Buang Sampah Sembarangan, Ancam Banjir di Pontianak

KBRN, Pontianak : Pemerintah mulai sadar bahwa sampah merupakan satu diantara penyebab banjir di Kota Pontianak. Bahkan kesadaran ini sebenarnya juga menjadi tamparan bagi Pemerintah, karena kinerja di sector sampah sejauh ini gerakannya minus. Sudah seharusnya Pemerintah melalui Dinas yang berkompeten jika ada penumpukkan di parit-parit segera menanganinya.

“Selain itu menurut saya terkait persoalan sampah ini hendaknya cross check kembali  parit-parit yang ada di Kota Pontianak ini, khususnya Kawasan-kawasan langganan banjir itu apakah sudah terkoneksi  antra satu parit dengan parit lainnya itu menjadi penting juga,”harap Pemerhati Lingkungan Kota Pontianak, Syamhudi kepada RRI, Minggu (19/9/2021).

Syamhudi yakin sebenarnya masyarakat bisa diajak kerjasama  asal dilakukan dengan proses pendampingan yang tidak instan, apalagi masyarakat well Come dengan aturan-aturan persampahan yang ada di Kota Pontianak ini. Contoh penguranmgan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dari banyak dan sekarang berkurang itu juga diikuti masyarakat.

Pemerhati lingkungan yang juga Ketua Kreasi Sunga Putat (KSP) Pontianak ini mengatakan, jika kembali lagi bicara tentang aturan Pemerintah itu, kita  harus bicara duluan dengan punishment.

“Sejatinya masyarakat dan pemerintah harus kolaborasi, pemerintah dengan sector energi yang dimiliki, masyarakat dengan semangat gotong royongnya juga yang dimiliki, dan ini harus menjadi jalinan atau benang merah yang harus ditarik, karena biasanya masyarakat yang bergerak tetapi pemerintahnya tidak mensuport, ada pula juga pemerintah mau bergerak masyarakatnya tidak mendukung, karena memang tidak ada mediasi atau mediator penghubung diantaranya, dan sepertinya melihat parit hanya sebagian satu segmentasi yang tidak penting, padahal untuk kota Pontianak itu sangat penting dan menjadi urat nadi kota ini,”harapnya.

Kresi Sungai Putat (KSP) kemudian terus bergerak dengan inovasi-inovasi yang ada, pada akhirnya kita mencoba untuk masuk pada sector pemanfaatan dan pengolahan sampah organic yang tonasenya luar biasa di kota Pontianak ini. Tetapi ini hanya skala kecil, skala komunitas, kalau kemudian ini ditangkap pemerintah dengan skala besar  janganlah sampah 200-400 ton kita olah sampah, 100 ton saja per bulan akan sangat berdampak sekali tidak hanya masyarakat dan lingkungan tetapi juga dari pemerintah, itu yang menjadi penting.

“Makanya kita terus mendorong, salah satu sector,  pendekatan pengolahan sampah ini yang cukup banyak, ada sector bank sampah, baik organic maupun an organic, dimana saya lebih focus ke pada sampah organic.”ujarnya.

Yang terakhir dan ternpenting, ditegaskan Syamhudi, proyeksi pembangunan ke depan harus berproyeksi parit, tidak bisa lagi tidak mengindahkan parit, artinya kalau parit masih menjadi korban ambisi pembangunan kedepan, dan digantikan dengan fasilitas-fasilitas yang lain, maka banjir di kota Pontianak tidak hanya menjadi ancaman tetapi akan menjadi kenyataan. (*)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00