Peringatan HBD 2022, Mendorong Inventarisasi & Kajian Peristiwa Mandor

KBRN, Pontianak: Tanggal 28 Juni 2022 masyarakat Bumi Khatulistiwa kembali memperingati Hari Berkabung Daerah (HBD).

Tahun ini peringatan yang  ke-25 kali sejak terbitnya Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor Sebagai Hari Berkabung Daerah dan Makam Juang Mandor Sebagai Monumen Daerah Kalimantan Barat.

Sesuai Peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pedoman Tata Upacara Hari Berkabung Daerah, peringatan HBD tiap tahun untuk tingkat provinsi terpusat di Makam Juang Mandor di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak.

Tragedi Mandor berkaitan dengan peristiwa yang terjadi 78 tahun silam, tepatnya 28 Juni 1944. Kala itu ribuan warga Bumi Khatulistiwa menjadi korban pembunuhan massal Angkatan Laut Jepang.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap mereka yang menjadi korban sekaligus melestarikan nilai-nilai perjuangan, Pemerintah Daerah Kalimantan Barat kemudian menetapkan 28 Juni sebagai HBD.

Sejauh ini jumlah korban jiwa dalam peristiwa Mandor belum ada angka pasti.

“Beberapa data menyebutkan jumlah bervariasi tapi range-nya antara 2000 hingga 4000,” ujar Pamong Budaya Kesejarahan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kalimantan Barat, Yusri Darmadi di Pontianak, Jumat (24/6/2022) pagi.

Tsuneo Izeki, kata Yusri, seorang penerjemah Jepang saat itu menyebutkan korban tragedi Mandor sebanyak 1.486 orang.

Rujukan lain, lanjut Yusri adalah buku “Tandjungpura Berdjuang” yang diterbitkan Semdam XII/Tanjungpura Tahun 1970. Menurut Dinas Pemakaman Tentara, yang diambil dari keterangan Ketua Pemeliharaan Pemakaman korban Jepang di Mandor (Tn. Mitchel), Kuburan besar Mandor memuat 1.000 orang dengan rincian:

  1. Kuburan nomor 1 berisi  90 orang,
  2. Kuburan nomor 2 berisi 110 orang,
  3. Kuburan nomor 3 berisi 100 orang,
  4. Kuburan nomor 4 berisi  90 orang,
  5. Kuburan nomor 5 berisi 100 orang,
  6. Kuburan nomor 6 berisi  80 orang,
  7. Kuburan nomor 7 berisi  36 orang,
  8. Kuburan nomor 8 berisi 250 orang,
  9. Kuburan nomor 9 berisi 144 orang.

Selain itu, juga ada kuburan-kuburan lain dengan jumlah 452 orang, yaitu:

  1. Sungai Durian berisi 270 orang
  2. Ketapang berisi 150 orang
  3. Belakang KMK, Pontianak berisi 13 orang
  4. Tangsi besar berisi 6 orang.
  5. Belakang Gereja Pontianak berisi 14 orang.  

Kemudian menurut kabar di sepanjang pantai Pasir Panjang, tidak kurang 250 orang yang dibunuh Jepang dan dilempar ke laut.

Dari buku Tandjungpura Berdjuang, secara kuantitas korban pembunuhan terbanyak memang berada di Mandor.

Beberapa tahun belakangan, Yusri memang melakukan penelitian tentang peristiwa Mandor. Dari satu situs yang pernah Yusri baca, angka 20.000 jiwa merupakan korban selama pendudukan Jepang di Kalimantan Barat selama 3 tahun. Jadi bukan korban peristiwa Mandor seluruhnya.  

Jadi, korban jiwa dengan angka di kisaran 2000-an, menurut Yusri, memiliki rujukan yang lebih jelas.

“Karena yang angka 20.000 ada yang mengatakan itu dari seorang turis Jepang,” papar Yusri.

Terlepas dari perbedaan angka korban, Yusri berharap melalui Peringatan HBD tahun ini seluruh instansi pemerintah, swasta maupun masyarakat menanggapi serius SE Gubernur Kalimantan Barat Nomor 460/2225/DINSOS-B tentang Hari Berkabung Daerah untuk mengibarkan bendera setengah tiang dan melakukan upacara bendera

“Satu lagi yang terpenting untuk melakukan inventarisasi dan kajian terhadap peristiwa ini,” harap Yusri.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar