Adam, Sang Kolektor Bibit Buah Unik

KBRN, Pontianak: Provinsi Kalimantan Barat yang berjuluk Bumi Khatulistiwa begitu kaya akan berbagai jenis buah. Sebagian memiliki nama yang unik, bahkan sulit untuk mencari padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Pada bulan tertentu berbagai jenis buah lokal memasuki masa panen dan warga di pedesaan kemudian memasarkan hingga sampai ke Kota Pontianak.

Seorang warga Kota Pontianak, Hendrikus Adam, tak ketinggalan untuk membeli buah-buah lokal di saat musim panen tiba. Namun bukan sekadar untuk konsumsi, melainkan mengambil bijinya dan menjadikannya sebagai bibit tanaman. Bagi Adam, mengumpulkan buah lokal bukan hanya soal keunikan nama, keragaman bentuk, tapi juga aspek historis dari komunitas suatu daerah.  

“Umumnya buah-buah lokal itu biasanya tumbuh di Tembawang, yang menjelaskan bahwasanya ketika aneka jenis buah itu masih didapatkan, artinya itu linear dengan keterjagaan wilayah pemukiman warga, terutama dengan adanya aneka jenis pohon buah. Misalnya durian, ada durian di kampung itu, artinya kan itu menjelaskan juga soal bagaimana kemudian masyarakat di komunitas itu sudah sejak lama ada, kan begitu, dan itu kemudian ditanam oleh leluhurnya,” ungkap Adam.

Saat ini, Adam tinggal di Kompleks Pondok Citra Utama, di Kecamatan Pontianak Barat. Di rumahnya inilah, Adam menyemai dan membibit berbagai jenis buah. Ada biji yang harus disemai dahulu, namun ada juga yang dapat langsung ditanam di polibek. Polibek memang menjadi pilihan tepat mengembangkan tanaman guna menyiasati lahan yang terbatas di kompleks perumahan perkotaan. Adam kemudian mempelajari budi daya berbagai jenis buah tersebut, termasuk menggali aspek historisnya secara otodidak.

“Teman-teman Kita di kota, entah itu .. yang dia nggak kenal kan, atau ndak tahu nama buah lokal itu, tapi dengan Kita .. misalnya membawa bibit itu, lalu kemudian ada namanya, nah, secara nggak langsung itu juga sarana Kita untuk memberikan informasi kan ke masyarakat atau teman-teman Kita di perkotaan, terkait dengan aneka jenis bibit buah lokal atau bibit kayu lokal,” terangnya.

Adam tak ingat kapan pastinya mulai membibit buah lokal. Namun bidang pertanian bukanlah hal asing baginya. Karena memang berasal dari daerah agraris di Kabupaten Landak.

“Itu bagian dari cara sebetulnya untuk memperkenalkan bibit ya .., buah dengan beragam jenisnya, secara nggak langsung itu juga bagian dari ajakan merawat bumi. Karena kan bibit itu kemudian pada akhirnya ditanam. Meskipun nggak masif, Saya kira itu upaya kecil untuk memunculkan kesadaran lah berkaitan dengan gerakan menanam kan, yang penting dimulai dari hal-hal yang kecil, nggak juga harus bombastis kan,” tambahnya.  

Menurut Adam, menyebarkan tanaman buah lokal hasil pembibitannya secara tidak langsung juga turut melestariakan bahasa lokal. Sebab sebagian tanaman maupun buah memang dinamakan dalam bahasa lokal. Penyebutan beberapa nama buah ada yang mirip antara satu daerah dengan daerah lain, namun ada juga yang berbeda jauh.     

“Langsung maupun tidak, dia menyambungkan relasi antara desa dengan kota bahwa keterjagaan bibit yang ada di desa, di kampung itu penting juga mendapat dukungan dari masyarakat di perkotaan. Disamping memang pengetahuan terkait dengan aneka jenis buah lokal itu juga menjadi penting dimiliki oleh masyarakat kota. Karena dengan dia tahu, dengan dia mengerti, mestinya penilaian, perspektif dia terkait dengan situasi di kampung dan bahkan juga, misalnya soal keberpihakannya terkait dengan situasi masyarakat di kampung itu akan lebih nyambung,” tuturnya.          

Inisiatif Hendrikus Adam mengumpulkan dan membibitkan aneka buah lokal, meskipun sederhana dan secara kuantitas belum seberapa, namun telah menjadi bagian dari kampanye pelestarian tanaman endemik di Bumi Khatulistiwa.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00