• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Rona Anak Pesisir, dari Rumah Baca, Literasi Bermula

29 September
01:55 2019
2 Votes (5)

KBRN, Bula :  Tidak seperti biasanya taman kecil yang berada di pojok halaman Gedung Serba Guna Kota Bula Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Provinsi Maluku dijejali mahasiswa dan pelajar. Taman yang biasanya sepi dan angker, kini telah menjadi tempat nongkrong yang mengasyikkan, menyusul dilakukannya pembenahan bulan lalu. Namun bukan itu yang menjadi daya pikat pengunjung, melainkan sebuah bangunan berbentuk rumah panggung yang berdiri anggun di bawah rindangnya pepohonan.

Rumah panggung berukuran 5 x 3 meter itu terbuat dari papan dan dicat warna warni hingga terlihat mencolok. Bentuknya simpel, dengan sebuah ruang terbuka di bagian depannya. Di dalam bilik yang tertutup, tersimpan ratusan buku-buku ilimah dan dijaga sekelompok mahasiswa, Dari tulisan yang tertera pada papan yang tergantung di bagian atas teras depan, terjawab kenapa rumah panggung itu menarik perhatian mereka yang lewat, karena itu adalah ‘Taman Baca Masyarakat (TBM) Insan Cita’.

Seperti terlihat pada Jumat (27/9/2019) siang, sekelompok mahasiswa dari Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta (STAIS) Bula, Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STIKIP) Ita Wotu Nusa dan STIKIP Hunimua ramai-ramai memenuhi taman baca. Ada yang  berdiri  sambil bercerita, ada yang berdiskusi, tetapi ada juga yang menyendiri di sudut taman dengan seabrek buku. Panas terik matahari,  takluk di bawah rindangnya pepohonan hingga udara sejuk sangat terasa.

Penggagas TBM Insan Cita Dahlan Rumesy memang tak salah memilih tempat. Jebolan STAIS Geser ini,  sepertinya memahami betul selera pembaca millenial. Itulah sebabnya, taman yang tidak terurus dan terlihat menyeramkan pada waktu malam, dibenahi dan ditata menjadi nyaman dan asri sebelum memulai pembangunan rumah baca. Konsep itu, terbukti ampuh menggaet pengunjung, termasuk ibu-ibu rumah tangga. Banyak dari mereka datang bersama anak kecilnya untuk memberikan literasi di sini.

Yang menarik, meski buku-buku yang tersedia di TBM Insan Cita masih sedikit, sekitar 200-an buah, itu pun sebagian dipinjam dari perpustakaan daerah, minat masyarakat untuk datang membaca tidak lesu, setidaknya jika dibandingkan dengan minat baca di perpustakan daerah. Banyak  dari pengunjung mengaku kurang tertarik datang ke perpustakaan daerah karena banyak aturan dan hanya dibuka pada saat jam kantor.

“Sebetulnya buku-buku yang tersedia di perpustakaan daerah cukup banyak. Cuma karena terlalu banyak aturan dan hanya dibuka pada saat mahasiswa sedang kuliah dan anak-anak sekolah masih belajar di kelas, sehingga minim pengunjung. Belum lagi kalau mau pinjam buku harus tinggalkan KTP, padahal banyak yang belum punya KTP. Kalau di sini kan nyaman, buka dari pagi sampai malam, bisa diskusi, gratis lagi,” kata Rezky. 

Niat mendirikan TBM Insan Cita menurut Dahlan sebetulnya sudah lama menjadi angan-angan. Niat itu baru terealisir setelah dikomunikasikan dengan Pemerintah Negeri Administratif (Desa) Wailola. Kepala Desa Wailola Yusran Buatan mendukung penuh pembangunan rumah baca karena dinilai sangat bermanfaat bagi pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas dan kreatif. Ia berharap, konsep pembangunan pendidikan seperti ini dapat dicontohi oleh desa-desa lain.

Pada tanggal 8 September 2019, bersamaan dengan Peringatan Hari Aksara Internasional, TBM Insan Cita resmi dibuka untuk umum. Acara pembukaan dirangkai dengan Bacarita Pendidikan (Diskusi Pendidikan), menghadirkan pemateri dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten SBT dan akademisi. Hadir dan ikut memberikan literasi antara lain Komandan Kodim Persiapan SBT dan Kepala Desa Wailola.

Satu minggu setelah itu, Dahlan dan belasan mahasiswa yang dirangkul sebagai pengurus, menerima bantuan buku dari Yayasan Peduli Anak Timur dan Lapak Baca Arganesa milik anggota Brimob Kompi B Plda Maluku, Muhammad Fahrun Rumain. Sejalan dengan itu, TBM Insan Cita  meluncurkan program Wailola English Meeting Convertion Club (WECC) untuk melatih dan mengasah kemampun ber-Bahasa Inggris pelajar SMP dan SMA sederajat, termasuk mahasiswa.

Sesuai dengan rencana, ke depan, kata Dahlan, TBM Insan Cita akan terus menambah perbendaharaan buku. Taman-taman baca akan terus dibenahi dengan menanam ratusan anakan bunga matahari dan  tanaman-tanaman hias untuk menghadirkan  kesan nyaman bagi pembaca. Kegiatan diskusi dan bedah buku juga akan diupayakan secara rutin, terutama dalam menyambut hari-hari nasional seperti hari proklamasi, hari pancasila, hari pendidikan, hari sumpah pemuda, hari aksara, dan hari-hari keagamaan.

“Di sini serba gratis, kita tidak mengharapkan imbalan apa pun dari pengunjung. Siapa pun boleh datang membaca. Kita hanya sedang berpikir, bagaimana supaya teman-teman mahasiswa yang menjadi pengurus dan mentor di sini bisa terus betahan. Jadi, nanti kita koordinasi dengan Pemerintah Desa Wailola, apakah perlu ada warung kopi yang dikelola oleh pengurus atau apa. Prinsipnya kita ikhlas mengabdi untuk negeri tercinta,” ujar Dahlan yang didaulat sebagai pengarah.

Literasi Lewat Rumah Baca        

TBM Insan Cita bukanlah taman baca pertama yang hadir di Kota Bula.  Sebelumnya, telah ada Lapak Baca yang dikelola Anggota Brimob Kompi B Polda Maluku yang bermarkas di SBT, Muhammad Fahrun Rumain. Fahrun yang berasal dari Pulau Geser dan sempat mengenyam pendidikan di bangku universitas sebelum menjadi anggota Brimob, menyadari pentingnya menumbuhkan budaya literasi di rumah baca untuk meningkatkan kecerdasan dan kreatifitas anak-anak pesisir. 

Dibantu sejumlah aktivis jebolan universitas di Makassar dan Ambon, antara lain Dedy Kilwarany dan Hariyadi Rumain, Fahrun dkk membuka Lapak Baca Arganesha di Jalan Protokol. Lapak tanpa atap itu dibuka setiap hari pada pukul 15.00 – 18.00 WIT dan terlindung dari sengatan matahari karena berada di bawah pohon Trembessy. Anak-anak sekolah dibikin ketagihan datang ke sini, kadang ditemani orang tuanya.    

Fahrun bertutur, dulu sewaktu masih kuliah di Fakultas Perikanan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, masuk kampus tahun 2006, dirinya menginisiasi pembentukan Komunitas Lintas Sejarah dengan menghimpun mahasiswa-mahasiswa yang konsen terhadap sejarah dan budaya lokal. Komunitas itu memfokuskan perhatian pada penelusuran sejarah-sejarah lokal, untuk menguak jejak peradaban masyarakat Maluku yang terputus dan belum menemukan titik terang.

Saat masih di kampus, dia sempat berkeinginan membuka taman baca di kampungnya, Pulau Geser, namun keinginannya tertunda akibat dari kurangnya fasilitas pendukung berupa buku-buku dan sebagainya. Karena itu, setelah menjadi anggota Brimob Polda Maluku dan bertugas di SBT, dirinya menginisiasi pembangunan Lapak Baca Arganesha untuk mendorong lahirnya  lapak-lapak baca baru disertai gerakan-gerakan literasi dari mahasiswa lokal. 

Mentor Lapak Arganesha Hariyadi Rumain berkata, sebagian dari buku-buku yang ada di sini berasal  dari Lapak Baca Semesta, Yayasan Hekaleka dan Komunitas Tahury yang bermarkas di Kota Ambon. Meski tak banyak, Hariyadi yang aktif memberikan literasi kepada pelajar SD, SMP dan SMA yang datang berkunjung memastikan lapak ini tak sepi peminat. Namun kebanyakan buku yang tersedia masih didominasi ilmu-ilmu berorganisasi, sejarah, politik dan tokoh-tokoh nasional.

Hal itu dibenarkan salah satu pengunjung, Novita Saplut. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi lokal ini menginginkan pengelola memperbanyak buku tentang filsafat pendidikan dan penelitian-penelitian ilmiah, karena sangat dibutuhkan. Selama ini, aku Novita, mereka mencari referensi tentang ilmu-ilmu filsafat dan metodologi penelitian melalui jejaring internet, namun hasil yang dapat belum memenuhi kebutuhan, sementara di kampus belum ada perpustakaan.         

Pengunjung lain, Irna Kilbaren mengaku senang datang ke sini karena tertarik dengan koleksi buku-buku  ilmiah yang belum selesai dibaca. Meski dia lebih tertarik membaca buku-buku tentang dunia wanita, kisah-kisah inspirasi dan  buku-buku agama, ilmu yang diperoleh dari sini sangat berarti, karena selain bahan bacaannya beragam, mereka bisa saling berdiskusi dan mendapat literasi dari para mentor yang sudah kenyang pengalaman di luar daerah.

“Saya senang datang ke sini karena hoby saya adalah membaca. Saya tertarik dengan buku-buku  yang ada di sini karena bagus-bagus dan menarik untuk dibaca. Saya berharap, kalau bisa, ke depan, ada buku tentang usaha-usaha kecil, teknologi dan motivasi-motivasi agar menjadi bekal bagi saya dan teman-teman lain berpikir kreatif dan produktif. Novel juga perlu untuk hiburan,” ungkap Dewi. 

Sayangnya, Lapak Baca Arganesha saat ini sudah ditutup, karena pemiliknya, Muhammad Fahrun Rumain, telah mendonasikan buku-buku koleksi pribadinya kepada TBM Insan Cita. Dia mendonasikan buku-bukunya karena percaya TBM Insan Cita dapat mengelola taman bacanya secara professional dan berkelanjutan. Baginya, tak penting siapa yang mengelola, karena yang terpenting adalah satu tujuan, yakni memasyarakatkan budaya literasi di Negeri Ita Wotu Nusa.

Memang, tak dapat ditampik, kehadiran rumah-rumah baca di Kabupaten SBT yang masih berkutat   meretas isolasi geografis adalah jawaban atas ketidakberdayaan pemerintah daerah memenuhi fasilitas pendidikan yang dibutuhkan anak-anak pesisir menghadapi tantangan era digital. Tidak heran, gerakan literasi diinisiasi aktivis mahasiswa dengan membangun rumah baca tanpa campur tangan pemerintah, untuk membekali anak-anak pesisir menapak masa depan.  

Taman Baca Keta di Negeri Administratif Keta Kecamatan Siritaun Wida Timur contohnya. Taman itu adalah mata air pejuang literasi. Penggagasnya Ali Akbar Rumeon, sampai nekat menelantarkan kuliahnya di Ambon, demi  mewujudkan obsesinya mencerdaskan anak-anak kampung melalui gerakan literasi. Baginya, tak ada yang lebih penting saat itu selain merajut mimpi anak-anak pesisir melalui taman baca, karena tak ada yang bisa diandalkan dari sekolah.

Berangkat dari sebuah keyakinan, pada 16 Januari 2016, Ali Akbar merintis pembangunan Taman Baca Keta dengan memanfaatkan rumah orang tuanya sebagai tempat sementara. Buku-buku yang diperoleh dari para relasi, tak banyak jumlahnya, diletakkan begitu saja pada lemari butut di kamar kosong, sedangkan ruang tamu dijadikan sebagai tempat membaca di atas tikar. Dibantu sejumlah relawan, Fais Rumain dkk, tiap hari, mereka tekun memberikan literasi kepada anak-anak sekolah dasar.

Meski banyak tantangan, Ali dkk pantang mundur ke belakang. Hingga akhirnya, cerita tentang rumah baca itu menyebar dan menular ke kampung-kampung sekitar. Melalui akun facebook Taman Baca Keta, cerita tentang rumah baca itu meluas di media sosial, hingga membuka jalan bagi mereka mendapatkan perhatian dari pegiat-pegiat pendidikan, antara lain Yayasan Heka Leka, Yayasan Peduli Pendidikan Anak Maluku dan bahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Tak sampai di situ, seiring dengan bertambahnya buku-buku bacaan yang antara lain disumbang oleh anggota DPR RI asal SBT Rohani Vanath, Taman Baca Keta mulai didatangi komunitas-komunitas baca dari Papua dan Jawa. Relawan dari Cirebon Jawa Barat bahkan bersedia meluangkan waktu selama berbulan-bulan untuk mengajar Bahasa Inggris. Informasi tentang keberadaan taman baca ini diketahui dari media sosial.

Ali dkk sangat bersyukur, lantaran Kedutaan Besar Amerika Serikat tak hanya membantu memberikaan fasilitas, tetapi juga mensponsori Program Komunitas Berbasis Pendidikan (Education Based Communitty Programme) Training of Trainer Mentor. Program itu dilaksanakan pada 19 – 20 Agustus 2017, diikuti para mentor dari rumah-rumah baca kampung sekitar, Walang Baca Air Panas, Non Violent Study Circles, Inspiring Development, Melihat ke Timur, Komunitas Klinik Apung dan Masyarakat Keta.  

Para mentor dibekali dengan metode-metode mengajar yang progresif dan kreatif untuk mempermudah mereka mengeksekusi proses transfer ilmu dan meningkatkan daya berpikir anak-anak. Puncak dari program penguatan kapasitas mentor itu, digenapkan dengan Bacarita Pendidikan tentang isu-isu kekinian, bersama Staf Dubes Amerika Serikat dan pegiat-pegiat literasi pada tanggal 15 Oktober 2017. Api literasi pun dinyalakan oleh masyarakat sebagai simbol kebangkitan melawan kebodohan.    

Usai kegiatan itu, masyarakat Keta langsung bergotong royong menyiapkan rumah panggung di atas laut  sebagai Taman Baca Keta. Laut dipilih sebagai lokasi taman baca untuk mendekatkan anak-anak dengan laut dan menggugah kesadaran mereka akan pentingnya melestarikan sumber daya pesisir. Hanya saja, proses pembangunan rumah panggung berukuran 17 x 15 meter itu berjalan tersendat sebelum akhirnya ditempati pada Februari 2018.

Menjelang pergantian tahun baru 2018, Anggota DPRD SBT Nuzul Rumain berkunjung ke Taman Baca Keta. Dia datang dengan membawa sedikitnya 750 buku bacaan yang dipak dalam lima karton besar. Buku-buku yang dibawanya kebanyakan tentang pertanian, perkebunan, perikanan dan mata pelajaran sekolah. Sejak saat itu, Taman Baca Keta makin eksis mengembangkan gerakan literasi, hingga menular ke kampung-kampung sekitar. Sang penggagas Ali Akbar Rumeon pun kembali ke kampus.

Saat ini, selain Taman Baca Keta, terdapat belasan rumah baca yang dirintis para mahasiswa, antara lain  Rumah Baca Suru, Rumah Baca Nama, Walang Baca Waras Waras, Rumah Baca Usung Rumkafar, Rumah Baca Airnanang, Rumah Baca Danama, Taman Baca Rumadan dan Sekokah Pantae Birit. Sejalan dengan itu, budaya literasi terus tumbuh dan berkembang di rumah-rumah baca, hingga berpengaruh terhadap kualitas pendidikan anak-anak pesisir dan itu sudah teruji dalam lomba-lomba ilmiah di level provinsi.       

Buku Yang Dirindukan

Geser adalah pusat peradaban masyarakat pesisir sebelum Kabupaten SBT dimekarkan dari Maluku Tengah. Meski kecil, pulau yang terbentuk dari sedimentasi karang ini, memiliki sarana prasarana pendidikan yang komplit, karena menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan sejak zaman Belanda. Denyut pendidikan di pulau kecil padat penduduk ini dari dulu sudah terasa, hingga menjadi kiblat bagi anak-anak pesisir mendapatkan pendidikan yang layak.

Alman Vari Rumata, alumni perguruan tinggi di Makassar mengakui, iklim pendidikan di Pulau Terapung Geser sejak dulu sudah menghangat. Iklim itu dipengaruhi oleh budaya masyarakat lokal yang menaruh perhatian serius terhadap pendidikan anak-anak sejak usia dini. Dia mencontohkan budaya literasi yang dihidupkan dalam keluarganya, di mana peran orang tua sangat menentukan maju mundurnya pendidikan sang anak dan bahkan berpengaruh terhadap pembentukan karakter.    

“Bapak saya itu tegas, beliau membagi  waktu di rumah menjadi empat, yakni waktu belajar, mengaji, bermain dan istirahat. Tidak ada toleransi, yang melanggar dihukum. Waktu masih SD, setiap malam, biasanya bapak atau ibu yang membimbing kami belajar sambil menanamkan nilai budaya dan budi pekerti. Kami sering dibelikan buku-buku baru yang menarik, hingga jadi hoby membaca,” ujar Alman, anak kedua dari empat bersaudara. Tiga saudaranya masih kuliah di Makassar, Jogja dan Ambon.

Namun menurut Alman, iklim pendidikan yang sudah maju di Pulau Geser, sampai sekarang, belum berbanding lurus dengan iklim pendidikan di wilayah pesisir Pulau Seram atau tanah besar, sebutan penduduk lokal. Meski saat, kebanyakan dari kampung-kampung di tanah besar sudah memiliki gedung sekolah dasar, ada juga SMP dan SMA, namun fasilitas pendidikan berupa perpustakaan, laboratorium bahasa dan lain-lain seperti di Geser tidak ada.

Hal itu tergambar dari kisah Sofyan Kastella. Alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon Jurusan Jurnalistik ini, lahir dan besar di Kampung Gunak Kecamatan Kilimury, hingga tahu betul dinamika pendidikan di wilayah yang masih terisolir sampai sekarang. Sofyan yang sekarang menjadi jurnalis media online berkata, hal yang paling dirindukan oleh anak-anak Kilimury adalah buku-buku bacaan yang tak pernah dijumpai di sekolah.  

Sofyan dan anak-anak dari kampung tetangganya, mengenyam pendidikan sekolah dasar pada tahun 2006 di Kampung Gunak. Mereka terpaksa belajar dengan fasilitas yang serba terbatas karena tak punya pilihan. Di bawah temaran lampu pelita, Sofyan dkk tekun mempelajari buku-buku catatan sambil mengerjakan tugas dari guru sebisa mungkin, hingga tamat sekolah. Dari Gunak, Sofyan merantau ke Pulau Geser dan melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

Menurut Sofyan, minat baca anak-anak pesisir di kawasan Kilimury sejatinya sangat tinggi, karena mereka ingin tahu tentang banyak hal-hal yang tidak didapatkan dari orang tua maupun guru. Namun, rasa ingin tahu mereka terganjal akibat dari minimnya fasilitas belajar dan faktor ekonomi yang tidak memungkinkan orang tua mereka membeli buku-buku bacaan di Pulau Geser atau menitipkan buku pada mereka yang bepergian ke Kota Ambon.

“Karena di sekolah tak ada perpustakaan, jadi kalau ada yang punya buku, kami akan belajar sama-sama ditemani lampu pelita. Semua orang tua di Kilimury ingin anak-anaknya maju dan pintar, supaya hidupnya nanti tidak seperti mereka. Karena itu, mereka sangat senang jika melihat anak-anaknya rajin belajar dan mengaji,” kata Sofyan, seraya mengisahkan suka duka anak-anak Kilimury menantang arus sungai, menghindari ombak dan semak belukar, demi untuk sekolah.

Dari itu lah, semasa masih di kampus, Sofyan dkk mahasiswa asal Kilimury, berinisiatif membangun rumah baca di Gunak sebagai pusat gerakan literasi. Namun impian mereka sampai sekarang belum terwujud, karena mereka masih berupaya mengumpulkan buku-buku dan fasilitas pendukung. Pastinya, mereka sudah bertekad akan membangun gerakan literasi melalui rumah baca di Kilimury untuk menunjang pendidikan anak-anak pesisir.   

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di SBT pada tahun 2017 telah meningkat menjadi 130 ribu sekian, tersebar di 198 desa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1,84 persen usia 19 – 24 tahun tercatat tidak pernah sekolah, 22,76 persen masih sekolah dan 75,40 persen tidak lagi sekolah. Namun untuk usia 7 – 12 tahun, BPS mencatat 99,29 persen masih sekolah, sedangkan yang tidak sekolah hanya 0,71 persen.

Sejalan dengan pertambahan penduduk, pada tahun 2017, jumlah gedung sekolah dasar telah meningkat menjadi 146 unit dengan jumlah murid 19.348 orang dan guru 1.016 orang, sedangkan  Madrasah ibtidaiyah tercatat sebanyak 17 unit dengan jumlah murid 2.302 orang dan guru 85 orang. Ratusan gedung sekolah tersebut menyebar merata di 15 kecamatan, namun kebanyakan dari sekolah-sekolah yang ada masih kekurangan tenaga pengajar dan belum dilengkapi dengan perpustakaan.

Kondisi seperti ini dipandang tidak aman bagi pengembangan ekosistem pendidikan berbasis kompetensi di daerah-daerah pesisir, hingga melahirkan gerakan-gerakan literasi yang dimotori aktivis mahasiswa. Gerakan literasi dilancarkan dari rumah-rumah baca, demi satu impian. Ya, dari rumah baca, literasi bermula, dan dari rumah baca pula, anak-anak pesisir bersorak merajut masa depan.

  • Tentang Penulis

    Abdullah Leurima

    Reporter RRI Bula peraih Anugerah Pesona Bahari Indonesia 2016 (best of the best) dari Menteri Pariwisata RI

  • Tentang Editor

    Waddi Armi

    Redaktur Puspem 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00