Masa Pendudukan Facisme Jepang di Kalbar [IV]

Dalam usaha Jepang untuk menghancurkan perjuangan rakyat tersebut di Kalimantan Barat Khususnya, pada bulan Desember 1943 Jepang telah memanggil semua kaum pergerakan dan pimpinan-pimpinan bangsa Indonesia dan raja-raja untuk diajak berunding di Gedung Medan Sepakat Pontianak, yang dihadiri kira-kira 500 orang.

Dalam perundingan, pemimpin pergerakan telah mengatur siasat dengan menyediakan wanita yang akan melayani dan mendekati para opsir Jepang untuk diracuni. Akan tetapi siasat ini tak berhasil karena Jepang telah mengetahui siasat tersebut, dan dikuatkan dengan kecurigaan-kecurigaan mereka terhadap bangsa Indonesia.

Gedung Medan Sepakat Pontianak tempat pertemuan itu atas perintah Jepang telah dikepung tentara Jepang tanpa disadari oleh wakil-wakil bangsa Indonesia yang menghadiri pertemuan tersebut.

Para Wanita telah berhasil menghidangkan makanan beracun yang telah disediakan dan ada diantara opsir Jepang yang telah terlanjur memakannya.  

Kecurigaan Jepang bertambah besar sehingga memerintahkan menutup semua pintu dan memblokir jendela-jendela dengan senapan mesin. Tak seorangpun dibenarkan ke luar ruangan. Setelah semua orang dan makanan digeledah, maka tanpa kecuali seorangpun, semua pengikut pertemuan tersebut diangkut dengan berpuluh-puluh truk ke luar kota. Terjadilah apa yang disebut pembunuhan massal yang sangat diluar perikemanusiaan terhadap rakyat Kalimantan Barat.

Tindakan selanjutnya ialah dengan melarang orang-orang berkumpul lebih dari 2 orang. Jam malam diadakan, dan pada tiap malam hari dilakukanlah penangkapan-penangkapan terhadap orang-orang dan pemuda yang dicurigai, diangkut dengan truk yang diselubungi dengan kain hitam. Dan merekapun menjadi korban pembunuhan massal tersebut.

Surat kabar “Borneo Shimbun” membuat berita-berita dengan huruf besar disertai gambar-gambar orang komplotan pemberontak telah terbongkar, dan pemimpinnya ditembak mati. Gambar-gambar ini antara lain memuat:

  1. Dr. Rubini bersama isterinya  
  2. Demang Muslimin Nalaprana, yang menjalankan pemerintahan Kesultanan Pontianak
  3. Lumban Pea
  4. Panaingan
  5. Sjarif Mohamad Alkadrie-Sultan Pontianak
  6. Moh. Ibrahim Tsafiudin-Sultan Sambas
  7. Gusti Abdulhamid    - Panembahan Ngabang
  8. Ade Mohamad Arief – Panembahan Sanggau
  9. Gusti Djafar              - Panembahan Tayan
  10. Mohamad Thaufik     - Panembahan Mempawah
  11. Gusti Saunen            - Panembahan Ketapang
  12. Tengku Idris             - Panembahan Sukadana
  13. Gusti Mesir               - Panembahan Simpang
  14. Rd. Abdul Bahri        - Panembahan Sintang
  15. Gusti Kelip                - Panembahan Sekadau
  16. Sjarif Saleh Idrus     - Panembahan Kubu         

Bersambung ke bagian V

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar