Masa Pendudukan Facisme Jepang di Kalbar [III]

Kekuasan dan pemerintah Jepang atas Kalimantan merupakan kekuasan tersendiri yang terpisah dari pemerintahan Indonesia lainnya, dimana Kalimantan berada dibawah kekuasaan Angkatan Laut Jepang dan membentuk pemerintahan militer yang disebut Minseibu.

Setelah 1942 Jepang berhasil menanamkan kekuasaanya di Kalimantan Barat maka pemerintah pendudukan Jepang mulai dengan kekejaman facismenya dalam usaha menanamkan kekuasaannya dan dalam usaha memeras kekayaan alam dan bangsa Indonesia dalam rangka mencapai tujuan perang facisnya.

Bahan makanan menjadi sulit, Jepang memaksa rakyat mengumpulkan bahan makanan dan dana-dana kekayaan lainnya dikumpulkan bagi kepentingan perang Jepang. Akibatnya kelaparan menjangkit, disamping kekuasaan facis Jepang yang semakin keras melakukan penindasan dan penyiksaan. Maka timbullah reaksi di kalangan bangsa Indonesia untuk berusaha bangkit menentang dan mengadakan perlawanan terhadap Jepang.

Pada permulaan tahun 1943 datang ke Pontianak, rombongan dari Banjarmasin antara lain Dr. Susilo dan kawan-kawannya yang telah mengadakan permufakatan dengan Dr. Rubini dan pemuka-pemuka lainnya dimana mereka telah menyatukan tekad untuk mengadakan perlawanan terhadap Jepang.

Gerakan Dr. Susilo ini sangat berpengaruh dikalangan rakyat untuk berjuang menentang Jepang dan menuntut kemerdekaan Borneo Barat. Setelah Susilo Kembali ke Banjarmasin, ditangkap oleh Jepang dan dihukum tembak mati.

Pada permulaan Jepang datang ke Pontianak, terdapat 13 perkumpulan yang sangat berpengaruh dikalangan rakyat. Pemerintah Jepang kemudian melarang semua perkumpulan yang bersifat politis, dan ke-13 perkumpulan itu kemudian menyatukan diri dalam organisasi Nissinkai dibawah pimpinan Noto Sudjono, yang pada lahirnya berpura-pura berpihak kepada Jepang.

Pada bulan Juni 1942 Nissinkai mendesak Pemerintah Jepang untuk mengakui organisasi tersebut sebagai organisasi legal, tetapi karena Jepang mencurigainya, maka pada bulan Oktober 1942 Minseibu membubarkan Nissinkai.    

Nissinkai kemudian berubah menjadi Pemuda Muhammadiyah yang melanjutkan perjuangan bawah tanah terhadap Jepang.

Selama kekuasaan facis Jepang di Kalimantan Barat terkenal kekerasan dan kebengisan diluar perikemanusiaan dengan peristiwa pembunuhan terhadap rakyat Kalimantan Barat selama tahun 1943-1944.

Penyembelihan massal terhadap kurang lebih 10.000 rakyat Kalimantan Barat yang terdiri dari keluarga raja-raja, kaum terpelajar, pegawai negeri, pemimpin agama dan pergerakan nasional dan pemuda.

Pembunuhan massal itu semata-mata berdasarkan kecurigaan Jepang terhadap golongan dan orang-orang yang mungkin akan membahayakan kedudukan dan kekuasaan mereka. Dengan tindakan tersebut Jepang berharap akan dapat mematahkan segala usaha untuk melawan mereka oleh bangsa Indonesia.

Prasangka ini tambah mendalam dengan adanya informasi dari Kempetai Jepang bahwa dikalangan kaum pergerakan dan raja-raja terdapat aksi-aksi gelap untuk membantu Sekutu. Berdasarkan kecurigaan dan kekhawatiran Jepang inilah mereka melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan sewenag-wenang terhadap bangsa Indonesia.

Sebaliknya Jepang mencoba menanamkan pengaruhnya terhadap pemuda dan anak-anak sekolah. Para pemuda dan pelajar didekati dan diorganisir sesuai dengan politik facis Jepang.

Mereka diberi pelajaran bahasa dan kebudayaan Jepang bahkan dididik dan dilatih kemiliteran. Para pemuda dilatih dalam barisan Seinendan, Keibodan, dan lain-lain. Kemudian pemuda-pemuda Indonesia juga diterima dalam Kaigun Heiho, yang ternyata sebenarnya mereka dijadikan romusha untuk dijadikan perisai dalam peperangan menghadapi Sekutu.

Disamping penindasan moril dan materiil, Jepang berusaha untuk merubah cara hidup sehari-hari dan kebudayaan bangsa Indonesia dengan tata kehidupan dan kebudayaan Jepang.

Akan tetapi segala kekejaman dan penindasan Jepang terhadap bangsa Indonesia bukanlah dapat mematikan jiwa perjuangan bangsa Indonesia, malah sebaliknya semakin membangkitkan perlawanan dan perjuangan.

Dan kekhawatiran serta kecurigaan Jepang atas perlawanan rakyat tersebut memang besar dan beralasan. Kecurigaan ini kemudian dapat dibuktikan dengan adanya komplotan gelap yang bertujuan membantu Sekutu seperti Gerakan Dr. Haga, bekas Gubernur Kalimantan semasa penjajahan Belanda di Banjarmasin.    

Bersambung ke bagian IV

 

   

  

 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar