• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Wiyono, Difabel yang Mandiri dengan Kerajinan Bambu

21 September
20:55 2019
2 Votes (1)

KBRN, Yogyakarta : ‘Sungguh terpaksa aku menyanyi, mengharapkan tuan bermurah hati, coba dengarkan aku menyanyi, membawa suara jeritan hati, sungguh aku malu tiada terkira, menadahkan tangan meminta-minta, karena terpaksa ini kulakukan, yang kupinta hanya sekedar makan, melalui lagu kuketuk hatimu’.

Sepenggal syair lagu berjudul ‘Terpaksa’ dari Haji Rhoma Irama tersebut, tidak berlaku bagi seorang difabel bernama Wiyono. Sebab meski ia mengalami cacat pada kaki, tetapi ia tidak ingin menggantungkan hidupnya pada orang lain, apalagi pada keluarga dan saudara-saudaranya.

Dengan segala keterbatasannya, Wiyono (50) tahun berusaha untuk tetap bisa mandiri, dengan mencoba mengais riski di Yogyakarta, tepatnya di jalan Sriwedani atau dulu dikenal sebagai kawasan Shopping Center.   

Laki-laki asal Sukoharjo Jawa Tengah ini menempuh jalan hidupnya dengan berjualan kerajinan berupa dolanan atau aneka mainan anak-anak jadul (jaman dulu), seperti seruling, othok-othok, ketapel, peluit dan sejenisnya.

“Mainan jadul dari bambu misalnya, gasing, ethek-ethek, peluit, seruling ditambah modifikasi harmonika dari bambu,” kata Wiyono, di sela menjual dagangannya, Jumat (20/9/2019).

Wiyono menyadari keterbatasan fisiknya, ia pun menekuni membuat kerajinan bambu untuk selanjutnya ia jual dengan cara berkeliling bersama Warni, istri tercintanya.

“Kebetulan saya difabel, untuk bekerja berat saya nggak bisa, jadi saya milih untuk ikut pelatihan dengan membuat kerajinan dari bambu ini,” terangnya.

Tidak sekedar mencari nafkah bagi kelangsungan hidupnya, Wiyono  ternyata juga memiliki wawasan jauh ke depan sebagai antisipasi anak-anak agar tidak sibuk bermain gadget. Di sisi lain, ia juga ingin ‘nguri-uri’ atau melestarikan aneka dolanan anak-anak jaman dulu.  

“Itu produk alami. Saya juga punya misi mengurangi anak-anak bermain gadget. Ini permainan tradisional, jadi saya juga ingin melestarikan budaya Jawa,” tandasnya.

Saat ditanya tentang berapa harga mainan yang dijajakannya, Wiyono menjelaskan,  bahwa untuk ‘klonthong’ atau genta seharga Rp40 ribu sampai Rp50 ribu, sedangkan ketapel seharga Rp15 ribu.

Ditengah keramaian Kota Yogyakarta, Wiyono tak gentar menghadapi tantangan hidup, dengan berbekal ketelatenan, kesungguhan dan niat pantang menyerah, Wiyono menjajakan barang dagangannya kepada masyarakat  yagg melintas di depannya.

Wiyono merupakan salah satu anggota kelompok Persatuan Penyandang Disabilitas Sukoharjo, sebelumnya telah mendapatkan pelatihan sesuai kemampuan dan keinginannya. Dan menekuni kerajinan bambu itulah yg dipilihnya.

Walaupun dengan penghasilan yang tidak terlalu besar, namun Wiyono bersyukur dapat mengais riski di Yogyakarta dengan menjual kerajinan bambunya.

Ia pun mensyukuri apa yang ada pada dirinya. Sebab baginya, hidup adalah anugerah dan tetap menjalani hidup ini dengan melakukan yang terbaik. Bagi Wiyono, hidup memang harus tetap berlanjut, meski terkadang kecut. (yus/yyw).

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00