Menggali Nilasi Historis Mandor

KBRN, Pontianak: Hari Berkabung Daerah diperingati setiap 28 Juni oleh Pemerintah dan masyarakat di Bumi Khatulistiwa. Namun, beberapa tahun belakangan gregetnya terus menurun.  

Terkait hal itu, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya/ BPNB Kalimantan Barat Yusri Darmadi menilai perlu ada kajian yang lebih komprehensif baik secara metodologi maupun peristiwanya, sehingga masyarakat dapat mengetahui lebih detail dari peristiwa tersebut.

“Sangat Saya sayangkan kalau hanya berhenti dengan kajian yang lama, padahal dengan kajian yang baru ini Kita bisa mendapatkan data dari mana-mana,” ungkap Yusri di Pontianak Sabtu (19/06/21) pagi, seraya berharap pemerintah provinsi maupun kabupaten kota di Kalimantan Barat bisa meng-update kajian tentang peristiwa Mandor.

“Bersyukur kalau saat memperingati peristiwa Mandor tersebut, diadakan seminar, diskusi atau launching buku tersebut. Itu.. Saya yakin akan lebih greget di masyarakat, bukan sekadar upacara peringatan, setelah itu ya.. sudah.., makanya gregetnya berkurang. Apalagi kalau diperintahkan untuk mengibarkan bendera setengah tiang,” ujar Yusri.

Selain Upacara di Makam Juang Mandor yang berada di Kabupaten Landak, setiap 28 Juni seluruh instansi pemerintah, BUMN, BUMD maupun warga juga diwajibkan untuk menaikkan bendera setengah tiang.

“Kalau dari pemerintah menginisiasi untuk hal tersebut (red: kajian), Saya rasa masyarakat pun akan antusias mengingat kembali peristiwa itu, agar kedepan Kita tidak lupa akan jasa-jasa korban tersebut,” jelas Yusri.

Menurut Yusri, lokasi makam yang berada di Kecamatan Mandor juga bisa dikaji, sebab nama Mandor sendiri sudah dikenal sebelum kedatangan Jepang, sebagai satu diantara tempat kongsi penambangan emas, selain Monterado yang berada di Kabupaten Bengkayang.

“Secara historis Kita melihat lokasi Mandor ini begitu kuat sisi sejarahnya, Kita harus membuat tadi.. (red: kajian) agar masyarakat mengetahui betapa pentingnya wilayah ini. Dengan adanya kajian, penelitian dan diskusi tentang tempat ini, Saya rasa itu hal yang menarik, “ lanjut Yusri.

Selain itu, sambung Yusri, Mandor sendiri termasuk wilayah Cagar Alam. Jadi tidak hanya dari peristiwa, Mandor dari sisi alam juga menarik, termasuk keberadaan gunung Nyiut yang sudah pasti juga punya nilai tambah. Tapi tentunya hal itu menuntut adanya kajian.

Kajian ilmiah, dikatakan Yusri, sebenarnya juga ada, namun sekadar menyelesaikan program atau proyek, bukan berbasis substansi. Hanya untuk mengejar penyerapan anggaran.

“Nah, itu yang disayangkan. Padahal, anggaran yang disediakan ini, alangkah baiknya bermanfaat untuk peningkatan pengetahuan masyarakat,” pungkas Yusri.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00