Cap Go Me Dari San Kew Jong

KBRN,  Pontianak : Setiap kali saya menjejak ke Singkawang pikiran saya selalu menerawang pada keadaan tanah ini dulu. Bagaimana orang-orang Tionghoa membangun setapak demi setapak perkampungannya. Mereka pastilah perantau tangguh dan petualang ulung. Datang jauh-jauh dari daratan di Asia Timur. Saya, kagum sendiri membayangkan jejak-jejak mereka.

Singkawang merupakan wilayah yang berada di Pesisir Barat Borneo. Nama Singkawang sendiri berasal dari bahasa Tionghoa yakni San Kew Jong yang berarti (Gunung di Mulut Lautan). Wilayah yang terlihat dari lautan sebagai bukit yang terletak di Muata Sungai.

Daerah yang dianggap P.J. Veth sebagai tempat tersubur dan terindah diantara tempat-tempat lain di Borneo bagian barat. Kehidupan masyarakat Tionghoa merupakan ciri kuat dari kota ini dari percakapan saya dengan Ivan yang bekerja di Pemkot Kota Singkawang.

Kami tahu bahwa potensi pariwisata kota ini sedang digarap secara khusus dan serius oleh pemerintah daerahnya. Tidak hanya pariwisata alam tapi juga pariwisata sejarah. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan kota ini ke dunia luar sebagai ikon pariwisata Kalimantan Barat. 

Ciri khas Tionghoa yang melekat pada kota ini, tampaknya berhasil menarik wisatawan untuk berkunjung ke kota 1000 Klenteng ini. Ada banyak hal yang bisa lihat dari kehidupan Singkawang dan masyarakatnya dari sudut-sudut Pecinan dan Klentengnya. Meski idola pada semesta Singkawang tetaplah pada event Cap Go Meh.

Asal muasal perayaan Cap Go Meh ini memiliki banyak versi, satu diantaranya adalah pada Dinasti Zhou ( 770 - 256 sebelum Masehi ) yang diyakini mengawali perayaan Cap Go Meh setiap tanggal 15 malam bulan satu imlek. Selama puluhan abad kepercayaan dan tradisi budaya ini berlanjut turun-temurun, baik di daratan Tiongkok maupun diperantauan etnis Tionghoa di seluruh dunia termasuk di Singkawang.

Tahun ini, Festival Cap Go Meh 2020 di Singkawang berlangsung selama 15 hari, mulai dari tanggal 23 Januari hingga 9 Februari. Dengan beberapa rangkaian acara mulai dari malam hiburan Imlek, ritual cuci jalan, stand imlek di Stadion Kridasana dan Pawai Tatung tentu saja. Ada yang spesial dari acara yang dibuka  menteri Agama RI dan dihadiri  Gubernur Kal-Bar tahun ini, yakni terpecahkannya rekor MURI untuk Pagoda setinggi 20.20 cm. (Hera Yulita/Joss)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00