Sutarmidji Memiliki Potensi Besar Maju Pilgub Kalbar Asal Tidak Buat 'Blunder'

KBRN, Pontianak : Pengamat Politik Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak Dr. Yulius Yohanes mengatakan, perlu strategi khusus untuk menghadapi Pilkada Serentak tahun 2024. Pada gelaran pesta demokrasi lokal itu, dipastikan tidak ada lagi calon kepala daerah atau wakil kepala daerah yang menjabat. 

"Tahun 2023 seluruh kepala daerah berakhir masa jabatannya. Kondisi ini harus diperhatikan oleh para calon kepala daerah yang selesai masa jabatannya dan ingin maju kembali pada pilkada," katanya, Selasa (07/12/2021). 

Menurut Yulius, besar kemungkinan para kepala daerah atau wakil kepala daerah yang menjabat sebelumnya maju kembali dalam Pilkada 2024. Apalagi mereka masih memiliki modal sosial yaitu pekerjaan yang dibuat selama menjabat sebelumnya. 

"Modal sosial itu yang menurut saya sangat penting dan menjadi keuntungan bagi calon yang telah menjadi gubernur, bupati atau wali kota, meski sudah tidak menjabat," jelasnya. 

Yulius mencontohkan, satu diantara figur kepala daerah yang memiliki potensi besar untuk maju kembali dalam pilkada adalah Gubernur Kalbar Sutarmidji. Menurutnya, selain memiliki track record yang bagus, Sutarmidji juga dikenal sebagai politisi handal. 

"Beliau (Sutarmidji) memiliki banyak modal sosial. Selain itu prestasi saat menjabat mulai dari wali kota (Pontianak) sampai Gubernur Kalbar, juga akan menjadi nilai tersendiri. Peluang Pak Midji cukup besar untuk mendapat dukungan dari partai politik, meski yang bersangkutan saat ini tercatat sebagai kader PPP," ungkapnya. 

Namun demikian, Yulius menyarankan agar Sutarmidji tidak gegabah menentukan sikap. Artinya, semua catatan baik di dunia politik harus tetap dijaga untuk membuka peluang maju kembali dalam Pilkada 2024. 

"Yang paling penting menurut saya, Pak Midji tidak usah masuk ke kontestasi Pileg. Beliau sudah tidak perlu uji publik lagi. Misanya mau menjadi anggota DPR RI dari partai politik tertentu. Karena ini akan menciderai hubungannya dengan partai politik lain dan masyarakat," terangnya. 

Sedangkan terkait dengan tidak makanya nama Sutarmidji dalam keputusan yang dibuat sejumlah partai politik di Kalbar, Yulius menilai hal itu adalah satu kewajaran. Dalam politik menurutnya, yang berbicara adalah kepentingan. 

"Itu hal yang wajar. Dinamika menuju pilkada masih jauh. Saya yakin ada perubahan keputusan kedepannya," tutup Yulius. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar