Ketua DPD RI Penyambung Aspirasi Wong Cilik (2)

KBRN, Pontianak : Menggugat Presdential Threshold 20%Baru baru ini La Nyalla dan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH (Prof. Yusril) masing masing dengan latar belakang berbeda. La Nyalla mewakili DPD RI dan Prof. Yusril mewakili Partai Bulan Bintang (PBB). Keduanya menggugat Presidential Threshold (PT) 20% ke Mahkamah Konstitusi (MK). Argumentasi hukumnya bahwa "Presidential Threshold" diskriminatif dan menghalangi Hak "Nyapres" warga negara Indonesia yang lebih mampu sekalipun. "Dari Bahasa politik, kebijakan PT 20% itu sesungguhnya akal akalan pihak pemenang pemilu 2014 dan 2019,"ungkap ahli politik etnisitas, Muhammad Dahrin Laode, Sabtu (2/7/2022).

Mungkin tujuannya agar faktor dominan pencalonan Presiden dan Wakil Presiden tetap ada pada pihak mereka. Jika tujuan ini benar adanya, ini jelas mencederai demokrasi di Indonesia yang telah menjadi konsensus nasional sejak tanggal 21 Mei 1998 lalu. Nama persisnya Anarchy Democracy yang lebih berat dari tirani demokrasi. Dari sisi konstitusi, semua konsideran Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, tak satu pasal pun atau tak satu klausul pun UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa dalam pencalonan presiden dan wakil presiden  agar ada syarat jumlah persentatif tertentu yang akhirnya muncul PT 20% tersebut. Dalam hal ini upaya La Nyalla dan Prof. Yusril demokratis, konstruktif, dan konstitusional. Jika wong gede menolaknya, wong cilik wajib membangkang pada wong gede Anarchy Democracy.

La Nyalla dan Politik NegaraDalam hubungan ini La Nyalla menuntut perubahan radikal melalui  suprastruktur politik. Ia menuntut agar wong cilik dan wong gede secara bersama sama dan dalam mekanisme demokratis sudi mengembalikan UUD 1945 asli. Tujuannya tak lain “mengembalikan kedaulatan negara kepada wong cilik” sebagai pihak pemilik absolut. Dalam kontekstual ini, La Nyalla sangat nasionalis atas dasar paham Politik Negara. Bahwa Negara ialah kekuasaan politik dan oleh sebab itu negara adalah kekuasaan diskriminatif atas bangsa lain atau negara lain. Jika warga Negara Indonesia asal bangsa lainnya keberatan dengan penegakkan politik negara ini, tak perlu bertengkar dengan mereka. Suruh cari negara lain saja! Ini ialah inti nasionalisme dalam makna Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta. Pribumi yang dijajah, Pribumi yang merdeka, Pribumi pemegang kedaulatan negara ini! Ini aksioma, jangan mau dibohongi bagai Belanda dahulu.Kemerdekaan ialah jembatan emas mencapai masyakarat adil dan makmur kata Bung Karno. Tetapi mengapa UUD 1945 pasal 6 Ayat (1) semula Presiden dan wakil presiden ialah orang Indonesia asli dirubah menjadi Presiden dan wakil presiden ialah warga Negara Indonesia…”. Lupakah bahwa warga negara dua kategori orang bangsa Indonesia asli dan orang bangsa lainnya yang menjadi warga negara? Kategori kedua ini tak berhak atas kedaulatan negara yang jadi hak milik absolut orang bangsa Indonesia asli! Seluruh dunia berlaku seperti itu. Baca paham J.J. Rousseaue bahwa kedaulatan tidak bisa dicabut dan tidak bisa dibagikan. Tetapi kasus realitas sosial wong gede negeri ini menunjukkan telah membagikan kedaulatan negara hak milik absolut wong cilik ini. Di sini letak kekuatan social politics movement La Nyalla yang kemudian dituduh macam macam oleh kader politik wong gede. Sebetulnya harus didukung karena Ia tunjukan kebenaran.

Tujuannya mulia, ingin mengembalikan Politik Negara seutuhnya kepada wong cilik sesuai amanat UUD 1945 pasal 1 ayat (2) bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat...”.  Jika pun nantinya La Nyallah nyapres berpasangan dengan Prof. Yusril, letak salah dan khilaf keduanya ada di mana? Bukankah keduanya warga Negara Indonesia yang memiliki hak sama dalam demokrasi di Indonesia? Sudahlah, ada baiknya dukung social politics movement La Nyalla dengan semboyan mulia “kebenaran bisa dibohongi namun kebenaran tak bisa dikalahkan” menuju arah perubahan sosial konstruktif dan konstitusional sesuai dengan cita cita Negara Proklamasi Soekarno-Hatta. Kita tunggu dengan keyakinan bahwa bila kebenaran wong cilik telah datang maka kebohongan wong gede segera hancur lebur. La Nyalla dan Prof. Yusril dua tokoh nasional yang berkomitmen untuk menyambungkan aspirasi wong cilik kepada wong gede.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar