Amatan GMS Di PLTU Jungkat Lancar

KBRN, Pontianak: Hasil pengamatan Gerhana Matahari Sebagian (GMS) yang dilaksanakan Badan Antariksa dan Atmosfer (BPAA) LAPAN Pontianak bersama Lajnah Falakiah Islakal dan Komunitas Fotografer Pontianak Minggu (21/06/2020) sore kemarin berjalan lancar dengan cuaca yang mendukung.

Peneliti Ahli Pertama Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer Pontianak Suraina, S. Si. mengemukakan, proses pengamatan GMS berjalan dengan baik dan sesuai prediksi waktu yang telah di tentukan.

Kendati demikian, tidak di pungkiri ditengah pengamatan terjadi gerimis, namun tidak mempengaruhi seluruh pengamatan. Selain itu, perbedaan beberapa detik dianggap wajar karena prediksi yang disusun mengabaikan faktor lembah dan gunung.

“Dari perhitungan awal sampai akhir, ada perbedaan waktu. Namun, tidak signifikan hanya perbedaan detik saja,” ungkapnya.

Fenomena alam seperti Gerhana Matahari lanjut Suraina, bisa terjadi antara 1 hingga 5 kali dalam satu tahun. Dimana untuk tahun ini saja, ada 2 kali gerhana, yakni Gerhan Matahari Cincin (GMC) dan Gerhana Matahari Total (GMT) pada bulan Desember.

Sayangnya, sebagian masyarakat Indonesia tidak akan dapat menikmati fenomena langka GMT tersebut, dikarenakan tidak melintasi wilayah Indonesia. Sedangkan GMS baru bisa disaksikan oleh masyarakat Indonesia dikatakan Suraina baru akan terjadi 3 tahun kedepan atau pada tahun 2023 mendatang.

“Pada saat itu dengan waktu dan hari yang sama juga terjadi Gerhana Matahari Hibrid. Dimana, di lokasi tertentu masyarakat bisa menyaksikan Gerhana Matahari Cincin dan di sebagian wilayah tertentu lainnya bisa menikmati Gerhana Matahari Total,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00