Memutus Rantai Penyebaran Wabah Virus Corona Dengan Ritual Adat Tolak Bala Suku Dayak Kalimantan Barat....Eps.1

KBRN,  Pontianak : Meluasnya penyebaran wabah virus corona atau lebih dikenal dengan covid-19 berdampak buruk terhadap keberlangsungan hidup manusia. Hampir seluruh negara yang terpapar covid-19 yang awal penyebarannya berasal dari Negara China dibuat kewalahan menangani makluk ciptaan Tuhan yang tak bisa dilihat dengan kasat mata dibutuhkan alat khusus untuk bisa melihatnya. 

Berbagai upaya dilakukan setiap negara dengan segala kemampuan medis tercanggih yang dimiliki agar kematian tidak terjadi, tapi faktanya kematian demi kematian tetap saja terjadi dari hari ke hari bukanya berkurang tapi terus bertambah jumlahnya mencapai ribuan orang. Bahkan di negara yang sudah paling modern sejagat raya seperti United State of America seperti tak berdaya menghadapi covid-19. 

Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia, negara yang kita cintai ini awalnya diprediksi para ahli microbiologi menjadi negara yang bakal aman dari serbuan wabah covid-19 karena memiliki iklim tropis yang tidak cocok untuk tumbuh dan berkembangnya covid-19 atau lebih jelasnya virus corona akan mati setelah terpapar sinar matahari langsung. 

Sayangnya, fakta berbicara berbeda virus menakutkan itu bisa hidup di Indonesia bahkan penyebarannya sudah hampir diseluruh bagian wilayah Indonesia. Juru bicara pemerintah untuk penanganan covid-19, Achmad Yurianto dalam jumpa pers di Graha BNPB Jakarta mengatakan hingga Sabtu sore, 4 April 2020 total ada 2.092 kasus covid-19. 

Tidak hanya pemerintah pusat yang kewalahan mengatasi penyebaran covid-19 kondisi serupa juga dialami pemerintah daerah bahkan lebih parah karena keterbatasan fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang dimiliki. Di Kalbar sendiri berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar,  hingga Sabtu,  4 April 2020 untuk kasus konfimasi positif covid-19 ada 10 orang. Pasien Dalam Pengawasan (PDP)  berjumlah 30 orang dan untuk Orang Dalam Pengawasan (ODP) berjumlah 5.496 orang. 

Minimnya fasilitas kesehatan dan tenaga medis tidak membuat Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berdiam saja, upaya pencegahan dilakukan seperti melakukan penyemprotan Disinfektan disetiap kantor, gedung maupun jalan-jalan. Bilik-bilik Disinfektan maupun alat untuk bersih-bersih cuci tangan juga disebar hampir seluruh pasar-pasar maupun lokasi yang biasa dijadikan tempat kumpul warga. Tapi usaha itu belum juga berhasil, jumlah warga yang terpapar covid-19 terus bertambah. 

Penyebaran wabah covid-19 di Kalimantan Barat secara masif terjadi dari warga ke warga lainnya. Sehingga pemerintah daerah Kalimantan Barat menerapkan strategi sosial distancing atau jaga jarak dengan mengeluarkan himbauan pelarangan berkumpul untuk warga dan menerapkan kerja dirumah untuk Aparatur Sipil Negara. Sayangnya, himbauan gubernur Kalbar,  Sutarmidji tersebut tidak dijalankan warga yang menganggapnya angin saja. Sikap warga yang acuh tak acuh itu ditandai dengan masih berkumpul di cafe-cafe, pergi ke pusat perbelanjaan maupun menggelar resepsi pernikahan. 

Sikap warga yang acuh tak acuh itu memaksa Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat bertindak tegas dengan menurunkan personil gabungan dari Satpol PP,  Kepolisian dan TNI untuk membubarkan setiap ada warga yang berkumpul. Pro dan kontra terhadap sikap tegas aparat menjadi tranding topik dimedia sosial. Bahkan sesama warga netizen juga terpecah ada yang mendukung adapula yang menolaknya. 

Melihat kondisi penyebaran wabah covid-19 yang terjadi di Daerah Kalimantan Barat. Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar mengeluarkan himbauan kepada seluruh DAD Kabupaten dan Kota di Kalbar untuk menggelar ritual "tolak bala" yang diharapkan  bisa memutus rantai penyebaran covid-19. Lalu bagaimana pelaksanaan ritual tolak bala dalam masyarakat suku dayak di Kalbar?!...bersambung. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00