Harapkan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Berikan Spirit Perubahan Di Tengah Pandemi Covid 19

KBRN, Pontianak: Momentum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, diharapkan dapat memberikan spirit atau semangat perubahan dalam kehidupan masyarakat khusus Umat Muslim ditengah Pandemi Covid 19.

Hal itu ditegaskan Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Propinsi Kalimantan Barat Ridwansyah pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kerjasama Kementrian Agama Propinsi Kalimantan Barat bersama Yaysan Mujahidin dan mitra kerja selepas Sholat Jumat, Jum’at (30/10) di Masjid Raya Mujahidin Pontianak.

“Covid 19 telah banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat di dunia dan terlebih di Kalbar. Dimana, ada tiga aspek yang sangat mempengaruhi antara lain kesehatan, ekonomi, serta sosial. Oleh karena itu, melalui momentum peringatan ini sangat di tunggu oleh seluruh Umat Muslim dan setidaknya bisa bisa membangkitkan semangat untuk tetap berjuang melawan Covid 19,”ujarnya.

Sementara itu, Ustadz Drs. Tamimudari, MH menyebutkan, tema yang diusung dalam Tausyiah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yakni Spirit Dalam Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai Kemanusiaan, memiliki makna yang sangat luas.

Oleh karena itu, melalui peringatan maulid kali ini, dirinya mengaitkan nilai-nilai kemanusiaan itu dalam aspek rumah tangga.  Karena ada korelasi dengan tugas sebagai Hakim di Pengadilan Agama Pontianak yang banyak mengurus kasus perceraian yang ada di Kalbar khususnya di Kota Pontianak.

“Mudah-mudahan ada manfaatnya, yang saya maksudkan begini, sebagai informasi meskipun Kalbar 60 persen penduduknya muslim, dan 40 persennya non muslim, tapi angka perceraiannya tinggi. Khusus Kota Pontianak saja, rata-rata sehari ada 4 pasang yang bercerai. 4  kali 30 sama dengan 120 pasang, di kali 12 sama dengan 1440 pasang yang bercerai,”ungkapnya.

Ustadz Tamimudari memberikan solusi, apabila istri bertengkar hebat dengan suami dan hampir pada ambang perceraian, Allah SWT memberikan jalan masing-masing utusan suami maupun istri punya itikad baik, untuk Islah atau ‘mendamaikan’.

“Pertanyaanya, pernahkah itu dilakukan, ketika suami-istri bertengkar?, itu yang pertama, niat baik dari utusan-utusan Islah. Ketika ada itikad baik, Allah yang janji. Allah akan memberika  taufik, apa itu Istitho’ah lit tho’ah kemampuan untuk berbuat taat,”paparnya.

Da’i asal Kalimantan Selatan ini memberikan kesimpulan, dalam hal nilai-nilai kemanusiaan dalam aspek rumah tangga antara lain, jika ingin keluarga yang sakinah, agar tidak meninggalkan perintah Sholat, tidak memutuskan tali silahturahim, dan sebisa mungkin menghindari riba.(SS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00