terhadap suku Aceh dan melayu serta perusakan tatanan bahasa daerah sehingga menyebabkan keresahan publik dan membuka ruang konflik horizontal atas keberagaman suku di Indonesia,” kata Direktur Koalisi NGO HAM Aceh Zulfikar Muhammad kepada wartawan di Banda Aceh, Selasa (22/10/2019).

Sebut Zulfikar, pelapor yang merupakan warga Aceh sudah mendatangi kantor Google Indonesia di Jakarta untuk menyampaikan keberatan terhadap fitur Google translet, namun laporan tersebut belum dapat ditindak lanjuti karena alasan Google Indonesia kewenangan tersebut ada pada pihak Google yang berkantor di Amerika Serikat.

Menurut Zullfikar, fitur Google translet yang dianggap menghina rakyat Aceh itu dinilai sangat berbahaya dan dapat menimbulkan konflik antar suku sehingga bisa memicu perpecahan bangsa, oleh sebab itu dia meminta agar Google meminta maaf kepada masyarakat Aceh dan mencari tahu siapa dalang dibalik persoalan ini.

“Kita meminta agar Google melacak dan memberikan data kontributor pembuat terjemahan yang mengandung diskriminasi rasial dan menyebar kebencian yang merendahkan harkat dan martabat suatu suku di Indonesia agar dapat diselesaikan secara hokum berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tegasnya.  

Sementara itu, Haikal Afifa selaku pelapor menyebutkan, awalnya dia mengetahui saat membuka fitur Google translet, bahasa yang ditranlet mengandung unsur penghinnaan, dan bukan hanya untuk masyarakat Aceh, tapi untuk masyarakat melayu dan suku di Kalimantan.

“Kita lihat jika kita padukan dengan frasa bahasa Aceh ketika kita tulis keluarga Aceh keluarnya keluarga fanatik, ketika kita tulis anak Aceh keluar anak ba*ingan, ketika kita tulis ulama Aceh, keluar sarjana yang sakit dan banyak lagi yang kita temukan kata-kata yang mengandung rasial,” ungkap Haikal.

Meskipun pihak Google di Indonesia telah mengakui adanya kesalahan dan meminta maaf, namun kata Haikal, fitur Google terjemahan yang mengandung usur rasial kepada masyarakat Aceh masih dapat ditemukan, sehingga dia meminta kepada Google untuk memastikan tidak ada lagi kata-kata penghinaan di dalam goggle terjemahan kepada masyarakat Aceh.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00