Tidak Masuk Daftar Cagub dari Golkar, Pengamat Nilai Sutarmidji Bisa Maju Pilkada dari Partai Lain

KBRN, Pontianak : Pengamat Politik Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak Dr. Jumadi menilai, tidak ada yang luar biasa terkait hasil Rapimda dan Rakerda Partai Golkar Provinsi Kalbar tahun 2021, yang satu diantara keputusan politiknya mencalonkan Maman Abdurahman sebagai Calon Gubernur Kalbar pada Pilkada 2024. 

"Menurut saya itu hal yang wajar. Apalagi Golkar sebagai partai besar di Kalbar. Kaitannya untuk menegaskan bahwa partai punya komitmen dan basis kader mumpuni," katanya, Senin (06/12/2021). 

Jumadi juga menyebutkan, jika proses menuju keputusan politik mengusung calon kepala daerah atau wakil kepala daerah untuk Pilkada 2024 masih panjang. Jadi keputusan yang dibuat partai politik saat ini, masih bisa berubah. 

"Bukan hal luar biasa. (Mendukung cagub)  Inikan berproses, termasuk misalnya juga di dewan pimpinan pusat, Golkar mendukung Airlangga menjadi calon presiden. Ini menyangkut Marwah partai. Tapi dinamika dan proses politik terus berubah, jadi bisa saja endingnya berubah," ujarnya. 

Selain itu, Jumadi juga menegaskan jika peluang Gubernur Kalbar Sutarmidji maju Pilkada terbuka lebar. Apalagi status Sutarmidji sebagai calon petahana meski sudah berakhir jabatannya sebagi gubernur saat Pilkada 2024 digelar. 

"Situasi politik seperti hasil pileg, hasil pilpres 2024 dan menghadapi Pilkada 2024 itukan ada mekanisme lagi. Ada proses yang nantinya akan dibuka oleh partai politik. Partai membuka peluang untuk eksternal partai mendaftar," ungkap Jumadi. 

"Petahana itu tetap akan jadi bidikan partai politik. Partai akan melihat lagi elektabilitasnya, popularitasnya dan kinerjanya," timpalnya. 

Hal itu juga lanjut Jumadi, pernah terjadi pada Pilkada Kalbar 2018. Meskipun bukan kader Partai Golkar, namun kala itu Sutarmidji, maju sebagai calon gubernur berpasangan dengan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalbar Ria Norsan. 

"Bisa saja Pak Sutarmidji yang bukan kader Golkar daftar ke Golkar. Ini terjadi 2018 lalu. Bisa juga daftar ke Demokrat, daftar ke PDI-P, jadi ini hal biasa dan masih jauh," tutupnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar