Ketua DPD RI Penyambung Aspirasi Wong Cilik (1)

KBRN, Pontianak : Belakangan ini Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Ir. H. A.A La Nyalla Mahmud Mattalitti (La Nyalla) tiba tiba populis. Foto fotonya terpampang di mana mana tempat terpilih. Baleho ada di Jakarta, Bogor, Ciawi, Cianjur, Padalarang, Bandung, dan lain seterusnya. Pengaruh suara aspiratifnya bagai kembang api meletup indah di ruang gelap gulita publik  politik. "Sontak banyak pihak terkejut. Sampai ada yang sinistis menggunakan kalimat bahwa La Nyalla manfaatkan DPD RI untuk kepentingan pribadi; ada pula yang bilang La Nyalla mau nyapres 2024 dan sinisme tak benar lainya. Pokoknya semua tuduhan negatif dialamatkan padanya oleh “agen agen” kebohongan kebenaran politis,"ungkap ahli politik Etnisitas, Muhammad Dahrin Laode, Sabtu (2/7/2022).

Tidak! Seyogyanya tak usah buru buru sinis terhadap social politics movement Lanyalla. Sebagai pejabat negara, ia tampak menyerap aspirasi wong cilik yang sejak hasil Pemilihan Umum (Pemilu) demokrasi pertama era reformasi 1999 hingga saat ini, suara wong cilik diperlukan nilai politisnya oleh wong gede. Namun usai nilai politis wong cilik diberikan kepada wong gede, aspirasinya pada aspek kedaulatan negara milik wong cilik tampak diabaikan oleh aktor aktor penentu kebijakan pada suprastruktur politik dan di infrastruktur politik negeri ini. Perdefinisi wong cilik ialah semua warganegara Indonesia bukan kategori aktor dalam ruang suprastruktur politik dan infrastruktur politik. Sedangkan wong gede ialah semua warganegara Indonesia yang masuk kategori aktor suprastruktur politik dan infrastruktur politik mulai struktur nasional hingga di daerah pada struktur terrendah.Keluhan wong cilik itu didengar oleh La Nyalla selaku pejabat tinggi negara yang tampil bagai wong cilik. Sebab Ia berteriak persis wong cilik. Tekadnya hanya satu “kebenaran aspirasi wong cilik harus diperjuangkan karena mereka terlalu jauh jaraknya dengan wong gede. Dasar kejuangan La Nyalla  ialah kesadaran moral politik bahwa “kebenaran hanya bisa dibohongi tapi kebenaran tak bisa dikalahkan”. Dalam pada itu, Ia mencoba menyambung aspirasi wong cilik terabaikan itu kepada wong gede melalui saluran keterbukaan di ruang publik politik gelap gulita akibat kebohongan wong gede. Mana tau diperhatikan wong gede yang ada di ruang suprastruktur politik dan ruang infrastruktur politik nasional.  Apa saja social politics movement La Nyalla yang fenomenal?

Hubungan Pusat dan DaerahSocial politics movement La Nyalla konstruktif dan konstitusional berhubung ada dibawah naungan UUD 1945 pasal 22D ayat (1) tentang hubungan pusat dan daerah. Wong cilik sebagian besar ada di daerah. La Nyalla menghubungkan aspirasi kedaulatan negara milik wong cilik kepada wong gede, karena memang sesuai fungsinya menurut konstitusi tersebut,  yang kini menjadi keluhan hampir seluruh wong cilik di negeri ini. Pada mana, wong gede seolah “pekakkan telinge” agar tak dengar lontaran kata kata aspirasi wong cilik terkait kedaulatan negara sudah berubah menjadi The Colonies of Nation yang dikira wong gede sebagai kemajuan pembangunan demokrasi. Sebagai wong cilik tentu merasa heppy melihak social politics movement Lanyalla akhir akhir ini. Pada hal Ia juga bagian dari wong gede sebetulnya! Selama ini wong gede tak ada seperti La Nyalla yang amat peduli dengan aspirasi wong cilik. Meskipun ada banyak wong gede yang menggelorakan jargon wong cilik! Namun tak lebih dari sekedar jargon saja,"tambahnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar