Bincang Masa Depan Gerakan Masyarakat Sipil di Rumah Gerakan Kawan Gemawan

KBRN, Pontianak: Bumi (Bincang-Bincang Untuk Masyarakat Indonesia) digelar oleh Gemawan di Rumah Gerakan Kawan Gemawan di Kota Pontianak, Provinsi Kalbar, Rabu (26/1/2022) siang. Talkshow mengusung tema "Masa Depan Gerakan Masyarakat Sipil dan Perubahan Sosial". 

Melalui aplikasi Zoom, Dr. Myrna A. Safitri, S.H., M.Si. Dosen Antropologi Hukum Pascasarjana Universitas Pancasila/Deputi III BRGM RI menjadi pemateri pertama dengan tema "Transformasi Gerakan Masyarakat Sipil di Indonesia". Myrna mengapresiasi inisiatif Gemawan untuk bertransformasi dan menjadikan Gemawan tuan rumah perubahan pada gerakan masyarakat sipil. 

"Diketahui bahwa masyarakat sipil sebagai sebuah jembatan penghubung untuk menyuarakan kepentingan, kebutuhan, problem dari masyarakat kepada pihak-pihak luar dalam hal ini adalah negara," ujar Myrna.

Di masa-masa sebelumnya, lanjut Myrna, ada jurang yang sangat besar antara negara dengan rakyat. Namun, kemudian gerakan masyarakat sipil mengambil peran yang besar untuk memberikan kontrol pada kebijakan publik, dan berbicara untuk penguatan masyarakat. 

"Kita melihat bahwa perubahan itu mempunyai banyak arena dan pilihan terhadap arena itu adalah sebuah pilihan sadar yang tidak bisa dikomentari dari satu orang ke orang yang lain," kata Myrna, seraya menambahkan bahwa masing-masing mempunyai pertimbangannya sendiri-sendiri.

"Tentu saja masing-masing akan mengambil inisiatif-inisiatif yang tentu saja berbeda sesuai dengan arena dimana dia berada," pungkas Myrna.

Pemateri kedua, Ir. Tri Budiarto, M.Si. (Deputi BNPB RI 2014-2017) yang juga melalui Zoom, dengan tema "Masyarakat Sipil dan Gerakan Kemanusiaan". Tri menjelaskan bahwa gerakan kemanusiaan adalah keterpanggilan orang atau kelompok orang untuk memberi perhatian lebih pada orang yang membutuhkan sesuatu.

"Bisa itu karena bencana, bisa itu karena konflik, bisa itu karena persoalan-persoalan lain," terang Tri.

Posisi masyarakat sipil saat ini, lanjut Tri, jauh lebih kuat dan lebih baik dibandingkan sebelum era reformasi, tinggal bagaimana sebetulnya mengisi perubahan ini pada sebuah keinginan bersama untuk menghubungkan persoalan di tingkat groos dengan negara. 

Namun, saat ini semakin sulit untuk memetakan atau mengelompokkan atau clustering masyarakat sipil secara tegas. Tidak mudah membuat clustering dari kelompok masyarakat sipil yang ada di Indonesia. 

"Misalnya grup A kita kelompokkan masyarakat sipil yang bergerak di bidang pemberdayaan rakyat. Apa buktinya? Apa proses dan apa hasil transformasi mereka selama ini?" Tri mencontohkan.

Ketika kita kesulitan mendapatkan jawaban-jawaban kongkrit dari situ, lanjutnya, maka semakin sulit kita menggambarkan peta sebaran dan peta kekuatan nyata dari kelompok masyarakat sipil yang ada di Indonesia. 

"Semakin hari semakin bertambah jumlahnya, tetapi yang patut dipertanyakan adalah bagaimana sebetulnya kesungguhannya di dalam membangun kekuatan masyarakat sipil," ungkap Tri.

Catatan lain dari Tri adalah sulit menemukan masyarakat sipil yang berpikir dan bertindak independen. 

"Ini saya kira semakin jelas, semakin kongkrit gambarannya karena kita hampir setiap detik, setiap waktu selalu disajikan berita-berita melalui media sosial," papar Tri.

Mereka berbicara justru mewakili masyarakat sipil, tapi apa yang disampaikan dalam kalimat-kalimat mereka, justru sulit untuk memberikan porsi dan posisi independen terhadap mereka.

"Saya tidak berharap begitu terhadap teman-teman Gemawan, biasakanlah independen untuk membangun bersama untuk kebesaran Kalimantan Barat ini," ingat Tri.

Wakil Wali Kota Singkawang Drs. Irwan, M.Si. menjadi pemateri ketiga, dengan tema "Peran Strategis Masyarakat Sipil dalam Percepatan Pembangunan dan Perubahan Sosial". Menurut Irwan, tema gerakan masyarakat sipil kerap dibicarakan, namu belum punya tolak ukur untuk mengukur kinerja masyarakat sipil. Seperti pembangunan manusia yang ada indeks nya.

"Bagi Gemawan ini harusnya dipikirkan, bagaimana khususnya di Kalbar. Coba buat penelitian yang mengukur indeks masyarakat sipil di Kalimantan Barat," ujar Irwan.

Karena jika punya indeks, orang tidak bisa sembarangan klaim, tidak bisa sembarangan mengatasnamakan. Saat ini seorang bisa mengatasnamakan etnis, mengatasnamakan masyarakat, dan parahnya lagi mengatasnamkan agama dalam membuat opini di media sosial.

"Nah saya menyarankan selesai [acara] ini Gemawan coba menginisiasi mungkin bekerjasama dengan pemerintah provinsi atau kabupaten kota, lakukan penelitian," kata Irwan.

Kemudian Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan, SH. menjadi pemateri keempat, yang juga mengangkat tema "Peran Strategis Masyarakat Sipil dalam Percepatan Pembangunan dan Perubahan Sosial". Muda menyatakan dari sudut pandang pemerintah bahwa gerakan masyarakat sipil memang harus ada, karena memang menjadi kebutuhan. Birokrasi juga memiliki pengaruh yang sangat besar untuk membuat masyarakat bisa bergerak.

"Dengan pemahaman yang sama ini kita harapkan semuanya bergerak sama-sama," ujar Muda.

Resi Jesita dari Kitabisa.com dengan tema "Gerakan Donasi Publik untuk Keadilan Sosial" menjadi pemateri berikutnya. Ia menceritakan sekilas terbentuknya Kitabisa yang berawal dari inisiatif mahasiswa UI yang berprestasi dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Akademisi Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Dr. Hermawansyah, S.H., M.Hum. menjadi pemateri selanjutnya dengan tema "Peluang dan Tantangan Gerakan Masyarakat Sipil dan Perubahan Sosial". Hermawansyah menyatakan telah terjadi perubahan dalam ketatanegaraan Indonesia sehingga membuka ruang bagi masyarakat sipil untuk berpartisipasi. 

"Perubahan dalam ketatanegaraan kita itu bukan hanya dalam demokrasi, justru merubah juga diksi-diksi yang kita gunakan," ungkap Hermawansyah. 

Perubahan hukum juga memberikan ruang kepada masyarakat sipil untuk memperoleh legalitas yang sangat kuat di dalam mata hukum. Bisa dilihat dalam berbagai produk perundangan yang memberikan ruang masyarakat untuk berperan.

"Pasti ada satu klausul tentang hak masyarakat," tambah Hermawansyah.

Direktur Gemawan Laili Khairnur kemudian menjadi pemateri dengan tema "Daya Lenting, Inovasi dan Keberlanjutan Gerakan Masyarakat Sipil". Laili kembali mendorong peran perempuan untuk terus berpartisipasi dalam pembangunan. Termasuk mendorong tampilnya anak-anak muda.

Ia menjelaskan bahwa Gemawan BUMI merupakan forum dialog dan ruang belajar multi-pihak yang diselenggarakan secara berkala untuk memperkuat wacana publik dalam upaya mendorong perubahan sosial. Wacana yang dibahas didalam forum ini adalah tematik faktual sebagai respon terhadap dinamika perubahan situasi sosial, ekonomi, politik dan budaya yang semakin cepat dan complicated.

“Ini [dialog] pertama kali, akan ada diskusi-diskusi lain dan kami membuka peluang, membuka ruang bagi teman-teman, anak muda untuk tampil di forum-forum diksusi kita,” pungkas Laili.  

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar